Analisis Brand Loyalty Pelanggan Hotel Suka Marem Surakarta

Skripsi Ekonomi ~ Analisis Brand Loyalty Pelanggan Hotel Suka Marem Surakarta

pelayanan hotel Analisis Brand Loyalty Pelanggan Hotel Suka Marem Surakarta Analisis Brand Loyalty Pelanggan Hotel Suka Marem Surakarta pelayanan hotel

Latar Belakang Skripsi 

Pemasar pada umumnya menginginkan pelanggannya dapat dipertahankan selamanya. Hal ini bertujuan untuk menciptakan loyalitas konsumen yang tinggi atas apa yang dikonsumsinya. Loyalitas merupakan hasil akumulasi pengalaman penggunaan produk ( Durianto dkk,2004:19 ).

Loyalitas konsumen yang tinggi akan menimbulkan  Brand loyalty ( loyalitas merek ). Durianto dkk (2001:126) mengartikan  brand loyalty sebagai “ suatu  ukuran keterkaitan pelanggan terhadap suatu merek ”. Ukuran ini mampu memberikan gambaran tentang mungkin tidtesisaknya seorang pelanggan beralih ke merek yang lain. Bila loyalitas pelanggan terhadap suatu merek meningkat, kerentanan kelompok pelanggan tersebut dari ancaman pesaing pun dapat dikurangi. Dengan demikian, perolehan laba dan kelangsungan perusahaan dapat dipertahankan.  Seiring berkembangnya pariwisata di kota Solo saat ini semakin berkembang pula jasa perhotelan yang ada, sehingga meningkatkan persaingan yang terjadi dalam industri perhotelan. Salah satunya terjadi pada Hotel Suka Marem Surakarta. Persaingan yang semakin ketat ini mengharuskan Hotel Suka Marem Surakarta untuk memperhatikan loyalitas pelanggan. Loyalitas pelanggan yang tinggi selain akan menjamin kelangsungan hidup perusahaan juga diharapkan akan memancing datangnya pelanggan baru karena dampak dari word of mouth ( WOM).

 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, maka permasalahan yang akan dikemukakan penulis adalah:

  1.  Bagaimana tingkatan  Brand Loyalty  pada pelanggan Hotel Suka Marem Surakarta?

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk untuk mengetahui seberapa jauh tingkat loyalitas konsumen selama menginap di  Hotel Suka Marem Surakarta. Penelitian ini dilakukan di Hotel Suka Marem Surakarta yang berlokasi di  Jl. Dr. Sutomo No.11 Surakarta. Sampel yang diambil yang diambil berjumlah 100 orang dan responden yang dijadikan sampel dalam penelitian ini adalah pelanggan Hotel suka Marem Surakarta yang pernah menginap lebih dari satu (1) kali di Hotel Suka Marem Surakarta.Teknik pengambilan sampling dlakukan dengan metode  Purposive Sampling. Metode pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah penyebaran kuesioner, studi pustaka, wawancara dan observasi langsung pada objek penelitian.

 Kesimpulan 

Hasil analisis yang diolah, dengan membagikan angket kepada 100 pelanggan Hotel Suka Marem Surakarta maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

  • Pelanggan Hotel Suka Marem Surakarta yang tergolong switcher  cukup sedikit yaitu 36% dari 100 responden yang diteliti.
  • Sebanyak 58%  dari  responden  yang termasuk kelompok habitual buyer  menyatakan bahwa menginap di Hotel Suka Marem Surakarta dipengaruhi karena faktor kebiasaan.
  •  Pelanggan Hotel Suka Marem Surakarta yang tergolong satisfied buyer sebanyak 88% dari 100 responden yang diteliti. Kondisi ini cukup bagus , karena rata-rata tamu merasa puas saat mereka menginap di Hotel Suka Marem Surakarta
  •  Pelanggan  Hotel Suka Marem Surakarta yang berada pada tingkat  liking the brand  cukup banyak yaitu 87%  dari 100 responden yang diteliti.
  •  Hotel Suka Marem Surakarta mempunyai pelanggan yang paling banyak pada tingkat  committed buyer, yaitu sebanyak 91% atau 91 responden pelanggan Hotel Suka Marem Surakarta. Kondisi ini sangat baik, sebab kebanyakan mereka menyarankan  pada orang lain untuk menginap di Hotel Suka Marem Surakarta.
  •  Walaupun tidak signifikan, analisis pada tingkat  liking the brand bentuk piramida mengalami penurunan.

