Analisis Bantuan Khusus Siswa Miskin Di Kabupaten Madiun

Skripsi Pendidikan~ Analisis Bantuan Khusus Siswa Miskin  Di Kabupaten Madiun

BKSTM Analisis Bantuan Khusus Siswa Miskin Di Kabupaten Madiun Analisis Bantuan Khusus Siswa Miskin Di Kabupaten Madiun BKSTM

Latar Belakang Skripsi 

Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 46 yang mengatakan bahwa “Pendanaan pendidikan menjadi tanggung jawab bersama pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat”,  serta Pasal 34 ayat 2 yang isinya “Pemerintah menjamin terselenggaranya wajib belajar minimal pada jenjang pandidikan dasar tanpa memungut biaya”. Hal ini berarti bahwa pemerintah berkewajiban membiayai pendidikan dasar bagi warga negaranya.

Komitmen pemerintah untuk menjaga agar anak-anak dari keluarga miskin dapat tetap bersekolah dan/atau  paling kurang  menyelesaikan pendidikan dasar sembilan tahun, sudah ditunjukkan melalui berbagai fasilitas antara lain  pemberian Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan beasiswa siswa miskin (BSM).

Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah:

  1. Apakah Bantuan Khusus Siswa Miskin berkorelasi terhadap angka melanjutkan?
  2. Apakah Bantuan Khusus Siswa Miskin berkorelasi terhadap Angka Partisipasi Murni?
  3. Apakah Bantuan Khusus Siswa Miskin berkorelasi terhadap Angka Partisipasi Kasar?
  4. Apakah Bantuan Khusus Siswa Miskin berkorelasi terhadap jumlah siswa usia 16 tahun?
  5. Apakah Bantuan Khusus Siswa Miskin berkorelasi terhadap jumlah siswa usia 17 tahun?
  6. Apakah Bantuan Khusus Siswa Miskin berkorelasi terhadap jumlah siswa usia 18 tahun?
  7. Apakah Bantuan Khusus Siswa Miskin berkorelasi terhadap jumlah siswa keseluruhan ( Usia 16 – 18 Tahun )?

Tujuan Penelitian 

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah Bantuan Khusus Siswa Miskin berkorelasi terhadap:

1). Angka Melanjutkan,

2). Angka Partisipasi Murni,

3). Angka Partisipasi Kasar

4). Jumlah siswa usia 16 tahun,

5). Jumlah siswa usia 17 tahun,

6). Jumlah siswa usia 18 tahun,

7). Jumlah siswa keseluruhan (usia 16 – 18 tahun).

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa :

  1. Hubungan yang signifikan antara Angka melanjutkan dengan  BKSM. Hubungan antara variabel Angka melanjutkan (X1) dengan  BKSM (Y) sebesar 0,897 dalam katagori   “sangat kuat”. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa variabel Angka melanjutkan dengan  BKSM mempunyai hubungan sangat kuat sehingga diharapkan mutu pendidikan di Kabupaten Madiun pada tingkat SLTA lebih berhasil.
  2. Hubungan yang signifikan antara Angka Partisipasi Murni dengan  BKSM. Hubungan antara variabel Angka Partisipasi Murni (X2) dengan  BKSM (Y) sebesar 0,179 dalam katagori  “sangat lemah”. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa variabel Angka Partisipasi Murni dengan  BKSM mempunyai hubungan sangat lemah sehingga diharapkan pemerataan pendidikan di Kabupaten Madiun pada tingkat SLTA lebih ditingkatkan kembali.
  3. Hubungan yang signifikan antara Angka Partisipasi Kasar dengan  BKSM.  Hubungan antara variabel Angka Partisipasi Kasar (X3) dengan  BKSM (Y) sebesar 0,193 dalam katagori  “sangat lemah”. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa variabel Angka Partisipasi Kasar dengan  BKSM mempunyai hubungan sangat lemah sehingga diharapkan pemerataan pendidikan di Kabupaten Madiun pada tingkat SLTA lebih ditingkatkan kembali.
  4. Hubungan yang signifikan antara Jumlah Siswa Usia 16 tahun dengan  BKSM.  Hubungan antara variabel Jumlah Siswa Usia 16 tahun (X4) dengan  BKSM (Y) sebesar 0,718 dalam katagori  “kuat”.  Hasil penelitian ini membuktikan bahwa variabel Jumlah Siswa Usia 16 tahun dengan  BKSM mempunyai hubungan kuat sehingga diharapkan  semakin banyak anak usia 16 tahun termotivasi dalam belajarnya.
  5. Hubungan yang signifikan antara Jumlah Siswa Usia 17 tahun dengan  BKSM.  Hubungan antara variabel Jumlah Siswa Usia 17 tahun (X5) dengan  BKSM (Y) sebesar 0,711 dalam katagori  “kuat”. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa variabel Jumlah Siswa Usia 17 tahun dengan  BKSM mempunyai hubungan kuat sehingga diharapkan semakin banyak anak usia 17 tahun termotivasi dalam belajarnya.
  6. Hubungan yang signifikan antara Jumlah Siswa Usia 18 tahun dengan  BKSM. Hubungan antara variabel Jumlah Siswa Usia 18 tahun (X6) dengan  BKSM (Y) sebesar 0,635  dalam  katagori    “kuat”.  Hasil  penelitian ini membuktikan bahwa variabel Jumlah Siswa Usia 17 tahun dengan  BKSM mempunyai hubungan kuat sehingga diharapkan semakin banyak anak usia 17 tahun termotivasi dalam belajarnya.
  7. Hubungan yang signifikan antara Jumlah Siswa Keseluruhan (Usia 16-18 tahun) dengan  BKSM.  Hubungan antara variabel Jumlah Siswa Keseluruhan (X7) dengan  BKSM (Y) sebesar 0,895 dalam katagori  “Sangat kuat”. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa variabel Jumlah Siswa Keseluruhan dengan  BKSM mempunyai hubungan sangat kuat sehingga diharapkan semakin banyak Jumlah Siswa berkemauan dalam meingkatkan pendidikannya.

Pengertian Media Pembelajaran

Pengertian Media Pembelajaran ~ Kata media merupakan bentuk jamak dari medium yang secara harfiah tengah, pengantar, atau perantara. Dalam bahasa Arab media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim pesan dari pengirim pesan. Sedangkan dalam kepustakaan asing yang ada sementra para ahli menggunakan istilah Audio Visual Aids (AVA), untuk pengertian yang sama. Banyak pula para ahli menggunakan istilah Teaching Material atau Instruksional Material yang artinya identik dengan pengertian keperagaan yang berasl dari kata “raga” artinya suatu benda yang dapat diraba, dilihat, didengar, dan diamanati melalui panca indera kita.media pembelajaran Pengertian Media Pembelajaran Pengertian Media Pembelajaran media pembelajaran1

Dan sebelum diambil sebuah kesimpulan mengenai arti dari media pembelajaran ada baiknya penulis memaparkan tentang pengertian media yang telah dirumuskan oleh para ahli pendidikan diantaranya :

