Kontribusi Sektor Pariwisata Terhadap Pertumbuhan Ekonomi

Skripsi EkonomiAnalisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kontribusi Sektor Pariwisata Terhadap Pertumbuhan Ekonomi  Di Kabupaten Wonogiri Periode Tahun 2001-2008

pariwisata Kontribusi Sektor Pariwisata Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Kontribusi Sektor Pariwisata Terhadap Pertumbuhan Ekonomi pariwisata

Latar Belakang Skripsi 

Demi tercapainya cita-cita dan tujuan untuk mensejahteraan dan meningkatkan taraf hidtesisup masyarakat, maka pemerintah dalam melaksanakan pembangunan seharusnya tidak terbatas pada pembangunan sektor perekonomian semata, namun sektor-sektor lain yang saling terkait juga harus diupayakan pembangunanya.

Salah satu sektor yang tergantung pada sektor lain yaitu sektor pariwisata yang sangat tergantung pada stablitas nasional dan jaminan keamanan, tetapi masih belum terlalu diperhatikan dan digarap secara maksimal. Sektor pariwisata yang sangat terkait dengan sektor lain, merupakan suatu tantangan tersendiri bagi pemerintah untuk memberikan yang terbaik bagi “tamu” yang datang berkunjung mulai dari jaminan keamanan dan kenyamanan selama berada di wilayah Indonesia. Industri pariwisata diharapkan mampu menunjukan perananya pada sektor perekonomian, sosial, budaya, penerimaan devisa,

Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka dalam penelitian ini dapat dirumuskan beberapa masalah sebagai berikut:

1.  Bagaimana perkembangan pendapatan sektor pariwisata di Kabupaten Wonogiri periode tahun 2001-2008?

2.  Bagaimana kontribusi sektor pariwisata terhadap pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Wonogiri periode tahun 2001-2008?

3.  Faktor-faktor seperti jumlah wisatawan, lama menginap dan biaya pengelolaan apakah mempengaruhi pertumbuhan sektor pariwisata di Kabupaten Wonogiri?

Tujuan Penelitian 

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kontribusi sektor pariwisata terhadap pertumbuhan ekonomi Kabupaten Wonogiri. Dalam penelitian ini menggunakan jenis data sekunder serta objek yang diteliti adalah 4 data penelitian dari tahun 2001-2008 yaitu jumlah wisatawan, rata-rata lama menginap, biaya pengelolaan pariwisata, pendapatan pariwisata serta pendapatan asli daerah (PAD) KabupatenWonogiri.

Kesimpulan

Berdasarkan uraian pada bab IV, maka dapat disimpulkan hasil penelitian sebagai berikut:

1.  Pekembangan pendapatan pariwisata menunjukkan kecenderungan meningkat. Keadaan ini memberikan gambaran bahwa pendapatan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonogiri cukup baik. Dengan meningkatnya pendapatan tersebut diharapkan memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi kabupaten Wonogiri. Namun pada kenyataannya pendatapan pariwisata tidak semuanya masuk ke Pendapatan Asli Daerah (PAD) karena sebagian masuk ke Pendapatan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah karena masih terdapat beberapa obyek wisata yang menjadi milik pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Sehingga masih diperlukan usaha bagi pemerintah daerah Kabupaten Wonogiri agar aset-aset tersebut dapat segera dijadikan sebagai aset pemerintah daerak Kabupaten Wonogiri.

2.  Kontribusi pendapatan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan terhadap pertumbuhan ekonomi yang dilihat melalui Pendapatan Asli Daerah (PAD) masih mengalami penurunan. Walaupun pendapatan pariwisata dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, namun dilihat dari perhitungan diatas ternyata pendapatan periwisata belum dapat memberikan kontribusi yang besar terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD), karena diimbangi pula kenaikan penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Wonogiri yang sangat tajam dari sektor-sektor lain.

