Analisis Bantuan Khusus Siswa Miskin Di Kabupaten Madiun

Skripsi Pendidtesisikan~ Analisis Bantuan Khusus Siswa Miskin  Di Kabupaten Madiun

BKSTM Analisis Bantuan Khusus Siswa Miskin Di Kabupaten Madiun Analisis Bantuan Khusus Siswa Miskin Di Kabupaten Madiun BKSTM

Latar Belakang Skripsi 

Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 46 yang mengatakan bahwa “Pendanaan pendidikan menjadi tanggung jawab bersama pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat”,  serta Pasal 34 ayat 2 yang isinya “Pemerintah menjamin terselenggaranya wajib belajar minimal pada jenjang pandidikan dasar tanpa memungut biaya”. Hal ini berarti bahwa pemerintah berkewajiban membiayai pendidikan dasar bagi warga negaranya.

Komitmen pemerintah untuk menjaga agar anak-anak dari keluarga miskin dapat tetap bersekolah dan/atau  paling kurang  menyelesaikan pendidikan dasar sembilan tahun, sudah ditunjukkan melalui berbagai fasilitas antara lain  pemberian Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan beasiswa siswa miskin (BSM).

Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah:

  1. Apakah Bantuan Khusus Siswa Miskin berkorelasi terhadap angka melanjutkan?
  2. Apakah Bantuan Khusus Siswa Miskin berkorelasi terhadap Angka Partisipasi Murni?
  3. Apakah Bantuan Khusus Siswa Miskin berkorelasi terhadap Angka Partisipasi Kasar?
  4. Apakah Bantuan Khusus Siswa Miskin berkorelasi terhadap jumlah siswa usia 16 tahun?
  5. Apakah Bantuan Khusus Siswa Miskin berkorelasi terhadap jumlah siswa usia 17 tahun?
  6. Apakah Bantuan Khusus Siswa Miskin berkorelasi terhadap jumlah siswa usia 18 tahun?
  7. Apakah Bantuan Khusus Siswa Miskin berkorelasi terhadap jumlah siswa keseluruhan ( Usia 16 – 18 Tahun )?

Tujuan Penelitian 

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah Bantuan Khusus Siswa Miskin berkorelasi terhadap:

1). Angka Melanjutkan,

2). Angka Partisipasi Murni,

3). Angka Partisipasi Kasar

4). Jumlah siswa usia 16 tahun,

5). Jumlah siswa usia 17 tahun,

6). Jumlah siswa usia 18 tahun,

7). Jumlah siswa keseluruhan (usia 16 – 18 tahun).

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa :

  1. Hubungan yang signifikan antara Angka melanjutkan dengan  BKSM. Hubungan antara variabel Angka melanjutkan (X1) dengan  BKSM (Y) sebesar 0,897 dalam katagori   “sangat kuat”. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa variabel Angka melanjutkan dengan  BKSM mempunyai hubungan sangat kuat sehingga diharapkan mutu pendidikan di Kabupaten Madiun pada tingkat SLTA lebih berhasil.
  2. Hubungan yang signifikan antara Angka Partisipasi Murni dengan  BKSM. Hubungan antara variabel Angka Partisipasi Murni (X2) dengan  BKSM (Y) sebesar 0,179 dalam katagori  “sangat lemah”. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa variabel Angka Partisipasi Murni dengan  BKSM mempunyai hubungan sangat lemah sehingga diharapkan pemerataan pendidikan di Kabupaten Madiun pada tingkat SLTA lebih ditingkatkan kembali.
  3. Hubungan yang signifikan antara Angka Partisipasi Kasar dengan  BKSM.  Hubungan antara variabel Angka Partisipasi Kasar (X3) dengan  BKSM (Y) sebesar 0,193 dalam katagori  “sangat lemah”. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa variabel Angka Partisipasi Kasar dengan  BKSM mempunyai hubungan sangat lemah sehingga diharapkan pemerataan pendidikan di Kabupaten Madiun pada tingkat SLTA lebih ditingkatkan kembali.
  4. Hubungan yang signifikan antara Jumlah Siswa Usia 16 tahun dengan  BKSM.  Hubungan antara variabel Jumlah Siswa Usia 16 tahun (X4) dengan  BKSM (Y) sebesar 0,718 dalam katagori  “kuat”.  Hasil penelitian ini membuktikan bahwa variabel Jumlah Siswa Usia 16 tahun dengan  BKSM mempunyai hubungan kuat sehingga diharapkan  semakin banyak anak usia 16 tahun termotivasi dalam belajarnya.
  5. Hubungan yang signifikan antara Jumlah Siswa Usia 17 tahun dengan  BKSM.  Hubungan antara variabel Jumlah Siswa Usia 17 tahun (X5) dengan  BKSM (Y) sebesar 0,711 dalam katagori  “kuat”. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa variabel Jumlah Siswa Usia 17 tahun dengan  BKSM mempunyai hubungan kuat sehingga diharapkan semakin banyak anak usia 17 tahun termotivasi dalam belajarnya.
  6. Hubungan yang signifikan antara Jumlah Siswa Usia 18 tahun dengan  BKSM. Hubungan antara variabel Jumlah Siswa Usia 18 tahun (X6) dengan  BKSM (Y) sebesar 0,635  dalam  katagori    “kuat”.  Hasil  penelitian ini membuktikan bahwa variabel Jumlah Siswa Usia 17 tahun dengan  BKSM mempunyai hubungan kuat sehingga diharapkan semakin banyak anak usia 17 tahun termotivasi dalam belajarnya.
  7. Hubungan yang signifikan antara Jumlah Siswa Keseluruhan (Usia 16-18 tahun) dengan  BKSM.  Hubungan antara variabel Jumlah Siswa Keseluruhan (X7) dengan  BKSM (Y) sebesar 0,895 dalam katagori  “Sangat kuat”. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa variabel Jumlah Siswa Keseluruhan dengan  BKSM mempunyai hubungan sangat kuat sehingga diharapkan semakin banyak Jumlah Siswa berkemauan dalam meingkatkan pendidikannya.

Analisis Brand Loyalty Pelanggan Jasa Pos Express

Skripsi Ekonomi~ Analisis Brand Loyalty Pelanggan Jasa Pos Express Pada PT. Pos Indonesia Cabang Sukoharjo

posindo1 Analisis Brand Loyalty Pelanggan Jasa Pos Express Analisis Brand Loyalty Pelanggan Jasa Pos Express posindo11

Latar Belakang Skripsi

PT. POS INDONESIA yang merupakan satu-satunya badan usaha milik negara yang bergerak pada bidtesisang jasa pengiriman.PT. POS INDONESIA mempunyai berbagai produk jasa pengiriman salah satunya adalah jasa POS EXPRESS. POS EXPRESS merupakan layanan terkini jasa pengiriman berupa dokumen penting, surat, barang berharga yang melayani konsumen lebih cepat, lebih tepat waktu, lebih aman dan terjamin.

Perilaku loyalitas konsumen terhadap produk jasa PT. POS mungkin berbeda dengan produk jasa pengiriman pada perusahaan lain. Sehubung dengan loyalitas akan merek atau produk sangat penting terhadap kelangsungan hidup perusahaan, maka manajemen  PT. POS INDONESIA sadar bahwa mempertahankan pelanggan yang lama jauh lebih murah biayanya daripada menciptakan pelanggan yang baru.

Rumusan Masalah

Bagaimana tingkat loyalitas pelanggan jasa POS EXPRESS pada PT. POS INDONESIA di Sukoharjo?

Tujuan Penelitian 

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa jauh tingkat loyalitas konsumen terhadap jasa POS EXPRESS padaPT. POS INDONESIA Cabang Sukoharjo. Penelitian ini dilakukan di PT. POS INDONESIA Cabang Sukoharjo yang berlokasi di Jl. WandyoPranoto No.12 Sukoharjo. Sampel yang diambil dalam penelitian ini berjumlah 50 responden.

Kesimpulan 

Hasil analisis yang diolah, dengan membagikan angket kepada 50 pelanggan jasa POS EXPRESS pada PT. POS INDONESIA Cabang Sukoharjo maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1. Berdasarkan analisis karakteristik responden, dari 50 responden menyatakan pengguna jasa POS EXPRESS INDONESIA lebih banyak laki-laki yaitu sebanyak 64% dengan rata-rata pemakai antara usia 21-26 tahun sebanyak 54% dan berpenghasilan antara Rp 500.000,00–Rp 1000.000,00 sebanyak 34%.

