Produk Domestik Regional Bruto Sub Sektor Perdagangan

Skripsi EkonomiAnalisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi  Produk Domestik Regional Bruto Sub Sektor Perdagangan Provinsi Jawa Tengah  Tahun 1985-2009

pertanian Produk Domestik Regional Bruto Sub Sektor Perdagangan Produk Domestik Regional Bruto Sub Sektor Perdagangan pertanian

Latar Belakang Skripsi

Persaingan global yang semakin terbuka menjadikan Sub sektor Perdagangan sebagai ujung tombak dalam perekonomian Jawa Tengah. Menarik bila daerah ini mampu memanfaatkan potensi sub sektorPerdagangan sebagai pemicu peningkatan PDRB Provinsi Jawa Tengah. Sesuai dengan paham merkantalisme yang menganggap perdagangan adalah jalan kemakmuran bagi suatu wilayah.

Pada dasarnya, perdagangan berlangsung kerena hal itu memang mengungtungkan. Setiap orang memiliki kemampuan atau sumber daya yang bervariasi dan berbeda satu sama lain serta keinginan untuk mengonsumsi barang dalam proporsi yang berbeda satu sama lain. Sering kali seseorang menghendaki sesuatu yang tidtesisak dimilikinya dan    hal tersebut bisa diperoleh dari orang lain yang kebetulan juga meningkatkan sesautu dari orang lain yang tidak dimilikinya sendiri. Perbedaan preferensi (kebutuhan, keinginan) sera variasi sumber daya fisik dan finansial yang dimiliki setiap orang membuka peluang bagi berlangsungnya suatu pertukaran atau perdagangan yang menguntungkan kedua belah pihak. Seseorang akan diuntungkan jika ia bisa menukarkan sesuatu yang dimilikinya, yang menurutnya sudah lebih dari cukup, untuk mendapatkan sesuatu yang mendesak dan tidak atau kurang ia miliki guna memenuhi kebutuhan atau keinginan tersebut. Karena seseorang atau suatu keluarga (bahkan suatu masyarakat) pada dasarnya memang mustahil untuk membuat sendiri segala segala sesuatu yang dibutuhkannya  (Todaro dan Smith, 2006: 95).

Perumusan Masalah

Dari latar belakang di  atas dapat dirumuskan berbagai permasalahan sebagai berikut:

  1. Bagaimana pengaruh  ekspor  terhadap Pendapatan Domestik Regional Bruto Sub Sektror Perdagangan di Provinsi Jawa Tengah?
  2. Bagaimana pengaruh jumlah  pasar  terhadap  Pendapatan Domestik Regional Bruto Sub Sektror Perdagangan di Provinsi Jawa Tengah?
  3. Bagaimana pengaruh jumlah penduduk  terhadap  Pendapatan Domestik Regional Bruto Sub Sektror Perdagangan di Provinsi Jawa Tengah?
  4. Bagaimana pengaruh jumlah  perusahaan  terhadap  Pendapatan  Domestik Regional Bruto Sub Sektror Perdagangan di Provinsi Jawa Tengah?

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pendapatan Domestik Regional Bruto Sub Sektor Perdagangan Provinsis Jawa Tengah tahun 1985-2009 dengan menggunakan variabel nilai ekspor,  jumlah pasar,  jumlah penduduk, dan  jumlah perusahaan. Penelitian adalah data sekunder yang tergolong data time series dan bersifat kuantitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan menggunakan teknik kepustakaan yang didapat dari berbagai sumber, seperti BPS Surakarta, BPS Jakarta  dan BPS Yogjakarta serta rujukan dari internet.