3.  Jumlah wisatawan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap besarnya pendapatan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wnogiri. Sehingga diperlukan usaha Dinas Pariwisata dan Kebudayaan untuk meningkatkan promosi dan perbaikan fasilitas publik obyek wisata, sehingga dapat menarik wisatawan agar berkunjung. Selain itu peningkatan jumlah wisatawan diharapkan  akan berpengaruh terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar dengan penjualan cinderamata maupun dalam penyediaan tempat-tempat hunian untuk wisatawan sehingga pendapatan masyarakat sekitar juga akan meningkat.

4.  Biaya pengelolaan pariwisata mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pendapatan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonogiri. Hal ini disebabkan karena biaya pengelolaan digunakan untuk membiayai semua kegiatan pariwisata di Kabupaten Wonogiri yang dilakukan dalam rangka menarik minat wisatawan, baik wisatawan domestik maupun wisatawan asing untuk meningkatkan pendapatan pariwisata.

Incoming search terms:

Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Kapasitas Fiskal Daerah

Skripsi Ekonomi ~ Analisis Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Kapasitas Fiskal Daerah (Studi Kasus: Tiga Puluh Provinsi  Di Indonesiapada Periode 2001-2005)

fiskal Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Kapasitas Fiskal Daerah Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Kapasitas Fiskal Daerah fiskal

Latar Belakang Skripsi 

Pemberian otonomi daerah dan desentralisasi yang luas, nyata dan bertanggungjawab kepada daerah merupakan dua langkah strategis. Pertama, otonomi daerah dan desentralisasi merupakan jawaban atas permasalahan lokal bangsa Indonesia berupa ancaman disintegrasi bangsa, kemiskinan, ketidtesisakmerataan pembangunan, rendahnya kualitas hidup masyarakat, dan masalah pembangunan sumber daya manusia.

Kedua, otonomi daerah dan desentralisasimerupakan langkah strategis bangsa Indonesia untuk menyongsong era globalisasi ekonomi dengan memperkuat basis perekonomian daerah (Mardiasmo, 2002: 59). Esensi dari pemberian otonomi tersebut adalah desentralisasi keuangan yang dibarengi dengan desentralisasi fiskal dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. Era otonomi daerah ditandai dengan keluarnya Undang-Undang No 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan Undang-Undang No. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Kemudian Undang-Undang No 22 Tahun 1999 telah direvisi dengan Undang-Undang No. 32 Tahun 2004tentang Pemerintah Daerah dan Undang-Undang No. 25 Tahun 1999 telah direvisi dengan Undang-Undang No. 33 Tahun 2004tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.

Perumusan Masalah

Dari uraian latar belakang masalah di atas, dapat diambil pokok permasalahan sebagai berikut :

1.Bagaimana pengaruh Pajak Daerah (PD) terhadap kapasitas fiskal daerah di tiga puluh provinsi di Indonesia pada periode 2001-2005?

2.Bagaimana pengaruh Retribusi Daerah (RD) terhadap kapasitas fiskal daerah di tiga puluh provinsi di Indonesia pada periode 2001-2005?

3.Bagaimana pengaruh Bagi Hasil Pajak (BHP) terhadap kapasitas fiskal daerah di tiga puluh provinsi di Indonesia pada periode 2001-2005?

4.Bagaimana pengaruh Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) terhadap kapasitas fiskal daerah di tiga puluh provinsi di Indonesia pada periode 2001-2005?

5.Bagaimana pengaruh Pajak Daerah (PD), Retribusi Daerah (RD), Bagi Hasil Pajak (BHP), dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang diuji secara bersama-sama terhadap Kapasitas Fiskal Daerah (KFD) di tiga puluh provinsi di Indonesia pada periode 2001-2005?

