Analisis Kinerja Dan Potensi Pajak Penerangan Jalan

Skripsi EkonomiAnalisis Kinerja Dan Potensi Pajak Penerangan Jalan Di Kota Surakarta

lapor-pajak Analisis Kinerja Dan Potensi Pajak Penerangan Jalan Analisis Kinerja Dan Potensi Pajak Penerangan Jalan lapor pajak

Latar Belakang Skripsi 

Pemerintah  daerah sama halnya dengan pemerintah pusat, mempunyai kepentingan yang sama dalam penyelenggaraan pemerintahan untuk mengatur dan  mengurus   rumah  tangganya. Pemerintah daerah membutuhkan dana untuk membangun daerah yang nyata, dinamis, serasi, dan bertanggungjawab.Pembiayaan pemerintahan dan pembangunan daerah bersumber pada Pendapatan Asli Daerah itu sendiri. Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan negara  dan pembangunan nasional untuk mencapai masyarakat adil, makmur,  dan merata  berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 menyatakan bahwa daerah  Indonesia  terbagi dalam daerah yang bersifat  otonom.

Otonomi bagi daerah  telah  ditetapkan oleh pemerintah  pusat.  Sejak dilaksanakan otonomi daerah, tiap-tiap daerah berlomba-lomba untuk meningkatkan pendapatan daerahnya diantaranya dengan menarik investasi masuk/dengan  pungutan (pajak). Menaikkan pajak bertujuan untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). PAD dialokasikan salah satunya  untuk  pembangunan infrastruktur  daerah. Namun pada kenyataannya yang terjadi pembangunan infrastruktur daerah masih banyak  yang kurang. Hal ini kebanyakan disebabkan oleh kurangnya dana yang ada dalam PAD dan biasanya dialami oleh daerah yang sedang berkembang seperti  yang pernah terjadi di Kota Surakarta  sehingga daerah tersebut tidtesisak memiliki modal untuk membangun daerahnya. Karena anggaran yang dimiliki relatif terbatas, pemerintah harus membuat perencanaan yang tepat agar dana yang ada bisa dimanfaatkan secara optimal. Maka dari itu, sangat penting diperhatikan oleh daerah dan sektor mana saja yang akan memberikan efek multiplier yang besar dimana dalam hal ini adalah sektor pajak.

Perumusan Masalah

Dari uraian latar belakang masalah yang dikemukakan di atas, pokok masalah yang akan dikaji dalam penulisan ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

  1. Bagaimana kontribusi  Pajak Penerangan Jalan terhadap PAD  Kota Surakarta?
  2. Bagaimana kinerja dan potensi Pajak Penerangan Jalan di Kota Surakarta?
  3. Bagaimana tingkat efektivitas (coverage ratio) dan daya Pajak Penerangan Jalan di Kota Surakarta?

Tujuan Penelitian 

Tujuan dalam penelitian  ini adalah menganalisis kinerja dan potensi Pajak Penerangan Jalan di Kota Surakarta selama tahun 2007 hingga tahun 2011. Pajak Penerangan Jalan merupakan salah satu jenis pajak daerah yang memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) dibandingkan jenis pajak lainnya.

Kesimpulan

Penelitian ini dimaksudkan untuk menganalisis potensi  penerimaan, kemudian efektivitas Pajak Penerangan Jalan dan daya pajaknya (tax effort) di  Kota Surakarta, dari analisis data yang telah dilakukan dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:

  1. Analisis ini menunjukkan bahwa kinerja Pajak Penerangan Jalan di  Kota Surakarta cukup bagus dan potensial, diunjukkan dengan pertumbuhan Pajak Penerangan Jalan selama 5 tahun terakhir yang cenderung positif dan berkontribusi besar terhadap Pendapatan Asli Daerah.
  2. Dari analisis ini terlihat bahwa target penerimaan Pajak  Penerangan Jalan yang ditetapkan oleh Dinas Pendapatan Pengelolaan Kekayaan dan Aset (DPPKA) Kota Surakarta belum sesuai dengan potensi riil dari Pajak Penerangan Jalan yang dimiliki Kota Surakarta.
  3. Selama dua tahun yaitu dari tahun 2010  hingga tahun 2011,  realisasi penerimaan Pajak Penerangan Jalan  belum  melampaui potensi riil penerimaan Pajak Penerangan Jalan.
  4. Terdapat selisih sebesar Rp 16.424.371.295,00 antara target yang ditetapkan oleh Dinas Pendapatan Pengelolaan Kekayaan dan Aset (DPPKA) Kota Surakarta dengan perhitungan potensi penerimaan yang telah dilakukan.
  5. Golongan tarif rumah tangga adalah golongan pelanggan listrik dari PT. PLN Persero APJ Surakarta yang memiliki potensi penerimaan Pajak Penerangan Jalan paling besar dibandingkan golongan tarif bisnis dan golongan tarif industri, dengan total potensi selama dua tahun sebesar Rp 29.134.442.782,00.
  6. Hasil perhitungan efektivitas Pajak Penerangan Jalan menunjukan bahwa pemungutan pajak di Kota Surakarta sudah sangat efektif  selama dua tahun terakhir ini, yaitu pada tahun  2010  hingga tahun 2011, sehingga disimpulkan bahwa realisasi penerimaan pajak Penerangan Jalan sudah mencapai potensi yang optimal.
  7. Terdapat perbedaan yang signifikan antara target dan realisasi penerimaan Pajak Penerangan Jalan di  Kota Surakarta dengan potensi Pajak Pajak Penerangan Jalan.
  8. Hasil pengukuran Daya Pajak (Tax Effort) menunjukan bahwa kemampuan membayar pajak (ability to pay) di Kota Surakarta masih tergolong rendah dan masih sangat perlu ditingkatkan lagi ke depan. Peningkatan kemampuan membayar pajak ini bertujuan untuk meningkatkan penerimaan pajak di masa yang akan datang dalam hal ini khususnya Pajak Penerangan Jalan.

Analisis Kinerja Dan Potensi Pajak

Skripsi EkonomiAnalisis Kinerja Dan Potensi Pajak Penerangan Jalan Di Kabupaten Karanganyar

konsumsi masyarakat Analisis Kinerja Dan Potensi Pajak Analisis Kinerja Dan Potensi Pajak konsumsi masyarakat

Latar Belakang Skripsi

Pertumbuhan  ekonomi daerah  yang  tinggi diharapkan dapat mempercepat kegiatan pembagunan yang berguna untuk meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidtesisup masyarakat. Peroses pelaksanaan pembangunan daerah yang bertujuan demi kesejahteraan masyarakat, akan tercapai apabila stabilitas nasional dapat berjalan berkelanjutan. Pembangunan daerah juga dimaksudkan untuk mendapat aspek pemerataan yang berfungsi mempersempit kesenjangan pendapatan dan mengurangi kemiskinan sehingga meningkatkan asas keadilan. Untuk itu melibatkan peran masyarakat dalam pembangunan  tentu sebuah keharusan, demi menciptakan keharmonisan antara pemerintah daerah dan masyarakat. Peran pemerintah daerah ditingkatkan agar dalam pembiayaan pembangunan daerahnya tidak hanya tergantung  pada subsidi atau dana alokasi yang diberikan pemerintah pusat. Apabila hal itu terjadi maka secara tidak langsung Pemda telah membatasi pembangunan itu sendiri.

Pembiayaan yang dilakukan pemerintah tidak hanya didapat dari sektor-sektor unggulan ataupun dari pemberdayaan sektor swasta akan tetapi didapat pula dari pungutan yang dilakuan oleh pemerintah kepada masyarakat. Pungutan tersebut berupa retribusi atau pungutan yang dilakukan secara langsung dan masyarakat dapat secara langsung menerima hasilnya, dan pungutan lainya adalah berupa pajak daerah yang masyarakat tidak dapat secara langsung menikmati pemanfaatanya. Kebijaksanaan dibidang penerimaan daerah, berorientasi pada peningkatan kemampuan daerah untuk membiayai urusan rumah tangga daerah sendiri, diprioritaskan pada penggalian dan mobilisasi sumber-sumber Pendapatan Asli Daerah disamping dari hasil pajak dan bukan pajak.  Jenis pajak daerah  kabupaten atau kota yang  dipungut antara lain pajak hotel, pajak restoran, pajak reklame, pajak penerangan jalan dan pajak parkir  dan pajak pengambilan bahan galian golongan C.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya maka perumusan masalah penelitian antara lain :

1. Bagaimana kondisi keuangan dilihat dari tingkat kontribusi  pajak penerangan jalan terhadap Pendapatan Asli Daerah di Kabupaten Karanganyar pada tahun 2005-2009.

2. Bagaimana kinerja pajak penerangan jalan di Kabupaten Karanganyar jika dilihat  dari  rasio proporsi dan rasio pertumbuhan  dalam matrik kinerja pajak penerangan jalan pada tahun 2005-2009.

3. Bagaimana tingkat  potensi  pajak penerangan jalan di Kabupaten Karanganyar pada tahun 2009.

Tujuan Penelitian 

Kegiatan penelitian ini dilakukan dengan tujuan yaitu ingin mengetahui bagaimana kondisi keuangan kontribusi pajak di daerah Kabupaten Karanganyar.

Kesimpulan

Berdasarkan perumusan masalah yang telah ditetapkan dalam penelitian dan pembahasan pada bab sebelumnya, maka pada bab ini akan disajikan kesimpulan dan saran, antara lain sebagai berikut :

1. Kinerja Pajak Penerangan Jalan di Kabupaten Karanganyar

a. Kontribusi pajak penerangan jalan terhadap pendapatan asli daerah dari tahun ke tahun cenderung menurun dari tahun ke tahun.  Kontribusi terbesar pada tahun 2005 mencapai 35,43% selanjutnya pada tahun 2006 menurun menjadi 29,02%, pada tahun 2007 naik menjadi 31,17% dan tahun 2008 sebesar 31,46 dan kontribusinya kembali menurun pada tahun 2009 yang hanya sebesar 29,65%. Untuk analisis trend dalam kurun waktu 5 (lima) tahun kedepan diprediksi akan mengalami peningkatan jumlah penerimaan pajak penerimaan pajak penerangan jalan.

b. Kinerja pajak penerangan jalan pada tahun 2009 adalah potensial dengan tingkat pertumbuhan 0,20 dan proporsi 6,42. Dalam kurun waktu 5 tahun kinerja pajak penerangan jalan yang terburuk adalah tahun 2009. Karena pada tahun  2005-2008 kinerja pajak penerangan  jalan kinerjanya adalah prima. Pada tahun 2009 tidak hanya pajak penerangan jalan yang mengalami penurunan kinerja. Pos pajak lain dalam tahun tersebut kinerjanya adalah terbelakang hal tersebut dikarenakan tingkat proporsi dan pertumbuhan <  1. Penurunan  tersebut dikarenakan penerimaan pedapatan tahun ini lebih kecil daripada tahun sebelumnya.

c. Pajak penerangan jalan berdasarkan  collection ratio  pada tahun 2005 sebesar 104,77%, tahun 2006 sebesar 101,26%, 2007 sebesar 115,73% dan 2008 sebesar 113,18%  artinya sangat efektif pada tahun 2009 sebesar 99,09% tidak efektif, artinya berdasarkan raiso pengumpulan  dari 2005-2008 pajak penerangan jalan telah mencapai target yang ditetapkan karena > 100%. Sedangkan pada tahun 2009 menurun < 100% artinya penerimaan pajak tersebut tidak sesuai dengan target yang telah ditentukan.

d. Rasio pertumbuhan pajak penerangan  jalan pada tahun 2005 sebesar 0,13, tahun 2006 sebesar 0,09, tahun 2007 sebesar 0,33, tahun 2008 sebesar 0,14 dan pada tahun 2009 sebesar  -0,02. Selama kurun waktu 2005-2008, pertumbuhanya positif  artinya pendapatan yang diterima pada tahun tersebut lebih besar dari tahun  sebelumnya. Sedangkan pada tahun 2009 pertumbuhan pajak penerangan jalan negatif artinya pandapatan pada tahun 2009 lebih kecil daripada tahun sebelumnya atau terjadi penurunan penerimaan pendapatan pajak penerangan jalan.

Analisis Penanaman Modal Asing

Skripsi Ekonomi~ Analisis Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Penanaman Modal Asing Di Daerah Istimewa Yogyakarta Periode 1986 2011

modal-ventura Analisis Penanaman Modal Asing Analisis Penanaman Modal Asing modal ventura

Latar Belakang Skripsi 

Sumber alam suatu Negara terbelakang disebut kurang terolah dalam arti sumber tersebut tidtesisak atau kurang dimanfaatkan. Suatu Negara mungkin saja kekurangan sumber alam, tetapi tidak dalam arti relatifnya. Meskipun suatu Negara miskin dalam sumber alam  tetapi ada kemungkinan di masa depan Negara itu akan berubah menjadi pemilik sumber alam yang besar sebagai hasil penemuan sumber yang sekarang belum diketahui atau karena penggunaan sumber yang ada dengan cara baru. Negara terbelakang sangat mengemukakan  satu sama lainnya.  Karena posisi demografi dan kecenderungannya. Hal mana disebabkan oleh luas, kepadatan, struktur usia dan laju pertumbuhan pnduduk yang beragam.

Namun demikian ada satu kesamaan ciri yaitu pertambahan penduduk yang cepat. Bersamaan dengan tingkat pendapatan yang rendah dan nihilnya tingkat pemupukan modal, maka kian lengkaplah kesulitan bagi Negara seperti itu menopang pertambahan penduduknya. Dan pada saat yang sama output akan meningkat sebagai hasil perbaikan teknologi dan pemupukan modal yang berakibat pada tak adanya perbaikan taraf hidup yang cukup berarti. Sebagian besar Negara terbelakang mempunyai potensi pertumbuhan penduduk yang tinggi serta memiliki tingkat kematian (mortalitas) yang cenderung menurun. Kepadatan penduduk di daerah pertanian begitu tinggi dibandingkan dengan luas tanah yang dapat ditanami. Kelangkaan tanah dalam kaitannya dengan besar penduduk menyebabkan penanaman berlebihan dan penggarapan tanah tanpa sela dengan demikian berarti justru menghambat kemajuan ekonomi.  Di Negara terbelakang dijumpai pengangguran dan pengangguran tersembunyi dalam jumlah besar.  Pengangguran di kota membengkak seiring dengan urbanisasi dan meningkatnya pendidikan. Akan tetapi sector industri tidak berkembang sejalan dengan pertumbuhan tenaga kerja, sehingga memperbesar pengangguran. Disamping itu ada pula penganggur yang berpendidikan. Mereka gagal mendapatkan pekerjaan karena tegarnya struktur dan tiadanya perencanaan tenaga kerja. Dengan tingkat pertumbuhan rata-rata tahunan penduduk kota sebesar 4,5 %, 20 % adalah penganggur.

Rumusan Masalah Penelitian 

Sejak ditetapkannya Undang-Undang penanaman modal asing tahun 1967 ternyata penanaman modal asing di Indonesia mengalami peningkatan. Oleh karena itu menarik kiranya  bila permasalahan ini dianalisis dan dikaji dengan lebih mendalam, terutama faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan investasi penanaman modal asing di DIY, sehingga untuk masa yang akan datang dapat dikembangkan lagi dengan lebih optimal.  Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perkembangan investasi penanaman modal asing di DIY perlu disusun rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut :

  1. Apakah  Produk  Domestik Regional Bruto (PDRB)  DIY berpengaruh terhadap penanaman modal asing?
  2. Apakah Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) berpengaruh terhadap modal asing?
  3. Apakah tingkat inflasi di Indonesia berpengaruh terhadap penanaman modal asing?
  4. Apakah tingkat suku bunga internasional berpengaruh terhadap penanaman modal asing?

Tujuan Penelitian 

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendapatan domestic regional bruto (PDRB), penanaman  modal dalam negeri (PMDN), inflasi dan suku bunga terhadap penanaman modal asing di Daerah Istimewa Yogyakarta periode 1986-2011.  Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder dari variabel PDRB, PMDN, inflasi, dan suku bunga dari periode 1986-2011 yang penulis peroleh dari berbagai sumber. Model regreasi Ordinary Least Square digunakan untuk pengujian hipotesis, dengan menggunakan metode analisis baik metode kualitatif dan kuantitatif.

Kesimpulan

Berdasarkan uraian yang telah disajikan dalam bab-bab sebelumnya dapat diambil beberapa simpulan sebagai berikut :

  1. PDRB terhadap PMA DIY juga mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan sebesar 3,246. Ini berarti bahwa produk domestik yang berkembang dan dihasilkan oleh DIY cukup mendorong investor asing untuk menanamkan modalnya di DIY.
  2. PMDN sebagai realisasi fisik dari adanya PMA mempunyai pengaruh yang  positif dan signifikan dengan PMA DIY sebesar 3,780. Ini berarti bahwa dengan tersedianya fasilitas PMA, pelaksanaan kegiatan investasi ini dapat berjalan dengan lancar.
  3. Tingkat inflasi tidak berpengaruh signifikan terhadap penanaman modal asing di DIY.
  4. Suku bunga Internasional tidak berpengaruh signifikan terhadap penanaman modal asing di DIY.
  5. Fluktuasi tahunan atas PMA di DIY periode 1986-2011 disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya PDRB, PMDN, inflasi dan tingkat suku bunga internasional.
  6. Dari penelitian yang telah dilakukan diketahui bahwa suku bunga internasional dan tingkat inflasi  di Indonesia tidak mempengaruhi perubahan investasi di DIY.

Analisis Daya Saing Ekspor Dan Produk Tekstil Indonesia

Skripsi Ekonomi~ Analisis Daya Saing Ekspor Tekstil Dan Produk Tekstil Indonesia Dibandingkan Dengan Cina  Di Pasar Amerika Serikat Tahun 2001-2008 (Pendekatan RCA Dan CMS)

pedagang kain Analisis Daya Saing Ekspor Dan Produk Tekstil Indonesia Analisis Daya Saing Ekspor Dan Produk Tekstil Indonesia pedagang kain

Latar Belakang Skripsi 

Dengan adanya pengaruh pertumbuhan ekspor tekstil Cina yang semakin merambah ke seluruh dunia, maka hal tersebut akan menekan pertumbuhan ekspor tekstil Indonesia. Pertumbuhan ekspor produk tekstil Cina itu terlihat dari semakin banyaknya produk-produk tekstil Cina yang membanjiri pasar Amerika Serikat.

Pertumbuhan ekonomi Cina yang tinggi bisa sangat membahayakan bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia. Sebagai pengekspor sumber daya alam, Indonesia bisa menarik banyak keuntungan. Namun, pada saat yang sama, industralisasi akan kian sulit akibat persaingan. Salah satu tindakan nyata yang harus dilakukan oleh industri tekstil Indonesia adalah meningkatkan daya saing.

Perumusan Masalah

  1. Bagaimana kinerja ekspor industri TPT Indonesia dibandingkan dengan Cina di pasar Amerika Serikat berdasarkan variabel efek pertumbuhan impor, efek komposisi komoditi dan efek daya saing?
  2. Bagaimana posisi daya saing industri TPT Indonesia dibandingkan dengan Cina di pasar Amerika Serikat?

Tujuan Penelitian 

Tujuan diadakannya penelitian ini adalah ingin mengetahui kinerja ekspor dan impor yang terjadi industri TPT.

Kesimpulan

Dari hasil analisis Constant Market Share, terlihat bahwa efek daya saing dan efek pertumbuhan impor  adalah efek yang paling menentukan dalam peningkatan/penurunan ekspor pakaian jadi Indonesia dan Cina di pasar Amerika Serikat dibandingkan efek komposisi komoditi. Efek daya saing komoditi pakaian jadi Indonesia lebih rendah dari Cina dalam memberikan kontribusi ekspor.

Berdasarkan hasil analisis CMS, kinerja pertumbuhan ekspor Tekstil dan Produk Tekstil Indonesia masih rendah dibandingkan ekspor Tekstil dan Produk Tekstil Cina. Kondisi tersebut disebabkan karena daya saing TPT Indonesia masih rendah dibandingkan daya saing TPT Cina di pasar Amerika Serikat dalam memberikan kontribusi ekspor. Daya saing secara komparatif untuk komoditi pakaian jadi Indonesia lebih baik dibanding komoditi pakaian jadi Cina, hal ini disebabkan ekspor pakaian Indonesia ke Amerika Serikat memberikan kontribisi yang cukup besar terhadap total ekspor Indonesia ke Amerika  Serikat. Dari perkembangan indeks RCA menunjukkan bahwa pangsa pasar Indonesia di Amerika Serikat untuk komoditi pakaian jadi cenderung berfluktuasi dalam setiap tahunnya, sementara  pangsa pasar Cina di Amerika Serikat cenderung bertambah.

 

Analisis Deskriptif Komponen Penawaran Pariwisata

Skripsi Ekonomi~ Analisis Deskriptif Komponen Penawaran Pariwisata  Di Kabupaten Pati

grojogan sewu Analisis Deskriptif Komponen Penawaran Pariwisata Analisis Deskriptif Komponen Penawaran Pariwisata grojogan sewu

Latar Belakang Skripsi 

Pariwisata merupakan suatu kegiatan yang berkaitan dengan wisata untuk menikmati produk-produk wisata ataupun daya tarik wisata. Tindakan mengelola dan memperkenalkan suatu obyek wisata diperlukan agar wisatawan maupun masyarakat mengetahui dan dapat menikmati obyek pariwisata tersebut, kegiatan itu meliputi pembenahan sarana dan prasarana obyek pariwisata. Baik prasarana maupun sarana kepariwisataan sesungguhnya merupakan “tourism supply” yang perlu dipersiapkan atau disediakan bila kita hendak mengembangkan suatu industri wisata.

Dalam kepariwisataan yang dimaksud “tourism supply” adalah meliputi semua daerah tujuan yang ditawarkan kepada wisatawan. Ada empat aspek (4A) yang harus diperhatikan dalam “tourism supply” atau penawaran pariwisata yaitu semua bentuk daya tarik (Attraction), semua bentuk kemudahan untuk memperlancar perjalanan (Accessibility), semua bentuk fasilitas dan pelayanan (Amenity), dan aktivitas wisata (Activities) yang tersedia pada suatu DTW (Daerah Tujuan Wisata) yang dapat memuasakan kebutuhan dan keinginan wisatawan selama mereka berkunjung di DTW tersebut (PUSPARI UNS, 2006).

Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dibuat permasalahan sebagai berikut :

  1. Bagaimanakah profil/ gambaran umum kepariwisataan di Kabupaten Pati dilihat dari komponen penawaran pariwisata?

Tujuan Penelitian 

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimanakah profil/ gambaran umum kepariwisataan di Kabupaten Pati dilihat dari komponen penawaran pariwisata. Analisis data yang digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian adalah dengan menggunakan metode Deskriptif Kualitatif.

Kesimpulan 

Dari hasil kesimpulan dapat disimpulkan bahwa : penilaian kelengkapan komponen penawaran pariwisata dari 12 obyek wisata di Kabupaten Pati hanya 33% atau 4 obyek wisata yang mempunyai skor di atas 35, sedangkan 67% atau 8 obyek wisata yang lainnya mempunyai skor di bawah 35. Skor 39,96 merupakan nilai skor paling tinggi yang memiliki ketersediaan komponen penawaran yang paling lengkap dari atraksi, aksesbilitas (tersedia kondisi jalan yang cukup bagus, tersedia penunjuk jalan, dan sarana transportasi), amenitas (tersedia toko kelontong, warung makan, MCK, jaringan telekomunikasi (BTS), serta tersedia penerangan pada obyek wisata dan jalan umum menuju obyek wisata) dan aktivitas, sedangkan skor 18,66 merupakan nilai yang paling rendah. Obyek wisata di Kabupaten Pati yang mempunyai skor tertinggi 39,96 adalah OW Sendang Tirta Marta Sani dan OW Religi Makam Syech Jangkung. Skor terendah yaitu 18,66 adalah OW Gua Wareh, OW Kebun Kopi Jollong dan OW Air Terjun Grinjingan Sewu.