Kesimpulan

  1. Variabel jumlah ekspor ternyata mempunyai pengaruh yang signifikan  dab positif  terhadap Pendapatan Domestik Regional Bruto Sub Sektor Perdagangan Jawa Tengah, hal ini sesuai dengan hipotesis penelitian.
  2. Variabel jumlah pasar mempunyai pengaruh yang signifikan dan positif terhadap Pendapatan Domestik Regional Bruto Sub Sektor Perdagangan Jawa Tengah, hal ini sesuai dengan hipotesis penelitian.
  3. Variabel jumlah penduduk mempunyai pengaruh yang signifikan dan positif terhadap Pendapatan Domestik Regional Bruto Sub Sektor Perdagangan Jawa Tengah, hal ini sesuai dengan hipotesis penelitian.
Incoming search terms:

Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Investasi

Skripsi Ekonomi ~ Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Investasi Sektor Properti Kabupaten Sukoharjo Tahun 2003-2010

properti Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Investasi Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Investasi properti

Latar Belakang Skripsi 

Pembangunan ekonomi merupakan sebuah proses multidtesisimensional yang menyangkut reorganisasi dan reorientasi sistem ekonomi serta sosial secara keseluruhan. Di  samping untuk meningkatkan suatu pendapatan dan output, pembangunan juga menyangkut perubahan dalam struktur kelembagaan, struktur  sosial, administrasi, perubahan sikap, adat serta kepercayaan (Todaro 2000:20).

Investasi merupakan salah satu faktor pendukung dalam tahap pembangunan  yang pada akhirnya dapat meningkatkan  pertumbuhan ekonomi. Upaya pemerintah untuk meningkatkan perekonomiannya  dengan mendorong investasi melaui modal yang masuk dari berbagai pihak. Investasi merupakan penempatan dana di masa kini untuk mendapatkan keuntungan di masa yang akan datang (Tandelilin, 2001: 3).  UnRegiste

Perumusan Masalah

Untuk memberikan pedoman yang jelas dalam arah penelitian dari latar belakang yang diuraikan, maka beberapa masalah yang akan diteliti adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana pengaruh tingkat inflasi, Produk Domestik Regional Bruto dan pertumbuhan jumlah penduduk  terhadap investasi sektor properti kabupaten Sukoharjo?

2. Berapa besar pengaruh masing-masing variabel tersebut terhadap investasi sektor properti kabupaten Sukoharjo?

Tujuan Penelitian 

Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh beberapa faktor penentu  investasi sektor properti di Kabupaten Sukoharjo. Variabel yang diteliti adalah  inflasi,  Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), dan pertumbuhan jumlah penduduk Kabupaten Sukoharjo. Hal tersebut mengingat bahwa  investasi sektor properti  peranan penting dalam pembangunan ekonomi Kabupaten Sukoharjo. Data sekunder dari Bank Indonesia dan instansi-instansi lain yang terkait, dikumpulkan dan  dianalisis dengan regresi  semi log.  Untuk ketepatan analisis selanjutnya dilakukan  uji asumsi klasik  (uji multikolinearitas, uji heterokedastisitas, dan uji autokorelasi), dan uji statistik  (uji t, uji F, koefisien determinasi).

Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengujian secara empiris dalam penelitian ini, maka akan disajikan beberapa kesimpulan. Adapun kesimpulan dari penelitian mengenai analisis faktor-faktor yang mempengaruhi  investasi sektor properti kabupaten sukoharjo tahun 2003-2010 adalah sebagai berikut:

1.  Perkembangan  investasi sektor properti Kabupaten Sukoharjo  yang fluktuatif karena pernah mengalami penurunan di tahun 2004 kemudian setelah itu mengalami kenaikan terus menerus dan tahun 2010 yang paling besar yaitu  86.476  juta. Kenaikan  investasi sektor properti Kabupaten Sukoharjo yang signifikan menunjukkan perkembangan dan kesempatan bagi masyarakat untuk menanamkan modalnya di sektor properti. Penelitian kali ini variabel investasi sektor properti di Kota Surakarta direpresentasikan melalui posisi kredit Rupiah dan valuta asing bank umum dan BPR menurut sektor properti di Kabupaten Sukoharjo.