Tujuan Penelitian 

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh Pajak Daerah, Retribusi Daerah, Bagi Hasil Pajak, dan Produk Domestik Regional Bruto terhadap Kapasitas Fiskal Daerah. Sampai dengan tahun 2005 jumlah provinsi di Indonesia sebanyak tiga puluh tiga provinsi. Adapun periode waktu yang digunakan terdiri dari data time series mulai tahun 2001 hingga 2005 yang akan dikombinasikan dengan data cross section  dari tiga puluh provinsi yang dipilih sebagai daerah sampel. Provinsi yang tidak termasuk dalam penelitian adalah Provinsi Irian Jaya Barat, Kepulauan Riau dan Sulawesi Barat. Alat analisis yang dipergunakan adalah uji regresi berganda dengan metode analisis data panel.

Kesimpulan

Selama ini kemandirian daerah yang kuat diukur dari struktur PAD yang antara lain terdiri dari pajak daerah, retribusi daerah dan BUMD. Penetapan target PAD yang dilakukan selama ini bersifat incremental dan belum pada potensi dan kapasitas penerimaan PAD  yang sesungguhnya sehingga PAD belum optimal menjadi sumber utama dana APBD. Potensi dan kapasitas fiskal merupakan pencerminan kemandirian daerah. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dipaparkan sebelumnya, maka beberapa hal yang dapat disimpulkan dari hasil regresi berganda diatas antara lain adalah:

1.Tanda parameter untuk Pajak Daerah adalah positif yaitu 1,176148 yang akan menunjukkan bahwa apabila Pajak Daerah naik 1 Milyar Rupiah, maka akan mengakibatkan naiknya Kapasitas Fiskal Daerah sebesar 1,176148 Milyar Rupiah, hasil regresi dengan asumsi variabel yang lain tetap (Ceteris Paribus). Sedangkan apabila Pajak Daerah turun 1 Milyar Rupiah, maka akan mengakibatkan menurunnya Kapasitas Fiskal Daerah sebesar 1,176148 Milyar Rupiah, hasil regresi dengan asumsi variabel yang lain tetap (Ceteris Paribus).

2.Tanda parameter untuk Retribusi Daerah adalah positif yaitu 0,285468namun terbukti tidak signifikan. Dengan arti lain Retribusi Daerahtidak memiliki pengaruh yang nyata terhadap Kapasitas Fiskal Daerah. Berarti terjadi penyimpangan dengan hipotesis yang ada dalam penelitian. Tetapi sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Joko Tri Haryanto (2006).

3.Tanda parameter untuk Bagi Hasil Pajak adalah positif yaitu 0,435284yang akan menunjukkan bahwa apabila Bagi Hasil Pajak naik 1 Milyar Rupiah, maka akan mengakibatkan naiknya Kapasitas Fiskal Daerah sebesar 0,435284Milyar Rupiah, hasil regresi dengan asumsi variabel yang lain tetap (Ceteris Paribus). Sedangkan apabila Bagi Hasil Pajak turun 1 Milyar Rupiah, maka akan mengakibatkan menurunnya Kapasitas Fiskal Daerah sebesar 0,435284Milyar Rupiah, hasil regresi dengan asumsi variabel yang lain tetap (Ceteris Paribus).

4.Tanda parameter untuk Produk Domestik Reginal Bruto adalah positif yaitu 0,002311 namun terbukti tidak signifikan. Dengan arti lain Produk Domestik Regional Bruto tidak memiliki pengaruh yang nyata terhadap Kapasitas Fiskal Daerah. Produk Domestik Reginal Bruto tidak sesuai dengan hipotesis penelitian. Tetapi sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Joko Tri Haryanto (2006).

5.Uji F menunjukan bahwa model cukup bagus, karena Fhitung (5299,503) > Ftabel (2,45)yang berarti secara bersama-sama variabel independen yaitu Pajak Daerah (PD), Retribusi Daerah (RD), Bagi Hasil Pajak (BHP), dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) berpengaruh terhadap variabel dependen yaitu Kapasitas Fiskal Daerah (KFD). Dengan besarnya nilai R2

sebesar 0,992757berarti 99,28% variasi variabel independen (Pajak Daerah (PD), Retribusi Daerah (RD), Bagi Hasil Pajak (BHP), dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)) mampu menjelaskan variasi dependen (Kapasitas Fiskal Daerah (KFD)) dan sisanya 0,72% dipengaruhi variabel lain diluar model.