  1. Menurut AECT (Assosiation for Educational Communication and Technology). Media merupakan segala bentuk dan saluran yang digunakan dalam proses penyampaian informasi.
  2. Menurut NEA ( National Educational Assosiation). Media adalah bentuk- bentuk komunikasi baik tercetak maupun audio visual serta peralatannya. Media hendaknya dapat dimanipulasi, dapat dilihat, didengar, dan di baca.
  3. Menurut P. Ely dan Vernon S. Gerlach. Media memiliki dua pengertian yaitu arti luas dan sempit. Menurut arti luas yaitu kegiatan yang dapat menciptakan kondisi, sehingga memungkinkan peserta didik dapat memperoleh pengetahuan, ketrampilan, dan sikap yang baru. Dan menurut arti sempit media berwujud grafik, foto, alat mekanik dan elektronik yang digunakan untuk menangkap, memproses, serta menyampaikan informasi.
  4. Menurut Asnawir dan Basyiruddin dalam bukunya yang berjudul Media Pembelajaran, media adalah suatu yang bersifat menyalurkan pesan dan dapat merangsang pikiran dan kemauan audiens (siswa) sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada dirinya.
  5. Menurut Hamidjojo yang dimaksud media adalah semua bentuk perantara yang dipakai orang penyebar, sehingga gagasan itu sampai kepada penerima. Sedangkan Mc Luhan memberikan batasan yang intinya bahwa media sarana yang disebut saluran, karena pada hakekatnya media telah memperluas dan memperpanjang kemampuan manusia untuk merasakan, mendengar dan melihat dalam batas jarak dan waktu tertentu, kini dengan bantuan media batas-batas itu hampir menjadi tak ada. Blacks dan Horelsen berpendapat, media adalah saluran komunikasi atau medium yang digunakan untuk membawa atau menyampaikan suatu pesan, dimana medium itu merupakan jalan atau alat dengan mana suatu pesan berjalan antara komunikator ke komunikan.

Dari beberapa definisi diatas dapat kita simpulkan bahwa media pembelajaran merupakan wadah dari pesan yang oleh sumber atau penyalurnya ingin diteruskan kepada sasaran yaitu penerima pesan tersebut. Bahwa materi yang ingin di sampaikan adalah pesan pembelajarannya serta tujuan yang ingin dicapai adalah terjadinya proses belajar mengajar.

Apabila dalam satu dan hal lain media tidak dapat menjalankan sebagaimana fungsinya sebagai penyalur pesan yang diharapkan, maka media tersebut tidak efektif dalam arti tidak mampu mengkomunikasikan isi pesan yang diinginkan dan disampaikan oleh sumber kepada sasaran yang ingin dicapai.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, Cet. IV, Penerbit PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.2003
  2. Oemar Hamalik, Media Pendidikan, Cet VII, PT Citra Aditya Bhakti, Bandung, 1994.
  3. Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, Cet. IV, Penerbit PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.2003
  4. Arif Sadiman, dkk, Media Pengajaran: Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatannya, Ed. I. Cet. III, PT Raja Garfindo Persada, Jakarta,2003.
  5. Ahmad Rohani, Media Intuksional Edukatif, Cet. I, PT Rineka Cipta, Jakarta, 1997.
  6. Asnawir, M Basyirudin Usman, Media Pembelajaran, Ciputat Perss, 2002.
  7. Setyosari Punaji, Sihkobuden, Media Pembelajaran, penerbit Elang Emas, Malang.2005.
Incoming search terms:

Implementasi Program Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI)

Para pengamat pendidikan dan masyarakat merasakan biaya pendidikan program RSBI dan/ atau SBI sangat tinggi (mahal) sehingga menimbulkan diskriminasi terhadap kelompok anak-anak berekonomi lemah namun memiliki kecerdasan lebih. Fakta empiris menunjukkan bahwa jumlah siswa tidak mampu yang menikmati subsidi silang umumnya berjumlah kecil. Selain itu, umumnya satuan pendidikan yang menyelenggarakan program RSBI dan/ atau SBI belum dapat melaksanakan adaptasi maupun adopsi kurikulum Internasional dari negara- negara OECD/ negara maju lainnya.Implementasi Program Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) Implementasi Program Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) gb3

Sekolah Menengah Atas (SMA) merupakan satuan pendidikan atau sub sistem dari jalur pendidikan formal yang dikembangkan pemerintah untuk menyelenggarakan program RSBI dan/ atau SBI sebagai bentuk layanan berkualitas. Oleh karena itu, pada tahun 2008 tepatnya tanggal 3 Juni Dinas P dan K Provinsi Jawa Tengah melalui keputusannya No. 193/DIKMEN/VI/2008 merekomendasikan SMA Negeri 1 Karanganyar menjadi sekolah penyelenggara Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional dengan tujuan mencetak para lulusan yang memiliki daya saing tinggi dan berwawasan Internasional. Selanjutnya tanggal 24 Juni 2009, SMA Negeri 1 Karanganyar resmi ditetapkan sebagai sekolah penyelenggara program Rintisan Sekolah Menengah Atas Bertaraf Internasional (RSMABI) sesuai dengan SK Direktur Pembinaan SMA No. 1823/C.C4/LL/2009.