2. Pelanggan jasa POS EXPRESS pada PT. POS INDONESIA Cabang Sukoharjo yang tergolong  switcher  cukup sedikit yaitu 10% dari 50 responden yang diteliti.

3. Sebanyak 44% dari 50 responden yang termasuk kelompok habitual buyer menyatakan bahwa menggunakan jasa POS EXPRESS INDONESIA karena faktor kebiasaan.

4. Pelanggan jasa POS EXPRESS pada PT. POS INDONESIA Cabang Sukoharjo yang tergolong  satisfied buyer  sebanyak 68% dari 50 responden yang diteliti. Kondisi ini cukup bagus , karena rata-rata pengguna merasa puas saat mereka menggunakan jasa POS EXPRESS INDONESIA. 58

5. Pelanggan jasa POS EXPRESS pada PT. POS INDONESIA Cabang Sukoharjo yang berada pada tingkat liking the brand cukup banyak yaitu 82% dari 50 responden yang diteliti. Pelanggan benar-benar suka jasa POS EXPRESS INDONESIA

6. Pada tingkat committed buyer mangalami penurunan, yaitu sebanyak 30% atau 15 responden pelanggan jasa POS EXPRESS pada PT. POS INDONESIA Cabang Sukoharjo yang sering dan selalu menyarankan kepada orang lain untuk menggunakan jasa POS EXPRESS

Analisis Brand Loyalty Terhadap Kartu Simpati

Skripsi Ekonomi~ Analisis Brand Loyalty Terhadap Kartu Simpati (Studi Pada Pengunjung di grapari Telkomsel Solo)

telkomsel Analisis Brand Loyalty Terhadap Kartu Simpati Analisis Brand Loyalty Terhadap Kartu Simpati telkomsel

Latar Belakang Skripsi 

Dalam berbisnis, faktor keuntungan adalah tujuan utama. Namun seiring perkembangan zaman, hanya mengejar keuntungan semata bukan lagi tipe berbisnis yang baik. Dari itulah pentingnya pemberian sebuah merek, tidtesisak hanya sebagai identitas atau pembeda produk. Tetapi dengan adanya merek, perusahaan dapat mengukur kesetiaan pelanggannya terhadap mereknya. Hal terpenting yang harus dilakukan perusahaan adalah tetap mengikat pelanggan yang lama dan menarik pelanggan yang baru. Hal tersebut dapat dicapai dengan cara tetap mempertahankan loyalitas baik pelanggan yang lama maupun pelanggan yang baru saja bergabung.

Keberhasilan suatu merek untuk jangka panjang tidak didasarkan pada banyaknya konsumen yang melakukan pembelian sekali saja terhadap merek itu. Sebaliknya, merek dapat dikatakan berhasil bila memiliki konsumen yang setia, yang membeli atau menggunakan secara berulang. Loyalitas atau kesetiaan menunjukkan probabilitas seorang konsumen untuk membeli atau memakai produk atau merek secara berulang dalam periode waktu tertentu. (Istijanto, 2005:172)

Rumusan Masalah 

1. Bagaimana tingkat loyalitas pengunjung graPARI terhadap kartu SimPATI?

2. Apakah tingkatan loyalitas tersebut membentuk piramida yang menunjukkan “brand loyalty lemah” atau piramida terbalik yang menunjukkan “brand loyalty kuat” ?

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat loyalitas pengunjung graPARI terhadap kartu simPATI. Dan juga untuk mengetahui apakah  brand loyalty terhadap kartu simpati tersebut menunjukkan loyalitas yang kuat ataukah lemah. Metode penelitian yang digunakan adalah diskriptif dimanamerupakan jenis riset yang tujuan utamanya adalah menggambarkan sesuatu. Populasi dalam penelitian ini adalah pengunjung graPARI Telkomsel Solo.

Kesimpulan 

Hasil analisis yang di olah, dengan membagikan angket kepada 100 pengunjung graPARI yang menggunakan kartu simPATI maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1. Berdasarkan analisis kerakteristik responden, dari 100 responden menyatakan pengguna kartu simPATI lebih banyak laki-laki yaitu sebanyak 61% dengan rata-rata pemakai  berusia antara 21-26 tahun sebanyak 40% dan berpenghasilan antara Rp 500.000,00 – Rp 1.000.000,00 sebanyak 31%.

2. Sebanyak 5% dari 100 responden pengguna kartu simPATI bersifat  switcher atau berpindah ke merek kartu selular lain karena fakor tarif telepon atau sms.

3. Sebanyak 60% responden menyatakan bahwa menggunakan kartu simPATI dipengaruhi karena faktor kebiasaan. Pada umumnya mereka telah menemukan kepuasan tersendiri dan malas untuk bergonta-ganti kartu.

4. Sebanyak 65% responden menyatakan puas menggunakan kartu simPATI. Selain dari faktor tarif telepon atau sms yang murah, sinyal simPATI juga jarang mengalami gangguan sampai dengan kepelosok desa.

5. Sebanyak 72% pemakai menyatakan setuju bahwakartu simPATI lebih unggul dibandingkan merek kartu selular yang lain.

6. Pada tingkatan  committed buyer sebanyak 30% responden menyatakan sering dan selalu menyarankan ke orang lain untuk menggunakan kartu simPATI.

Faktor-faktor Yang Berpengaruh Terhadap Struktur Modal

Skripsi Ekonomi ~ Pengaruh Earning Volatility, Size Dan Rasio  Profitabilitas Terhadap Struktur Modal ( Studi Empiris pada Industri Manufaktur yang Terdaftar Di BEI)

pendapatan Faktor-faktor Yang Berpengaruh Terhadap Struktur Modal Faktor-faktor Yang Berpengaruh Terhadap Struktur Modal pendapatan

Latar Belakang Skripsi 

Masalah struktur modal merupakan masalah penting bagi setiap perusahaan, karena  baik buruknya struktur modal perusahaan akan mempunyai efek yang langsung terhadap posisi finansialnya. Suatu perusahaan yang mempunyai  struktur modal yang tidtesisak baik adalah  dimana perusahaan tersebut mempunyai hutang yang sangat besar yang kemudian akan memberikan beban yang berat kepada perusahaan tersebut (Aditya, 2006).

Struktur modal yang optimal adalah struktur modal yang mengoptimalkan keseimbangan antara risiko dan pengembalian sehingga memaksimumkan harga saham. Untuk itu, dalam penetapan struktur  modal suatu perusahaan perlu mempertimbangkan berbagai variabel yang mempengaruhinya. Dengan mengetahui apa dan bagaimana faktor-faktor yang paling mempengaruhi struktur modal, dapat membantu khususnya pihak manajemen perusahaan dalam menentukan bagaimana  seharusnya pemenuhan kebutuhan dana untuk mencapai struktur modal yang optimal harus dilakukan dan juga para investor di pasar modal pada umumnya. Dengan demikian tujuan pihak manajemen perusahaan untuk memaksimumkan kemakmuran pemegang saham (pemilik) dapat tecapai.

Perumusan Masalah

Permasalahan yang diajukan dalam penelitian ini dirumuskan dengan pertanyaan riset sebagai berikut:

“Apakah earning volatility, size dan rasio profitabilitas berpengaruh terhadap struktur modal?”

Tujuan Penelitian 

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh earning volatility, size  dan rasio profitabilitas  terhadap struktur modal perusahaan  Food and Beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama tahun 2003-2007. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh dari laporan keuangan yang dipublikasikan di internet melalui website resmi Bursa Efek Indonesia www.idx.co.id  serta data dari  Indonesia Capital Market Directory  (ICMD). Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan  Food and Beverage  selama tahun 2003-2007. Analisis regresi berganda digunakan untuk menguji hipotesis alternatif.

Kesimpulan 

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang telah dilakukan, maka penulis menarik kesimpulan sebagai berikut:

1.  Secara simultan (bersama-  sama) variabel yang diteliti yaitu  earning volatility, size  dan profitabilitas berpengaruh signifikan terhadap struktur modal perusahaan Food and Beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Oliver (2006), Sa’diyah (2007) dan Widyatmoko (2008).

2.  Earning volatility  yang diproksikan dengan LnSDNI berpengaruh positif dan signifikan terhadap struktur modal dengan tingkat signifikansi 0,000 pada ?= 5%. Dengan demikian mendukung logika bahwa  semakin tinggi volatilitas pendapatan akan menyebabkan perusahaan harus mencari dana eksternal untuk melakukan investasi baru.

3.  Size  (ukuran perusahaan) yang diproksikan dengan Ln Sales (dengan tingkat signifikansi 0,000 pada ?= 5%)  dan LnTA (dengan tingkat signifikansi 0,045 pada ?= 5%)  berpengaruh negatif signifikan terhadap struktur modal. Arah koefisien regresi yang negatif menunjukkan bahwa baik size yang diproksikan dengan LnSales dan LnTA mengalami kenaikan maka struktur modal akan mengalami penurunan. Perusahaan yang besar akan menggunakan hutang yang besar pula, dan sebaliknya perusahaan yang kecil akan menggunakan hutang yang kecil.

4.  Profitabilitas yang diproksikan dengan LnROA berpengaruh negatif signifikan terhadap  struktur modal  dengan tingkat signifikansi 0,000 pada ?= 5%. Hal  ini mendukung  pecking order theory yang mengemukakan bahwa perusahaan cenderung mempergunakan sumber pendanaan internal sebanyak mungkin sebelum memutuskan untuk berhutang.

5.  Hasil hipotesis keempat menunjukkan  profitabilitas yang diproksikan dengan ROE berpengaruh positif dan signifikan terhadap struktur modal dengan tingkat signifikansi 0,000 pada ?= 5%. Ini berarti menunjukkan bahwa ketika variabel ROE mengalami kenaikan maka struktur modal akan juga mengalami kenaikan.

Faktor-faktor Yang Berpengaruh Terhadap Dividend Payout Ratio

Skripsi Ekonomi~ Pengaruh Growth Opportunity, Debt To Equity Ratio, Dan Investment Opportunity Set Terhadap Dividtesisend Payout Ratio

pendapatan Faktor-faktor Yang Berpengaruh Terhadap Dividend Payout Ratio Faktor-faktor Yang Berpengaruh Terhadap Dividend Payout Ratio pendapatan

Latar Belakang Skripsi

Di dalam laporan keuangan perusahaan terdapat informasi laba aliran kas yang merupakan jalan utama bagi investor dan kreditur untuk menilai kinerja perusahaan yang sedang melakukan penawaran umum sehingga dapat memberikan keyakinan bagi pihak lain atas keuangan yang diterbitkan emiten tersebut. Perusahaan dengan aliran kas bebas berlebih akan memiliki kinerja yang lebih baik dibandingkan perusahaan lainnya karena mereka dapat memperoleh keuntungan atas berbagai kesempatan yang mungkin tidak dapat diperoleh perusahaan lain dan lebih  survive dalam situasi yang buruk (Rosdini, 2009). Aspek utama dalam kebijakan dividen adalah alokasi penentuan laba sebagai dividen dan laba ditahan.

Laba sebaiknya tidak dibagikan seluruhnya sebagai dividen, namun sebagian harus disisihkan untuk diinvestasikan kembali. Laba ditahan (retained earning) merupakan salah satu dari sumber dana yang berasal dari modal sendiri dan merupakan modal yang paling penting untuk membiayai pertumbuhan perusahaan. Perusahaan berkepentingan untuk meningkatkan pertumbuhan perusahaan, sementara dilain pihak para investor mengharapkan adanya pembagian keuntungan yang tinggi atas laba yang diperoleh (dividen). Semakin tinggi tingkat dividen yang dibayarkan, berarti semakin rendah laba yang ditahan, dan sebagai akibatnya ialah menghambat tingkat pertumbuhan (rate of growth)  dalam pendapatan dan harga sahamnya. Perusahaan harus memutuskan apakah membayar dividen dengan uang tunai atau dividen saham, umumnya dividen tunai lebih menarik bagi pemegang saham dibandingkan dengan dividen saham, karena dividen tunai merupakan penerimaan yang lebih pasti dibanding dengan dividen saham (Sadalia dan Saragih, 2008). Persentase dari pendapatan yang akan dibayarkan kepada pemegang saham sebagai cash dividend disebut dividend payout ratio.

Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan permasalahan pada penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Apakah growth opportunity memiliki pengaruh terhadap dividend payout ratio?

2. Apakah debt to equity ratio memiliki pengaruh terhadap dividend payout ratio?

3. Apakah  investment opportunity set memiliki pengaruh terhadap  dividend payout ratio?

Tujuan Penelitian 

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis apakah ada pengaruh antara growth opportunity set, debt to equity ratio, dan  investment opportunity set terhadap  dividend payout ratio  pada perusahaan manufaktur yang listing  di BEI. Growth opportunity set diproksi dengan pertumbuhan penjualan,  debt to equity ratio diproksi dengan (total hutang/ total modal),  investment opportunity set diproksi dengan  capital expenditure to book value assets  (CAPBVA), sedangkan dividend payout ratio diproksi dengan  dividend per share/earning per share (DPS/EPS).

Kesimpulan

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh  growth opportunity, debt to equity ratio, dan investment opportunity set  terhadap dividend payout ratio  perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Hipotesis dalam penelitian ini diuji dengan menggunakan regresi linear berganda dengan SPSS 15.0  for windows. Dari hasil analisis data dapat

disimpulkan bahwa:

1.  Berdasarkan hasil pengujian hipotesis pertama (H1 ) menunjukkan bahwa secara parsial variabel growth opportunity berpengaruh signifikan negatif terhadap  dividend payout ratio.  Hasil uji statistik tersebut konsisten dengan penelitian  Anil dan Kapoor (2008),  Kusuma (2006), serta Pradessya (2006). Penelitian  tersebut menyatakan bahwa tingkat keuntungan yang tinggi menandakan pertumbuhan perusahaan pada masa mendatang juga meningkat dimana perusahaan yang bertumbuh akan cenderung membayarkan dividen lebih rendah. Hal tersebut dikarenakan dana yang seharusnya dapat dibayarkan sebagai dividen tunai kepada pemegang saham akan digunakan untuk pembelian investasi yang menguntungkan, sehingga dividen yang bagikan rendah.  Namun, penelitian tersebut bertentangan dengan penelitian  Souza (1999) dalam Anil dan Kapoor (2008)  yang menyatakan bahwa  growth opportunity tidak berpengaruh terhadap dividend payout ratio.

2.  Berdasarkan hasil pengujian hipotesis kedua (H2 ) menunjukkan bahwa secara parsial variabel debt to equity ratio berpengaruh signifikan positif terhadap  dividend payout ratio. Hasil uji statistik tersebut konsisten dengan penelitian Gul (1999) dalam Lestari (2004), yang menyebutkan bahwa  perusahaan yang memiliki tingkat utang yang rendah, akan membayar dividen lebih sedikit. Kenaikan hutang dapat meningkatkan kemampuan perusahaan membayar dividen selama penggunaan hutang harus selalu diiringi dengan peningkatan laba perusahaan. Namun, hasil tersebut bertentangan dengan penelitian Marlina dan Danica (2009) yang menyatakan bahwa debt to equity ratio tidak berpengaruh terhadap dividend payout ratio.

3.  Berdasarkan hasil pengujian hipotesis ketiga (H3 ) menunjukkan bahwa secara parsial variabel investment opportunity set tidak berpengaruh terhadap  dividend payout ratio. Hasil uji statistik tersebut konsisten dengan penelitian Sadalia dan Saragih (2008) dan Tjandra (2005)  yang menyatakan bahwa  investment opportunity set tidak berpengaruh terhadap dividend payout ratio. Penelitian tersebut menyebutkan bahwa pihak manajeman umumnya akan  cenderung memilih investasi baru daripada membayar dividen yang tinggi jika kondisi perusahaan sangat baik. Dana yang seharusnya dapat dibayarkan sebagai dividen tunai kepada pemegang saham akan digunakan untuk pembelian investasi yang menguntungkan. Namun, hasil ini bertentangan dengan penelitian Suharli  (2007) yang menyatakan bahwa investment opportunity set berpengaruh negatif terhadap dividend payout ratio.