Incoming search terms:

Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Kemiskinan

Skripsi EkonomiAnalisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi  Tingkat Kemiskinan  (Studi Kasus 35 Kabupaten/Kota Di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011)

kemiskinan Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Kemiskinan Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Kemiskinan kemiskinan

Latar Belakang Skripsi 

Dilihat dari sisi etimologis, “kemiskinan” berasal dari kata “miskin” yang artinya  berharta benda dan  serba kekurangan. Departemen Sosial dan Badan Pusat mendefinisikan kemiskinan dari perspektif kebutuhan dasar. Kemiskinan sebagai ketidtesisakmampuan individu dalam memenuhi kebutuhan dasar minimal untuk hidup layak (BPS dan Depsos, 2002). Lebih jauh disebutkan kemiskinan merupakan sebuah kondisi yang berada dibawah garis nilai standar kebutuhan minimum, baik untuk makanan dan non-makanan yang disebut garis kemiskinan (poverty line) atau batas kemiskinan (poverty treshold).

Jadi, seseorang dikatakan miskin jika pendapatannya berada di bawah Problematika kemiskinan terus menjadi masalah besar sepanjang sejarah sebagai sebuah negara. Dalam negara yang salah urus, tidak ada persoalan yang lebih besar, selain persoalan kemiskinan. Mengamati jumlah dan populasi di bawah garis kemiskinan penduduk miskin di Indonesia pada periode tahun 2010-2011 (Tabel 1.1) tingkat kemiskinan mengalami kecenderungan menurun. Berdasarkan laporan BPS, penduduk miskin tingkat nasional dalam periode 2010-2011 tingkat kemiskinan turun dimana pada tahun 2010 sekitar 13,33 persen dan pada tahun 2011 sekitar 12,49 persen. peristiwa seperti ini bisa menjadi tolak ukur bagi pemerintah, apakah realisasi dalam mengurangi kemiskinan berjalan dengan berkelanjutan atau tidak, walaupun fenomena tingkat kemiskinan setiap tahun menurun, pemerintah juga jangan merasa puas dengan hasil yang ada, tetapi berkelanjutan dalam mengatasi kemiskinan adalah penting, karena apabila harga barang-barang kebutuhan pokok naik di tahun mendatang maka akan terjadi inflasi dan berakibat kepada penduduk yang tergolong tidak miskin dengan penghasilan disekitar garis kemiskinan dan berakibat pergeseran posisi menjadi miskin. 

Rumusan Masalah

1.  Bagaimana pengaruh pertumbuhan ekonomi terhadap tingkat kemiskinan secara parsial?

2.  Bagaimana pengaruh upah minimum kabupaten/kota terhadap tingkat kemiskinan secara parsial?

3.  Bagaimana pengaruh tingkat pengangguran terhadap kemiskinan secara parsial?

4.  Bagaimana pengaruh pertumbuhan ekonomi, upah minimum kabupaten/kota dan tingkat pengangguran secara bersama-sama?

Tujuan Penelitian 

Penelitian ini bertujuan untuk  mengetahui pengaruh pertumbuhan ekonomi (Upah Minimum Kabupaten/Kota  (U) dan tingkat pengangguran  (P)  tingkat kemiskinan 35 Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah Diduga secara parsial variabel Upah Minimum Kabupaten/Kota  dan pengangguran berpengaruh secara signifikan terhadap  tingkat  kemiskinan  variabel Pertumbuhan Ekonomi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat kemiskinan 35 Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yaitu suatu penelitian  yang bertujuan  untuk memperoleh pembuktian dari sebuah hipotesis. Pengumpulan data  diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS).  