2.  Berdasarkan hasil analisis regresi menggunakan model  regresi  untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi  investasi sektor properti Kabupaten Sukoharjo tahun 2003-2010, dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:

a.  Pengaruh  Inflasi Kabupaten Sukoharjo  terhadap  Investasi Sektor Properti Kabupaten Sukoharjo Hasil estimasi atau regresi ditunjukkan bahwa variabel inflasi tidak mempunyai pengaruh yang signifikan pada derajat signifikansi 5% terhadap investasi sektor properti di Kabupaten Sukoharjo. Tidak sesuai dengan hipotesis pertama yang menyatakan tentang adanya pengaruh inflasi yang signifikan terhadap investasi sektor poperti di Kabupaten Sukoharjo tidak sesuai dengan hasil estimasi atau regresi yang diperoleh disebabkan oleh harga akan tanah yang ditentukan oleh pemilik itu sendiri sehingga inflasi tidak terlalu berpengaruh.

b.  Pengaruh  PDRB Kabupaten Sukoharjo  terhadap  Investasi  Sektor Properti Kabupaten Sukoharjo  Hasil estimasi atau regresi menunjukkan bahwa variabel PDRB mempunyai pengaruh yang signifikan dan positif pada derajat signifikansi 5% terhadap investasi sektor properti di Kabupaten Sukoharjo.  Hal ini sesuai dengan hipotesis yang kedua menyatakan tentang adanya pengaruh PDRB yang signifikan dan positif terhadap investasi sektor poperti di Kabupaten Sukoharjo.  Perkembangan investasi sektor properti yang maju pesat di tunjang dengan daerah yang masih terdapat area untuk mendirikan bangunan.

c.  Pengaruh  Pertumbuhan Jumlah Penduduk Kabupten Sukoharjo Terhadap Investasi Sektor Properti Kabupaten Sukoharjo Hasil estimasi atau regresi menunjukkan bahwa variabel pertumbuhan jumlah penduduk tidak mempunyai pengaruh yang signifikan  pada derajat signifikansi 5% terhadap investasi sektor properti di Kabupaten Sukoharjo. Hal ini tidak sesuai dengan hipotesis yang ketiga menyatakan tentang adanya pengaruh pertumbuhan jumlah penduduk yang signifikan terhadap investasi sektor poperti di Kabupaten Sukoharjo.

Berdasarkan hasil estimasi menggunakan model  regresi  untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi  investasi sektor properti Kabupaten Sukoharjo, hanya variabel PDRB saja yang memiliki pengaruh terhadap investasi sektor properti di Kabupaten Sukoharjo dibandingkan dengan variabel-variabel independen lainnya, dimana setiap perubahan yang terjadi pada PDRB sebesar 1% maka akan menyebabkan perubahan investasi sektor properti di Kabupaten Sukoharjo sebesar 7,838507%.

Incoming search terms:

Analisis Penanaman Modal Asing

Skripsi Ekonomi~ Analisis Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Penanaman Modal Asing Di Daerah Istimewa Yogyakarta Periode 1986 2011

modal-ventura Analisis Penanaman Modal Asing Analisis Penanaman Modal Asing modal ventura

Latar Belakang Skripsi 

Sumber alam suatu Negara terbelakang disebut kurang terolah dalam arti sumber tersebut tidtesisak atau kurang dimanfaatkan. Suatu Negara mungkin saja kekurangan sumber alam, tetapi tidak dalam arti relatifnya. Meskipun suatu Negara miskin dalam sumber alam  tetapi ada kemungkinan di masa depan Negara itu akan berubah menjadi pemilik sumber alam yang besar sebagai hasil penemuan sumber yang sekarang belum diketahui atau karena penggunaan sumber yang ada dengan cara baru. Negara terbelakang sangat mengemukakan  satu sama lainnya.  Karena posisi demografi dan kecenderungannya. Hal mana disebabkan oleh luas, kepadatan, struktur usia dan laju pertumbuhan pnduduk yang beragam.