Berdasarkan pengamatan selama Program Pengalaman Lapangan (PPL) dapat diketahui bahwa SMA Negeri 1 Karanganyar merupakan salah satu sekolah berpotensi di Kabupaten Karanganyar. Adapun visi dan misi SMA Negeri 1 Karanganyar telah berorientasi pada perwujudan insan yang berdaya saing komparatif tinggi secara nasional maupun internasional. Di samping itu, SMA Negeri 1 Karanganyar dapat menyelenggarakan pendidikan bermutu dengan cara memfasilitasi dan mengembangkan potensi para peserta didik maupun tenaga pendidik untuk berprestasi serta menyediakan layanan pendidikan yang baik dengan menerapkan kedisiplinan pada segala aspek.

Sejauh ini SMA Negeri 1 Karanganyar telah menghasilkan output yang berkualitas dan berdaya saing terbukti 70% dari lulusan SMA Negeri 1 Karanganyar dapat melanjutkan jenjang pendidikan di Perguruan Tinggi Negeri, seperti UNS, UGM, UNDIP, ITB, UI, dan lain-lain.

Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian tentang penyelenggaraan RSBI di SMA Negeri 1 Karanganyar dengan judul penelitian Implementasi Program Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) di SMA Negeri 1 Karanganyar.

Perumusan Masalah

  1. Bagaimana pelaksanaan program Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) di SMA Negeri 1 Karanganyar?
  2. Hambatan apa saja yang dihadapi dalam pelaksanaan program Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) di SMA Negeri 1 Karanganyar?
  3. Bagaimana upaya SMA Negeri 1 Karanganyar dalam menghadapi hambatan- hambatan yang terjadi pada pelaksanaan program Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI)?

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan :

  1. Untuk mengetahui pelaksanaan program Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) di SMA Negeri 1 Karanganyar,
  2. Untuk mengetahui hambatan- hambatan penyelenggaraan program Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) dan
  3. Untuk mengetahui  upaya yang dilakukan SMA Negeri 1 Karanganyar dalam menghadapi hambatan pelaksanaan program Rintisan sekolah Bertaraf Internasional (RSBI).

Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan strategi studi kasus tunggal terpancang. Teknik pengumpulan data berupa wawancara, observasi, dan analisis dokumen atau arsip. Pengambilan sample dengan purposive snowball sampling betujuan memperoleh infromasi secara mendalam dan dapat dipercaya dari informan yang telah ditentukan sebelumnya. Keabsahan data diperorel melalui triangulasi sumber dan triangulasi metode dengan menggunakan analisis interaktif.

Hasil Penelitian

Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pelaksanaan program RSBI SMA Negeri 1 Karanganyar sebagai suatu sistem pendidikan memiliki standar layanan pendidikan yang mengacu pada tiga aspek, yaitu:

(1) Input, terdiri atas

  1. Kurikulum, tinjauan kurikulum yang digunakan pada program RSBI SMA Negeri 1 Karanganyar belum dapat mengadopsi dan/ atau mengadaptasi kurikulum internasional melainkan menggunakan KTSP Plus yaitu dengan mengadopsi dan/ atau mengadaptasi materi-materi SNMPTN serta terdapat penambahan penguasaan IT dan bilingual.
  2. Tenaga pendidik dan kependidikan, umumnya kualifikasi pendidikan baik tenaga pendidik maupun kependidikan SMA Negeri 1 Karanganyar telah memenuhi standar, yaitu lebih dari 30% tenaga pendidik berpendidikan S-2 meskipun sebagian besar diantaranya tidak dapat linear dengan latar belakang pendidikan S-1 sedangkan tenaga kependidikan sebagian besar tamatan SMA namun terdapat beberapa yang berpendidikan S-1. Akan tetapi, kompetensi yang dimiliki para tenaga pendidik dan kependidikan dalam berbahasa Inggris masih rendah.
  3. Sarana prasarana, ketersediaan sarana prasarana SMA Negeri 1 Karanganyar belum dapat menunjang proses pembelajaran program RSBI namun hanya sarana prasarana pembelajaran di dalam kelas yang telah terpenuhi secara baik.
  4. Pembiayaan, sumber pendanaan program RSBI SMA Negeri 1 Karanganyar berasal dari pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah daerah, dan masyarakat. Pengalokasian dana dari pemerintah dipergunakan untuk pemenuhan sarana prasana dan pengembangan SDM sedangkan biaya operasional sekolah serta pembangunan gedung dipenuhi melalui iuran rutin orang tua siswa.
  5. Kesiswaan, untuk menjaga kualitas intake RSBI terdapat beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh para calon siswa, antara lain: minimal rata-rata nilai rapor dan Ujian Akhir Negara (UN) SMP minimal 75, mengikuti tes potensi akademik, psycho test, tes keterampilan TIK, dan wawancara bahasa Inggris.

(2) Proses, meliputi

  1. Proses pembelajaran, keberlangsungan proses pembelajaran RSBI SMA Negeri 1 Karanganyar telah berbasis IT, menggunakan bilingual meskipun pelaksanaannya belum optimal, serta terdapat penerapan model-model pembelajaran dengan sumber belajar yang bervariasi.
  2. Penilaian, pelaksanaan penilaian hasil belajar SMA Negeri 1 Karanganyar sesuai dengan standar penilaian yang mengarah pada tiga aspek, yaitu: aspek kognitif, aspek afektif, dan aspek psikomotorik. Selain itu, terdapat pengembangan penilaian hasil belajar yang berbasis IT sedangkan penilaian (evaluasi) program dilakukan oleh pihak-pihak terkait setiap tahunnya.
  3. Pengelolaan, SMA Negeri 1 Karanganyar melakukan pengelolaan sekolah dengan menerapkan Sistem Manajemen Mutu yang dibuktikan dengan perolehan sertifikat ISO versi 9001: 2008 dari NQA UKAS dan sebagai usaha peningkatan mutu sekolah melakukan kerja sama dengan sekolah/ lembaga/ institusi berataraf internasional.

(3) Output, terdiri atas

  1. Akreditasi, perolehan angka akreditasi SMA Negeri 1 Karanganyar sebesar 96 telah melebihi standar minimal akreditasi RSBI yaitu 95.
  2. Kompetensi lulusan, satuan pendidikan SMA Negeri 1 Karanganyar memiliki angka kelulusan setiap tahun mencapai 100% dan lulusan yang diterima Perguruaan Tinggi Negeri (PTN) maupun kedinasan untuk tiga tahun terakhir secara berturut-turut ditahun 2009 sebesar 63%, tahun 2010 sebsar 92%, dan tahun 2011 sebesar 70%.

Selain itu, standar kelulusan SMA Negeri 1 Karanganyar telah melebihi SNP (Standar Nasional Pendidikan) terbukti KKM untuk setiap mata pelajaran adalah 75. Penyelenggaraan RSBI di SMA Negeri 1 Karanganyar tidak selamanya berjalan dengan lancar. Hal ini terbukti dengan adanya hambatan-hambatan yang dirasakan SMA Negeri 1 Karanganyar seperti belum dapat mengadopsi dan/ atau mengadaptasi kurikulum internasional, mayoritas kemampuan tenaga pendidik dan kependidikan dalam berbahasa Inggris masih tergolong rendah, minimnya optimalisasi para tenaga pendidik dalam menggunakan sarana prasarana pembelajaran yang telah tersedia, minimnya pengertian masyarakat (stakeholders) terhadap fase pengembangan RSBI SMA Negeri 1 Karanganyar, dan belum terpenuhinya sarana prasarana secara keseluruhan.