Kesimpulan

Berdasarkan penelitian terhadap Tingkat kemiskinan 35 Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011 dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Dengan tingkat signifikasi 5 persen, variabel pertumbuhan ekonomi tidak signifikan terhadap kemiskinan. Hal ini berarti hipotesis yang menyatakan bahwa Pertumbuhan Ekonomi berpengaruh tidak signifikan terhadap kemiskinan, telah terbukti .

2. Dengan tingkat signifikasi 5 persen, variabel Upah Minimum Kabupaten/Kota berpengaruh signifikan terhadap kemiskinan. Hal ini berarti hipotesis yang menyatakan bahwa upah minimum kabupaten/kota berpengaruh signifikan terhadap kemiskinan, telah terbukti.

3. Dengan tingkat signifikasi 5 persen, variabel pengangguran berpengaruh signifikan terhadap kemiskinan. Hal ini berarti hipotesis yang menyatakan bahwa pengangguran berpengaruh signifikan terhadap kemiskinan. Hal ini berarti hipotesis yang menyatakan bahwa pengangguran berpengaruh signifikan terhadap kemiskinan, telah terbukti.

4. Variabel Pertumbuhan Ekonomi, Upah Minimum Kabupaten/Kota dan pengangguran secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap kemiskinan, telah terbukti.

Incoming search terms:

Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Konsumsi Masyarakat

Skripsi Ekonomi ~ Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Konsumsi Masyarakat Di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2003-2007

konsumsi masyarakat Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Konsumsi Masyarakat Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Konsumsi Masyarakat konsumsi masyarakat

Latar Belakang Skripsi 

Keynes berpendapat bahwa pengeluaran konsumsi rumah tangga sangat dipengaruhi oleh besarnya Pendapatan Nasional yang maknanya bahwa pengeluaran konsumsi rumah tangga akan naik secara profesional bila terjadi peningkatan pendapatan nasional . Kenaikan pengeluaran konsumsi rumah tangga tersebut selalu lebih kecil dari kenaikan pendapatan. Besarnya kenaikan pengeluaran konsumsi itu tergantung dari hasrat keinginan masyarakat tersebut dalam berbagai konsumsi yang disebut Propensity to consume. (Guritno, 1984:19).

Menurut Friedman dan Modigliani, bahwa setiap individtesisu akan memperolah kepuasan yang lebih tinggi apabila mereka dapat mempertahankan pola konsumsi yang stabil daripada kalau harus mengalami kenaikan dan penurunan dalam konsumsi mereka. Tetapi Modigliani melanjutkan dengan menyatakan bahwa orang akan berusaha menstabilkan tingkat konsumsi mereka sepanjang hidupnya dan juga menganggap penting peranan  kekayaan atau asset sebagai penentu tingkah laku konsumsi.

Perumusan Masalah

1.Apakah variabel  jumlah pendapatan riil berpengaruh  terhadap tingkat konsumsi masyarakat  di jawa tengah pada tahun 2003 ­ 2007   ?

2.Apakah variabel tingkat suku bunga riil berpengaruh terhadap tingkat konsumsi masyarakat di jawa tengah pada tahun 2003 ­ 2007 ?

3.Apakah variabel tingkat inflasi berpengaruh terhadap tingkat konsumsi masyarakat di jawa tengah pada tahun 2003 ­ 2007  ?

4.Apakah variabel  jumlah pendapatan riil, suku bunga riil dan inflasi bersama ­sama berpengaruh  terhadap tingkat konsumsi masyarakat  di jawa tengah pada tahun 2003 ­ 2007   ?