Analisis Faktor Keuangan Dan Faktor Lingkungan Yang Mempengaruhi Kinerja Keuangan

Skripsi Ekonomi ~ Analisis Faktor Keuangan Dan Faktor Lingkungan  Yang Mempengaruhi Kinerja Keuangan  Pemerintah Daerah  (Studi Kasus pada Kabupaten/Kota Provinsi Jawa Tengah)

akun Analisis Faktor Keuangan Dan Faktor Lingkungan  Yang Mempengaruhi Kinerja Keuangan Analisis Faktor Keuangan Dan Faktor Lingkungan  Yang Mempengaruhi Kinerja Keuangan akun

Latar Belakang Skripsi

Pemberian otonomi kepada daerah memberi keleluasaan daerah untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dengan tujuan agar kesejahteraan masyarakat semakin baik, mengembangkan kehidtesisupan demokrasi, keadilan, pemerataan dan pemeliharaan hubungan yang serasi antara pemerintah pusat dan daerah serta antardaerah dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.

(Mardiasmo,2000Halim (2007) menjelaskan bahwa ciri utama suatu daerah yang mampu melaksanakan otonomi, yaitu (1) kemampuan keuangan daerah, artinya daerah harus memiliki kewenangan dan kemampuan untuk menggali sumber-sumber keuangan, mengelola dan menggunakan keuangan sendiri yang cukup memadai untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahannya, dan (2) ketergantungan kepada bantuan pusat harus seminimal mungkin, agar pendapatan asli daerah (PAD) dapat menjadi bagian sumber keuangan terbesar sehingga peranan pemerintah daerah menjadi lebih besar.

Rumusan Masalah 

Berdasarkan uraian di atas maka dapat dirumuskan masalahnya sebagai berikut :

1.  Apakah  revenue berpengaruh terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah?

2.  Apakah  expenditure berpengaruh terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah?

3.  Apakah  real estate  berpengaruh terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah?

4.  Apakah  capital berpengaruh terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah?

5.  Apakah taxes berpengaruh terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah?

6.  Apakah grant berpengaruh terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah?

7.  Apakah  gross domestic product berpengaruh terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah?

8.  Apakah  employment berpengaruh terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah?

Tujuan Penelitian 

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor keuangan dan faktor lingkungan yang mempengaruhi kinerja keuangan (financial performance) dalam Laporan Keuangan Pemerintah Daerah  (LKPD) di Provinsi Jawa Tengah. Penelitian dilakukan dengan menguji pengaruh revenue, expenditure, pajak, real estate, grant, capital, GDP  (Gross Domestic Product),  dan employment sebagai variabel independen, terhadap kinerja keuangan sebagai variabel dependen.  Sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 70 Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota di wilayah Provinsi Jawa Tengah tahun 2005-2007.

Kesimpulan

Model analisis yang digunakan dapat menjelaskan sebesar 87 % tingkat kinerja keuangan pemerintah  daerah dipengaruhi oleh variabel independennya, sedangkan sisanya dijelaskan oleh variabel lain di luar penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini terdapat 3 variabel yang berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah yaitu revenue, expenditure dan employment. Dengan adanya  revenue yang cukup mengindikasikan bahwa pemerintah daerah mempunyai jumlah dana yang cukup untuk mendanai proses operasional dalam rangka penyediaan jasa pelayanan pada masyarakat sehingga dapat berpengaruh pada kinerja keuangan pemerintah daerah. Jumlah expenditure  yang mampu memberikan hasil yang maksimal untuk penyedian jasa pelayanan pada masyarakat dapat berpengaruh terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah. Sedangkan employment yang nilainya semakin besar juga semakin meningkatkan produktivitas perekonomian di wilayah provinsi Jawa Tengah.