Upaya SMA Negeri 1 Karanganyar untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas penyelenggaraan RSBI dengan cara meningkatkan hubungan kerja sama dengan sekolah bertaraf internasional dalam kegiatan adopsi dan/ atau adaptasi kurikulum internasional, meningkatkan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan melalui pemberian pelatihan-pelatihan yang berupa pelatihan bahasa Inggris dalam rangka peningkatan kemampuan berbahasa Inggris agar pembelajaran yang berbilingual dapat terlaksana kemudian untuk meningkatkan kemampuan mengoperasikan IT sekolah memberikan pelatihan IT.

SMA Negeri 1 Karanganyar menyelenggarakan In House Training kepada para pendidik dalam hal pengembangan silabus dan pendampingan bimbingan Olimpiade Sains Nasional (OSN). Selain itu, para tenaga pendidik diwajibkan untuk mengikuti kegiatan seminar dan workshop yang berkaitan dengan pengembangan kompetensi, inovasi pembelajaran, serta pengembangan metode pembelajaran. Sekolah berusaha membangun komunikasi dua arah antara sekolah dengan masyarakat (stakeholders) agar dapat terjalin hubungan kerja sama yang baik. Untuk pemenuhan sarana prasarana SMA Negeri 1 Karanganyar melakukan perbaikan maupun pengadaan agar dapat menunjang jalannya proses pembelajaran.

Kesimpulan Penelitian

Simpulan penelitian ini adalah pelaksanaan program RSBI SMA Negeri 1 Karanganyar telah berjalan sesuai dengan pedoman yang ada meskipun masih terdapat beberapa komponen yang belum dapat memenuhi ketentuan indikator kinerja kunci tambahan. Selain itu, adanya hambatan dalam pelaksanaan RSBI mengakibatkan penyelenggaraan program RSBI SMA Negeri 1 Karanganyar belum dapat optimal dan efektif. Oleh karena itu, SMA Negeri 1 Karanganyar melakukan berbagai upaya untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas penyelenggaraan program RSBI.

Incoming search terms:

Pelaksanaan Pembelajaran di Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 6 Surakarta

Pelaksanaan Pembelajaran di Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 6 Surakarta Pelaksanaan Pembelajaran di Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 6 Surakarta future imageSMK Negeri 6 Surakarta yang merupakan salah satu Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional menjadi fenomena yang menarik bagi semua kalangan. Perubahan status sekolah yang akan bertaraf internasional ini merupakan langkah awal yang menjadi tanggung jawab besar dalam pelaksanaannya untuk menghasilkan lulusan siswa-siswa berpestasi, terlatih dan menguasai kemampuan- kemampuan bertaraf nasional plus internasional sekaligus, yang dapat ditunjukkan melalui penguasaan SNP Indonesia dan penguasaan kemampuan-kemampuan kunci yang diperlukan dalam era global.

Banyak tuntutan yang harus dipenuhi dalam pelaksanaan pembelajaran di Sekolah Bertaraf Internasional ini. Selain kompetensi tenaga pendidik yang diharapkan dapat berstandar internasional, pengadaan fasilitas-fasilitas pembelajaran juga diharapkan memadai untuk menunjang kegiatan belajar- mengajar. Dan juga siswa-siswa yang merupakan input diharuskan merupakan input yang berkualitas tinggi sehingga dapat mengikuti pelaksanaan pembelajaran bertaraf internasional yang akan dilakukan. Sehubungan dengan hal tersebut, maka sudah menjadi tanggung jawab bersama dari pihak sekolah, pendidik dan anak didik di SMK Negeri 6 Surakarta dalam pengembangan diri untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam pelaksanaan pembelajaran agar nantinya output yang dihasilkan dapat bersaing tidak hanya berkualitas nasional saja juga harus mampu bersaing di internasional sebagai tuntutan dari era globalisasi.

Dari permasalahan tersebut diatas, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian di SMK Negeri 6 Surakarta dengan latar belakang masalah: “PELAKSANAAN PEMBELAJARAN DI RINTISAN SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL (RSBI) SMK NEGERI 6 SURAKARTA”.