Tujuan Penelitian 

Secara umum tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah ingin mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi konsumsi masyarakat di Jawa Tengah pada tahun 2003-2007.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengujian secara empiris dalam penelitian ini, maka disajikan beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1. Pengaruh Pendapatan Riil Terhadap Konsumsi Riil Masyarakat di Provinsi Jawa Tengah.  Pada persamaan konsumsi riil masyarakat, hipotesis yang menyatakan adanya hubungan positif dan signifikan antara Pendapatan riil dengan konsumsi riil ternyata terbukti kebenarannya.  Pendekatan GLS menunjukkan hasil yang sama yakni Pendapatan riil berpengaruh positif dan signifikan terhadap konsumsi pada derajat signifikansi 5% ,yaitu pada tingkat koefisien sebesar 0.068135, yang berarti pendapatan riil masyarakat menyumbang perubahan atau kenaikan konsumsi riil sebesar 0,068%  Hasil ini juga mendukung temuan tiga penelitian terdahulu yang menyatakan bahwa pendapatan merupakan faktor penting yang mempengaruhi konsumsi masyarakat di negara berkembang. Pendapat ini didukung dengan bukti bahwa pendapatan riil berpengaruh signifikan terhadap variabel konsumsi Indonesia dan wilayah eks­Karesidenan Surakarta.

2.Pengaruh Tingkat Suku Bunga Riil Terhadap Konsumsi Rill Masyarakat Pada persamaan konsumsi masyarakat, hipotesis yang menyatakan adanya hubungan negatif dan signifikan antara Tingkat Suku Bunga dengan konsumsi ternyata terbukti kebenarannya.

Pendekatan data panel menggunakan GLS menunjukkan hasil yang sama yakni Tingkat Suku Bunga berpengaruh secara signifikan terhadap konsumsi riil pada derajat signifikansi 5%, dengan tingkat koefisien sebesar 0,00000037 Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat cenderung masih menghiraukan suku bunga tabungan yang ditawarkan perbankan. Suku bunga tabungan selama periode penelitian cenderung naik, jadi nasabah akan mendapatkan keuntungan dari suku bunga yang ditawarkan karena inflasi yang lebih tinggi. Suku bunga masih efektif dalam meningkatkan konsumsi.

3.Pengaruh Tingkat Inflasi Terhadap Konsumsi Masyarakat. Pada persamaan simpanan masyarakat di perbankan, hipotesis yang menyatakan adanya hubungan negatif dan signifikan antara Tingkat Inflasi dengan konsumsi ternyata tidak sesuai. Pendekatan data panel menggunakan GLS menunjukkan hasil, yakni Tingkat Inflasi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap konsumsi pada derajat signifikansi 5%. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat cenderung tidak menghiraukan inflasi yang terjadi dalam hal menabung. Secara umum ini dapat berarti bahwa masyarakat di Provinsi Jawa Tengah masih fokus pada nilai nominal uang dibandingkan dengan nilai riilnya. Hasil tidak signifikan dapat disebabkan oleh adanya bantuan subsidi dari pemerintah, baik berupa potongan harga/ harga subsidi maupun bantuaan langsung berupa uang (BLT), juga telah tersedianya barang substitusi yang lebih hemat.

Incoming search terms:

Analisis Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Fertilitas

Skripsi Ekonomi ~ Analisis Faktor-Faktor Sosial Ekonomi Yang Mempengaruhi Fertilitas Di Kecamatan Polokarto Kabupaten Sukoharjo

fertilitas Analisis Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Fertilitas Analisis Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Fertilitas fertilitas

Latar Belakang Skripsi 

Banyaknya  jumlah  kelahiran  anak  tanpa  ada  usaha-usaha  untuk mengendalikan akan menimbulkan ancaman yang serius bagi kelangsungan hidtesisup manusia.  Diantaranya    ancaman  tersebut  seperti  ledakan  penduduk,  masalah pangan,  pencemaran  lingkungan  serta  penipisan  persediaan  bahan  mentah. Pertumbuhan penduduk yang terlalu cepat mendorong timbulnya  berbagai macam masalah  ekonomi,  sosial  dan  psikologis  serta menghalangi  prospek  tercapainya kehidupan  yang lebih baik.