Hasil pengujian data juga mengindikasikan bahwa jumlah taxes, grant, dan real estate tidak berpengaruh pada kinerja pemerintah daerah. Hasil ini mengindikasikan bahwa pemerintah daerah belum mampu menggunakan hasil penerimaan pajak dan grant secara efisien sehingga tidak mampu mempengaruhi kinerja keuangan pemerintah daerah. Selain itu, hasil ini juga mengindikasikan bahwa pemerintah daerah belum mampu melakukan pengakuan, pengukuran, penilaian serta penyajian real estate yang dimiliki oleh pemerintah daerah sehingga jumlah real estate tersebut tidak mempengaruhi kinerja pemerintah daerah. Hasil pengujian data juga mengindikasikan bahwa jumlah GDP tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah. Berdasarkan hasil ini dapat diketahui bahwa pemerintah daerah belum bisa memberikan pelayanan publik yang optimal untuk keseluruhan masyarakat.

Analisis Faktor Penentu Dan Tingkat Ketimpangan Kemiskinan

Skripsi Ekonomi ~ Analisis Faktor Penentu Dan Tingkat Ketimpangan Kemiskinan Antar Wilayah Di Indonesia Periode 2007-2009

kemiskinan Analisis Faktor Penentu Dan Tingkat Ketimpangan Kemiskinan Analisis Faktor Penentu Dan Tingkat Ketimpangan Kemiskinan kemiskinan

Latar Belakang Srikspi 

Kemiskinan merupakan masalah kompleks yang dihadapi oleh semua negara di dunia, terutama di negara sedang berkembang. Masalah tersebut dapat dikatakan kompleks karena kemiskinan memiliki banyak dimensi, bukan hanya dimensi ekonomi saja tetapi juga dimensi lain seperti kesehatan dan pendidtesisikan. Konsentrasi spasial kemiskinan memiliki definisi yang berbeda dengan kemiskinan yang konvensional. Secara konvensional, kemiskinan menunjuk pada individu atau keluarga yang tidak dapat memenuhi kebutuhan pokok hidupnya atau membelanjakan lebih dari  proporsi tertentu dari pendapatannya untuk mencapai standar hidup tertentu sedangkan konsentrasi spasial kemiskinan melihat tingkat kemiskinan pada suatu komunitas tertentu (Ardyanto, 2003 dalam Sunarwan, 2007). Komunitas dapat disebut miskin jika lebih dari 20% populasinya orang miskin. Tingkat kemiskinan suatu komunitas inilah yang selanjutnya dapat digunakan untuk memberikan informasi perbandingan kemiskinan antar wilayah.

Mengingat kemiskinan merupakan masalah yang kompleks, maka terdapat banyak faktor yang diduga dapat mempengaruhinya, antara lain: (i) pertumbuhan ekonomi; (ii) pendidikan, dan (iii) pengangguran. Penelitian yang dilakukan Wongdesmiwati (2009), menemukan bahwa terdapat hubungan yang negatif antara pertumbuhan ekonomi dan tingkat kemiskinan. Kenaikan pertumbuhan ekonomi akan menurunkan tingkat kemiskinan. Hubungan ini menunjukkan pentingnya mempercepat pertumbuhan ekonomi untuk menurunkan tingkat kemiskinan. Pendidikan juga merupakan faktor penentu tinggi rendahnya tingkat kemiskinan. Investasi pendidikan akan mampu meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang diperlihatkan dengan meningkatnya pengetahuan dan keterampilan seseorang. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka pengetahuan dan keahlian juga akan meningkat sehingga akan mendorong peningkatan produktivitas dan efisiensi dalam pekerjaannya. Dari hal tersebut terlihat dengan jelas adanya hubungan antara pendidikan dengan kemiskinan. Pengangguran juga merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi tingkat kemiskinan di suatu wilayah. Penelitian yang dilakukan oleh Adit Agus Prasetyo (2010) menemukan bahwa ada hubungan yang positif antara tingkat penggangguran dengan tingkat kemiskinan. Hubungan ini menunjukkan pentingnya untuk menekan tingkat pengangguran untuk menurunkan tingkat kemiskinan.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas perumusan masalah dalam studi ini adalah sebagai berikut:

1.  Apakah variable Pertumbuhan Ekonomi (Growth), Angka Melek Huruf (AMH) dan Pengangguran berpengaruh terhadap tingkat kemiskinan di Indonesia pada tahun 2007-2009.