 

PerumusanMasalah

Menurut Jujun S Suriasumantri (2001) perumusan masalah merupakan upaya untuk menyatakan secara tersurat pertanyaan-pertanyaan apa saja yang ingin dicari jawabannya. Sehingga dalam hal ini masalah harus dipikirkan, dirumuskan,dan dicarikan jawabannya secara jelas. Berdasarkan latar belakang tersebut diatas peneliti merumuskan masalah sebagai berikut :

  1. Bagaimanakah pelaksanaan pembelajaran di Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) SMK Negeri 6 Surakarta?
  2. Apa saja faktor-faktor penunjang dan faktor-faktor penghambat dalam pelaksanaan pembelajaran di Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) SMK Negeri 6 Surakarta?
  3. Bagaimanakah cara-cara mengatasi faktor-faktor penghambat dalam pelaksanaan pembelajaran di Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) SMK Negeri 6 Surakarta?

 

Tujuan Penelitian

Menurut Jujun S Suriasumantri (2001), Tujuan penelitian merupakan  pernyataan mengenai ruang lingkup dan kegiatan yang akan dilakukan berdasarkan masalah yang telah dirumuskan. Jadi setiap kegiatan yang dilakukan pastilah untuk mencapai suatu tujuan yang ingin dicapai. Demikian pula penelitian ini, juga tidak terlepas dari tujuan yang ingin dicapai.

Berdasarkan perumusan masalah yang dikemukakan diatas, maka yang menjadi tujuan penelitian ini adalah:

  1. Untuk mendeskripsikan tentang pelaksanaan pembelajaran di Rintisan Sekolah ?Bertaraf Internasional (RSBI) SMK Negeri 6 Surakarta.
  2. Untuk mengetahui faktor-faktor penunjang dan faktor-faktor penghambat ?dalam pelaksanaan pembelajaran di Rintisan Sekolah bertaraf Internasional ?(RSBI) SMK Negeri 6 Surakarta.
  3. Untuk mengetahui cara-cara mengatasi faktor-faktor penghambat dalam ?pelaksanaan pembelajaran di Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) SMK Negeri 6 Surakarta.

 

Metode Penelitian

Bentuk penelitian yang digunakan adalah kualitatif, sedangkan metode penelitian adalah metode deskriptif dengan strategi tunggal terpancang. Sumber data yang digunakan terdiri dari informan, tempat dan peristiwa, dan dokumen. Teknik sampling yang digunakan adalah teknik sampel bertujuan (purposive sampling)dan Teknik bola salju (snow ball sampling). Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi langsung, dan dokumentasi. Untuk mengukur validitas data digunakan triangulasi data dan metode. Teknik analisis data menggunakan model analisis interaktif.

 

Hasil Penelitian

Hasil penelitian menunjukkan bahwa:

Pelaksanaan pembelajaran di RSBI SMK Negeri 6 Surakarta dipengaruhi oleh komponen-komponen pembelajaran yang terdiri dari: Kurikulum KTSP Spektrum, Kompetensi Guru, Kompetensi Siswa, Bahan pembelajaran berupa modul, Media pembelajaran bervariasi, Metode Pembelajaran inovatif, Lingkungan Pembelajaran kondusif, Evaluasi Pembelajaran yang valid. Sistem bilingual dan moving class belum diterapkan dalam setiap pelaksanaan pembelajaran.

Faktor penunjang dalam pelaksanaan pembelajaran di RSBI SMK Negeri 6 Surakarta:

  1. Tenaga pendidik yang berkualitas secara akademis dan berpengalaman serta berprestasi.
  2. Lingkungan sekolah yang kondusif dan lahan yang luas menjadi alternatif dalam melaksanakan pembelajaran.
  3. SMK Negeri 6 Surakarta telah bersertifikat ISO 9001:2000

Faktor penghambat dalam pelaksanaan pembelajaran di RSBI SMK Negeri 6 Surakarta adalah

  1. Belum sempurnanya proses adaptasi para tenaga pendidik dan anak didik dalam perubahan paradigma pembelajaran yang menjadi pembelajaran model RSBI.
  2. Terbatasnya skill individu tenaga pendidik dan anak didik.
  3. Komponen-komponen pembelajaran belum sesuai dengan standar program RSBI.
  4. Cara-cara mengatasi faktor pengahambat dalam pelakanaan pembelajaran di RSBI SMK Negeri 6 Surakarta adalah
    • Perbaikan sumber daya tenaga pendidik melalui pelatihan-pelatihan dan kursus.
    • Peningkatan kualitas anak didik dan sosialisasi program pembelajaran RSBI bagi para siswa.
    • Perbaikan terhadap fasilitas sarana dan prasarana penunjang dalam pelaksanaan pembelajaran RSBI.

Tips Mudah Dalam Menyusun Skripsi Pendidikan

Tips Mudah Dalam Menyusun Skripsi Pendidikan Tips Mudah Dalam Menyusun Skripsi Pendidikan tesisSkripsi Pendidikan – Skripsi merupakan syarat mutlak kelulusan bagi mahasiswa yang menempuh pendidikan Strata Satu (S1) di perguruan tinggi. Apapun jurusan yang diambil, setiap mahasiswa wajib menyusun skripsi untuk memenuhi SKS (Sistem Kredit Semester). Skripsi sendiri memiliki enam Sistem Kredit Semester. Skripsi juga dianggap sebagai titik puncak perjuangan mahasiswa dalam menyelesaikan kuliahnya. Ada banyak pelajaran yang akan diambil dari penyusunan skripsi seperti tidak mudah putus asa, kesabaran, ketekunan, dan lain-lain, yang nantinya akan sangat diperlukan untuk mengahadapi dunia kerja.

Bagi anda yang mengambil jurusan di bidang pendidikan seperti pendidikan Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan sebagainya, tentunya ada langkah-langkah atau metode yang sedikit berbeda dari jurusan yang bukan pendidikan. Hal ini dikarenakan jurusan pendidikan lebih difokuskan pada sistem pengajaran. Biasanya mahasiswa jurusan pendidikan melakukan penelitian di sekolah-sekolah. Misalnya, ada skripsi yang membahas faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja guru dalam mengajar, tentang sistem pendidikan di sekolah tertentu, dan lain sebagainya.

Akan tetapi, dasar-dasar menulis skripsi pendidikan sebenarnya hampir sama dengan penulisan skripsi pada umumnya. Langkah pertama yang harus dilakukan oleh mahasiswa adalah mengajukan judul skripsi kepada dosen pmbimbing. Setelah judul skripsi sudah disetujui.

Langkah kedua adalah mengajukan proposal skripsi, yang kemudian dilanjutkan dengan seminar proposal skipsi. Dalam seminar proposal skripsi ini, mahasiswa menjelaskan garis besar penelitian atau materi yang akan disusun menjadi sebuah skripsi kepada dosen.

Langkah ketiga adalah melakukan penelitian. Selama penelitian, mahasiswa harus mencatat data-data penting yang nantinya akan dianalisa, diolah, dan diambil kesimpulannya. Setelah skripsi selesai disusun, kemudian skripsi tersebut diuji oleh dosen pembimbing dan dosen penguji dalam sebuah sidang skripsi. Dalam sidang skripsi tersebut, mahasiswa akan diberi pertanyaan tentang penelitiannya. Kemampuan mahasiswa dalam menjelaskan setiap detail dari skripsi dan mempertahankan argumennya merupakan faktor yang penting untuk menentukan lulus tidaknya skripsi tersebut.

Skripsi pendidikan atau skripsi yang lain memerlukan kecermatan dalam menyusun skripsi. Hal ini karena isi dari sebuah skripsi harus bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Oleh karena itu, mahasiswa hendaknya sering berkonsltasi dengan dosen pembimbing untuk menghindari kesalahan yang fatal saat sidang skripsi. Bisa jadi kesalahan tersebut membuat mahasiswa tidak lulus ujian skripsi sehingga harus mengulang lagi pada semester berikutnya. Oleh karena itu, akan lebih baik apabila mahasiswa yang akan membuat skripsi benar-benar fokus pada penelitiannya dan mengolah datanya dengan benar.