Total penduduk dunia pada tahun 1998 telah mencapai sekitar 5,9 milliar jiwa,  dan  lebih  dari  empat  perlima  dari  jumlah  tersebut  hidup  dinegara-negara dunia  ketiga,   sedangkan  yang  menghuni  negara-negara  maju  hanya  sekitar seperlimanya. Diantara kedua kedua kelompok negara tersebut terdapat perbedaan tingkat  kelahiran  maupun  tingkat  kematian  yang  sangat  mencolok.  Tingkat kelahiran  di  negara  negara  berkembang  pada  umumnya  sangat   tinggi  yaitu berkisar  antara  30  –  40  untuk  setiap  1000  penduduk,  sedangkan  untuk  negara-negara maju angkanya kurang dari setengahnya.( Todaro, 2000: 230 )

Perumusan Masalah

Berdasarkan  latar  belakang  permasalahan  di  atas  dapat  diambil  suatu perumusan masalah sebagai berikut :

1.  Apakah  ada  pengaruh  yang  signifikan  antara  umur  suami,  umur  istri, pendidikan suami, pendidikan istri,  pendapatan keluarga, status pekerjaan dan  variabel  “antara”  (usia  kawin  pertama,  mortalitas  bayi,  alat kontrasepsi)  terhadap  jumlah  kelahiran  anak  di  Kecamatan  Polokarto Kabupaten Sukoharjo?

2.  Apakah  ada  pengaruh  yang  signifikan  antara  lama  pendidikan  suami, lama pendidikan  istri, pendapatan keluarga dan status pekerjaan  terhadappenggunaan  alat  kontrasepsi  di  Kecamatan  Polokarto  KabupatenSukoharjo?

Tujuan Penelitian 

Tujuan penelitian ini yaitu :

(1) Untuk mengetahui apakah ada pengaruh yang signifikan antara variabel   sosial  ekonomi  yaitu  umur  suami,  umur  istri,  lama  pendidikan  suami,  lama pendidikan istri, pendapatan keluarga, status pekerjaan dan variabel “antara” yaitu umur kawin  pertama,  mortalitas  bayi  ,  dan  alat  kontrasepsi   terhadap  fertilitas,

(2)  Untuk mengetahui apakah ada pengaruh yang signifikan antara variabel sosial ekonomi yaitu  lama pendidikan suami, lama pendidikan istri, pendapatan keluarga dan status pekerjaan terhadap  penggunaan  alat  kontrasepsi.

Kesimpulan

Dari hasil pengujian tabulasi silang dan hasil analisis data yang telah dilakukan dalam meneliti pengaruh umur suami, umur  istri, pendapatan keluarga,  lama pendidikan suami,  lama pendidikan  istri,  status pekerjaan  , usia kawin pertama, mortalitas bayi dan alat kontrasepsi   terhadap anak lahir hidup (fertilitas) di kecamatan Polokarto Kabupaten Sukoharjo. Dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1.  Dari  hasil  pengujian  tabulasi  silang  ,  terdapat  hubungan  yang   positip  antara umur  suami,   umur  istri, pendapatan keluarga,  status pekerjaan, dan mortalitas bayi    terhadap  jumlah kelahiran anak, sedangkan  lama pendidikan suami,  lama pendidikan istri, umur kawin pertama dan alat kontrasepsi berhubungan negatif terhadap  jumlah kelahiran anak.

2.  Dari hasil uji F (uji satu sisi) diperoleh kesimpulan bahwa secara bersama-sama terdapat  pengaruh  yang  signifikan  antara  umur  suami,  umur  istri,  lama pendidikan suami,  lama pendidikan  istri, pendapatan keluarga, status pekerjaan dan  variabel  “  antara”    (umur  kawin  pertama,  mortalitas  bayi  dan  alat kontrasepsi)  terhadap  jumlah  kelahiran  anak  di  Kecamatan  Polokarto  , Kabupaten Sukoharjo.