2.  Bagaimanakah trend kesenjangan kemiskinan dalam pulau dan antar pulau di Indonesia pada tahun 2007-2009.

Tujuan Penelitian 

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui seberapa besar pengaruh pertumbuhan ekonomi (growth), angka melek huruf (AMH) dan pengangguran terhadap tingkat kemiskinan di Indonesia pada tahun 2007 – 2009, serta untuk mengetahui  trend kesenjangan kemiskinan dalam pulau dan antar pulau di Indonesia pada tahun 2007 – 2009. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini ada dua macam. Untuk mengetahui pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen digunakan alat analisis panel data, dimana metode yang digunakan adalah Fixed Effect Model (FEM). Sedangkan untuk mengetahui trend kesenjangan kemiskinan digunakan alat analisis Indeks Entropi Theil.

Kesimpulan

Berdasarkan analisis yang dilakukan pada bab sebelumnya, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1.  Pertumbuhan ekonomi (growth) berpengaruh negatif dan signifikan terhadap tingkat kemiskinan, artinya peningkatan pertumbuhan ekonomi akan mengurangi kemiskinan. Pendidikan (AMH) berpengaruh negatif dan signifikan, artinya semakin tinggi pendidikan akan mengurangi tingkat kemiskinan. Pengangguran berpengaruh positif dan signifikan, artinya semakin tinggi pengangguran maka akan menambah kemiskinan.

2.  Kesenjangan kemiskinan dalam pulau di Indonesia mengalami kecenderungan peningkatan selama tahun 2007-2009. Dari 7 (tujuh) wilayah hanya wilayah Papua yang mengalami penurunan kesenjangan kemiskinan. Wilayah yang memiliki tingkat kesenjangan tertinggi adalah Maluku, kemudian disusul oleh wilayah Jawa-Bali, wilayah Sumatera, wilayah Sulawesi, wilayah Kalimantan, wilayah Papua, dan yang terakhir wilayah Nusa Tenggara.Sedangkan kesenjangan kemiskinan antar pulau di Indonesia mengalami kecenderungan penurunan, dimana penurunan tertinggi dialami oleh wilayah Jawa-Bali. Akan tetapi meskipun mengalami penurunan tertinggi, tingkat kesenjangannya masih lebih tinggi dibanding wilayah-wilayah lainnya di Indonesia pada tahun 2007-2009. Wilayah yang memiliki tingkat kesenjangan tertinggi kedua setelah wilayah Jawa-Bali adalah wilayah Sumatera, kemudian disusul oleh wilayah Sulawesi, wilayah Nusa Tenggara, wilayah Papua, wilayah Kalimantan dan yang terakhir wilayah Maluku. Hal ini menunjukkan wilayah Indonesia bagian barat cenderung lebih maju dan berkembang dari wilayah Indonesia bagian timur, atau dapat dikatakan pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah belumlah merata. Semakin tinggi pembangunan yang dilakukan suatu daerah akan membuat IPM daerah tersebut tinggi. Hasil ini terbukti dengan keadaan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), dimana pada selama tahun penelitian IPM wilayah Indonesia bagian barat juga jauh lebih tinggi dari wilayah Indonesia bagian timur.

Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Audit Delay Dan Timelinees

Skripsi Ekonomi ~ Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Audit Delay Dan Timelinees (Study empiris pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI periode 2006-2008)

akuntansi (1) Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Audit Delay Dan Timelinees Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Audit Delay Dan Timelinees akuntansi 1

Latar Belakang Skripsi 

Perkembangan pasar modal di Indonesia berdampak peningkatan permintaan akan audit laporan keuangan. Setiap perusahaan yang go publik diwajibkan untuk menyampaikan laporan keuangan yang disusun sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan dan telah diaudit oleh akuntan publik yang terdaftar di Badan Pengawas Pasar Modal. Hasil audit atas perusahaan publik  mempunyai konsekuensi dan tanggungjawab  yang besar. Adanya tanggungjawab yang besar ini memicu audit untuk bekerja secara lebih professional. Salah satu kriteria profesionalisme dari auditor adalah ketepatan waktu penyampaian laporan auditnya. Ketepatan waktu perusahaan dalam mempublikasikan laporan keuangan kepada masyarakat umum dan kepada Bapepam juga tergantung dari ketepatan waktu auditor dalam menyelesaikan pekerjaan auditnya. Ketepatan waktu ini terkait dengan manfaat dari laporan keuangan itu sendiri. Jika terjadi penundaan yang tidtesisak semestinya dalam pelaporan keuangan, maka informasi yang dihasilkan akan kehilangan relevansinya.

Ketepatan waktu penyampaian laporan keuangan telah diatur dalam pasar modal. Undang-undang no. 8 tahun 1995 tentang peraturan pasar modal menyatakan bahwa semua perusahaan yang terdaftar dalam pasar modal wajib menyampaikan laporan keuangan secara berkala kepada Bapepam dan mengumumkan kepada masyarakat. Apabila perusahaan-perusahaan tersebut terlambat menyampaikan laporan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh Bapepam maka dikenakan sanksi administrasi sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam undang-undang. Peraturan mengenai penyampaian laporan keuangan ini telah diperbaharui oleh Bapepam pada tahun 1996 dan mulai berlaku kembali pada tanggal 17 Januari 1996. Dalam peraturan baru ini disebutkan bahwa perusahaan wajib menyampaikan laporan keuangan tahunan yang telah diaudit selambat-lambatnya 120 hari terhitung sejak tanggal berakhirnya tahun buku.

Rumusan Masalah

Masalah utama yang diangkat dalam penelitian ini adalah bagaimana pengaruh faktor profitabilitas, solvabilitas, likuiditas,  umur perusahaan, ukuran perusahaan dan auditor (ukuran KAP) terhadap  audit delay dan Timelines?

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan  untuk menguji pengaruh pengaruh  faktor profitabilitas, solvabilitas, likuiditas, umur perusahaan dan size perusahaan dan ukuran KAP  terhadap audit delay dan  timeliness pada perusahan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2006-2008. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan  regresi  logistik  dengan  software  SPSS 16.0 For Windows.

Kesimpulan

Penelitian ini bertujuan  untuk menguji pengaruh pengaruh  faktor profitabilitas, solvabilitas, likuiditas, umur perusahaan dan size perusahaan dan ukuran KAP  terhadap audit delay dan  timeliness pada perusahan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2006-2008. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan  regresi  logistik  dengan  software  SPSS 16.0 For Windows. Berdasarkan analisis  penulis mengambil kesimpulan sebagai berikut.

1.  return on equity  (profitabilitas),  total debt to total assets  (solvabilitas), current ratio  (likuiditas),  ukuran perusahaan,  umur perusahaan dan ukuran KAP berpengaruh secara simultan terhadap audit delay.

2.  return on equity  (profitabilitas),  total debt to total assets  (solvabilitas), current ratio  (likuiditas),  ukuran perusahaan,  umur perusahaan  dan ukuran  KAP  berpengaruh  secara simultan  terhadap ketepatan waktu penyampaian laporan keuangan (timeliness).

3.  Pengujian secara parsial menunjukkan  bahwa  variabel  solvabiltas berpengaruh terhadap audit delay. Pengujian terhadap variabel return on equity  (profitabilitas),  current ratio  (likuiditas),  ukuran perusahaan, umur perusahaan dan ukuran  KAP  tidak memberikan hasil yang signifikan.

4.  Pengujian secara parsial terhadap ketepatan waktu penyampaian laporan keuangan  menunjukkan  bahwa  variabel  likuiditas yang  berpengaruh terhadap  ketepatan waktu penyampaian laporan. Pengujian terhadap variabel  return on  equity  (profitabilitas),  salvabilitas,  ukuran perusahaan, umur perusahaan dan ukuran KAP  tidak memberikan hasil yang signifikan.

Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Besarnya Pengiriman Remiten TKI

Skripsi Ekonomi ~ Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Besarnya Pengiriman Remiten Dari Tenaga Kerja Indonesia  ( TKI ) Ke Daerah Asal  Tahun 2011 ( Studi kasus Tenaga Kerja Indonesia asal kota Surakarta )

pekerja pln Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Besarnya Pengiriman Remiten TKI Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Besarnya Pengiriman Remiten TKI pekerja pln

Latar Belakang Skripsi 

Indonesia merupakan salah satu negara tujuan investasi dari negara –negara maju karena jumlah penduduknya yang besar dengan upah tenaga kerja yang relatif rendah. Selain itu masyarakat Indonesia yang konsumtif menjadikan Indonesia sebagai pasar yang baik dari produk – produk negara lain. Hal ini disebabkan oleh mutu pendidtesisikan yang sangat rendah yang membuat pola konsumtif dimasyarakatnya.

Tetapi investasi yang ditanamkan para investor baik lokal maupun asing dirasa masih kurang mengingat bahwa masih banyak penduduk Indonesia yang bekerja di luar negeri untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka dan keluarganya. Salah satu pilihan yang mereka ambil adalah menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di beberapa negara yang bisa menerima mereka dan membutuhkan tenaga mereka seperti halnya Malaysia, Singapura, Hongkong dan bahkan sampai ke daerah Timur Tengah. Dorongan untuk memenuhi kebutuhan dan mencari kehidupan yang lebih baik menyebabkan terjadinya migrasi internasional besar-besaran di Indonesia.

Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang maka dapat dirumuskan beberapa masalah sebagai berikut :

  1. Apakah tingkat pendapatan TKI berpengaruh terhadap jumlah remiten yang dikirim oleh TKI ke daerah asal ?
  2. Apakah pengeluaran konsumsi keluarga di daerah asal berpengaruh terhadap jumlah remiten yang dikirim oleh TKI ke daerah asal ?
  3. Apakah jumlah tanggungan keluarga di daerah asal berpengaruh terhadap jumlah remiten yang dikirim oleh TKI ke daerah asal ?
  4.  Apakah total biaya penempatan calon TKI berpengaruh terhadap jumlah remiten yang dikirim oleh TKI ke daerah asal ?

Tujuan Penelitian 

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel pendapatan TKI, pengeluaran keluarga TKI, jumlah tanggungan keluarga TKI, dan Biaya penempatan TKI, terhadap remiten yang dikirim oleh TKI ke daerah asal. Diduga variabel pendapatan TKI, pengeluaran keluarga TKI, jumlah tanggungan keluarga TKI, dan Biaya penempatan TKI, berpengaruh secara signifikan terhadap remiten yang dikirim oleh TKI ke daerah asal.

Kesimpulan

Berdasarkan penelitian terhadap Tenaga Kerja Indonesia yang berasal dari kota Surakarta dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Dengan tingkat signifikasi 5%, variabel pendapatan TKI berpengaruh signifikan terhadap jumlah remiten yang dikirim oleh TKI. Hal ini berarti hipotesis yang menyatakan bahwa pendapatan TKI berpengaruh signifikan terhadap jumlah remiten telah terbukti.

2. Dengan tingkat signifikasi 5%, variabel pengeluaran konsumsi keluarga berpengaruh signifikan terhadap jumlah remiten yang dikirim oleh TKI. Hal ini berarti hipotesis yang menyatakan bahwa pengeluaran konsumsi keluarga berpengaruh signifikan terhadap jumlah remiten telah terbukti.

3. Dengan tingkat signifikasi 5%, variabel jumlah tanggungan keluarga berpengaruh signifikan terhadap jumlah remiten yang dikirim oleh TKI. Hal ini berarti hipotesis yang menyatakan bahwa jumlah tanggungan keluarga berpengaruh signifikan terhadap jumlah remiten telah terbukti.

4. Dengan tingkat signifikasi 5%, variabel total biaya penempatan TKI berpengaruh signifikan terhadap jumlah remiten yang dikirim oleh TKI. Hal ini berarti hipotesis yang menyatakan bahwa total biaya penempatan TKI berpengaruh signifikan terhadap jumlah remiten telah terbukti.

5. Secara simultan atau bersama – sama variabel pendapatan TKI, pengeluaran konsumsi keluarga, jumlah tanggungan keluarga, dan total biaya penempatan TKI berpengaruh signifikan terhadap jumlah remiten yang dikirim ke daerah asal.