Namun demikian ada satu kesamaan ciri yaitu pertambahan penduduk yang cepat. Bersamaan dengan tingkat pendapatan yang rendah dan nihilnya tingkat pemupukan modal, maka kian lengkaplah kesulitan bagi Negara seperti itu menopang pertambahan penduduknya. Dan pada saat yang sama output akan meningkat sebagai hasil perbaikan teknologi dan pemupukan modal yang berakibat pada tak adanya perbaikan taraf hidup yang cukup berarti. Sebagian besar Negara terbelakang mempunyai potensi pertumbuhan penduduk yang tinggi serta memiliki tingkat kematian (mortalitas) yang cenderung menurun. Kepadatan penduduk di daerah pertanian begitu tinggi dibandingkan dengan luas tanah yang dapat ditanami. Kelangkaan tanah dalam kaitannya dengan besar penduduk menyebabkan penanaman berlebihan dan penggarapan tanah tanpa sela dengan demikian berarti justru menghambat kemajuan ekonomi.  Di Negara terbelakang dijumpai pengangguran dan pengangguran tersembunyi dalam jumlah besar.  Pengangguran di kota membengkak seiring dengan urbanisasi dan meningkatnya pendidikan. Akan tetapi sector industri tidak berkembang sejalan dengan pertumbuhan tenaga kerja, sehingga memperbesar pengangguran. Disamping itu ada pula penganggur yang berpendidikan. Mereka gagal mendapatkan pekerjaan karena tegarnya struktur dan tiadanya perencanaan tenaga kerja. Dengan tingkat pertumbuhan rata-rata tahunan penduduk kota sebesar 4,5 %, 20 % adalah penganggur.

Rumusan Masalah Penelitian 

Sejak ditetapkannya Undang-Undang penanaman modal asing tahun 1967 ternyata penanaman modal asing di Indonesia mengalami peningkatan. Oleh karena itu menarik kiranya  bila permasalahan ini dianalisis dan dikaji dengan lebih mendalam, terutama faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan investasi penanaman modal asing di DIY, sehingga untuk masa yang akan datang dapat dikembangkan lagi dengan lebih optimal.  Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perkembangan investasi penanaman modal asing di DIY perlu disusun rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut :

  1. Apakah  Produk  Domestik Regional Bruto (PDRB)  DIY berpengaruh terhadap penanaman modal asing?
  2. Apakah Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) berpengaruh terhadap modal asing?
  3. Apakah tingkat inflasi di Indonesia berpengaruh terhadap penanaman modal asing?
  4. Apakah tingkat suku bunga internasional berpengaruh terhadap penanaman modal asing?

Tujuan Penelitian 

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendapatan domestic regional bruto (PDRB), penanaman  modal dalam negeri (PMDN), inflasi dan suku bunga terhadap penanaman modal asing di Daerah Istimewa Yogyakarta periode 1986-2011.  Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder dari variabel PDRB, PMDN, inflasi, dan suku bunga dari periode 1986-2011 yang penulis peroleh dari berbagai sumber. Model regreasi Ordinary Least Square digunakan untuk pengujian hipotesis, dengan menggunakan metode analisis baik metode kualitatif dan kuantitatif.

Kesimpulan

Berdasarkan uraian yang telah disajikan dalam bab-bab sebelumnya dapat diambil beberapa simpulan sebagai berikut :

  1. PDRB terhadap PMA DIY juga mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan sebesar 3,246. Ini berarti bahwa produk domestik yang berkembang dan dihasilkan oleh DIY cukup mendorong investor asing untuk menanamkan modalnya di DIY.
  2. PMDN sebagai realisasi fisik dari adanya PMA mempunyai pengaruh yang  positif dan signifikan dengan PMA DIY sebesar 3,780. Ini berarti bahwa dengan tersedianya fasilitas PMA, pelaksanaan kegiatan investasi ini dapat berjalan dengan lancar.
  3. Tingkat inflasi tidak berpengaruh signifikan terhadap penanaman modal asing di DIY.
  4. Suku bunga Internasional tidak berpengaruh signifikan terhadap penanaman modal asing di DIY.
  5. Fluktuasi tahunan atas PMA di DIY periode 1986-2011 disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya PDRB, PMDN, inflasi dan tingkat suku bunga internasional.
  6. Dari penelitian yang telah dilakukan diketahui bahwa suku bunga internasional dan tingkat inflasi  di Indonesia tidak mempengaruhi perubahan investasi di DIY.