3.  Dari hasil uji t (uji dua sisi) diperoleh kesimpulan bahwa secara individual tidak terdapat  pengaruh  yang  signifikan  antara  umur  suami,  umur  istri,  dan  lama pendidikan suami terhadap jumlah kelahiran anak.

4.  Dari  hasil  uji  t  (uji  dua  sisi)  diperoleh  kesimpulan  bahwa  secara  individual terdapat pengaruh yang  signifikan antara pendapatan keluarga  terhadap  jumlah kelahiran  anak  dengan  pengaruh    positif  sebesar  1,08292E-06  yang  berarti apabila  pendapatan  keluarga  naik  sebesar  1.000  rupiah maka  akan menaikkan jumlah  kelahiran  anak  sebesar  1,08292E-06  satuan.  Lama  pendidikan  istri berpengaruh secara signifikan terhadap jumlah kelahiran anak dengan pengaruh negatif  0,054168 yang berarti apabila tingkat pendidikan naik sebesar 1 tingkat maka akan menurunkan  jumlah kelahiran anak sebesar 0,054168 satuan. Status pekerjaan berpengaruh secara signifikan terhadap jumlah kelahiran anak dengan pengaruh positif sebesar 0,569256 yang berarti apabila status orang yang  tidak  bekerja  meningkat  sebanyak1  orang,  akan  menaikkan  jumlah  kelahiran  anak sebesar  0,569256  satuan.Umur  kawin  pertama  berpengaruh  secara  signifikan terhadap jumlah kelahiran anak dengan pengaruh negatif sebesar 0,042641 yang berarti bahwa dengan penambahan 1  tahun pada variabel umur kawin pertama akan menurunkan  jumlah  kelahiran  anak  sebesar  0,042641  satuan. Mortalitas bayi  berpengaruh  secara  signifikan  terhadap  jumlah  kelahiran  anak  dengan pengaruh  positif  sebesar  0,305013  yang  berarti  apabila  mortalitas  bayi meningkat sebanyak 1 anak maka akan  terjadi kenaikan  jumlah kelahiran anak sebesar  0,305013  satuan.  Alat  kontrasepsi  berpengaruh  secara  signifikan terhadap jumlah kelahiran anak dengan pengaruh positif sebesar 0,419446 yang berarti  apabila  pemakai  alat  kontrasepsi  bertambah  sebanyak  1  orang,  akan menurunkan jumlah kelahiran anak sebesar  0,419446 satuan.

5.  Dari   koefisien  determinasi Majemuk (adjusted  R  square)  =  0,70465  berarti bahwa besarnya  sumbangan  /kontribusi perubahan pada  jumlah kelahiran anak yang  benar-benar  disebabkan  oleh  faktor  umur  suami,  umur  istri,  lama pendidikan suami,  lama pendidikan  istri, pendapatan keluarga, status pekerjaan dan  variabel  “antara“  (umur  kawin  pertama,  mortalitas  bayi,  dan  alat kontrasepsi)  secara  bersama-sama  adalah  70,46%  sedangkan  sisanya  29,54 % adalah disebabkan oleh faktor-faktor lain yang tidak termasuk dalam penelitian.

6.  Dari  hasil  pengujian  dengan model  logit  diperoleh  kesimpulan  bahwa  secara individual  tidak  terdapat  pengaruh  yang  signifikan  antara  lama  pendidikan suami,lama pendidikan  istri dan pendapatan keluarga  dengan penggunaan alat kontrasepsi. Sedangkan status pekerjaan berpengaruh secara signifikan terhadap penggunaan  alat  kontrasepsi   dengan  pengaruh  positif  sebesar  1,7976. Hal  ini berarti  apabila  terjadi  penambahan  status  yang  bekerja  sebesar  1  orang maka akan terjadi kenaikan penggunaan alat kontrasepsi sebesar 1,7976 satuan.

Incoming search terms: