Analisis rasio likuiditas, solvabilitas dan profitabilitas

Skripsi EkonomiAnalisis rasio likuidtesisitas, solvabilitas dan  profitabilitas pada PRIMKOPTAMA Surakarta   periode 2006 – 2008

pendapatan Analisis rasio likuiditas, solvabilitas dan  profitabilitas Analisis rasio likuiditas, solvabilitas dan  profitabilitas pendapatan

Latar Belakang Skripsi

Koperasi bukan  merupakan  perkumpulan modal yang mengutamakan laba namun lebih kepada  kesejahteraan anggotanya.  Manfaat yang diterima oleh anggota merupakan prioritas utama daripada laba yang diperoleh.  Meskipun demikian harus diusahakan agar koperasi tidak mengalami kerugian. Gambaran tentang perkembangan dan kinerja koperasi dapat dilihat dari laporan keuangannya.  Oleh sebab itu penilaian kinerja sangat penting untuk dilakukan terutama bagi badan perkreditan, agar kesejahteraan anggota maupun koperasi itu sendiri tetap bertahan.

Rumusan Masalah

Perumusan masalah akan memberikan arahan dalam membahas permasalahan yang sedang diteliti. Adapun perumusan masalah berdasarkan uraian tersebut di atas antara lain:

  1. Berapa tingkat    rasio  likuiditas,    solvabilitas    dan profitabilitas PRIMKOPTAMA Surakarta untuk periode tahun 2006, 2007 dan 2008 ?
  2. Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya kenaikan/penurunan rasio Likuiditas,  Solvabilitas  dan Profitabilitas  PRIMKPOTAMA Surakarta periode tahun 2006, 2007 dan 2008 ?

Kesimpulan

Bukti yang penulis dapatkan dari analisis data yang telah dilakukan penulis digunakan untuk mengambil kesimpulan yang dinyatakan sebagai berikut :

  • Ditinjau dari Likuiditasnya

Bahwa likuiditas PRIMKOPTAMA Surakarta apabila dibandingkan dengan  Peraturan Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah RI No. 14/Per/M.KUKM/XII/2009 berada dalam keadaan tidak baik. Kondisi tersebut berarti bahwa PRIMKOPTAMA Surakarta tidak mempunyai kemampuan yang cukup dalam memenuhi kewajiban lancar  dengan menggunakan aktiva lancar yang dimiliki.

  • Ditinjau dari Solvabilitasnya

Bahwa solvabilitas PRIMKOPTAMA Surakarta apabila dibandingkan Peraturan Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah RI No. 14/Per/M.KUKM/XII/2009 dinyatakan dalam keadaan yang tidak baik. Sehingga dikatakan tidak mampu melunasi utang jangka panjangnya pada saat jatuh tempo.

  • Ditinjau dari Profitabilitas

Bahwa tingkat profitabilitas PRIMKOPTAMA Surakarta apabila dibandingkan  Peraturan Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah RI No. 14/Per/M.KUKM/XII/2009 dinyatakan dalam keadaan tidak baik. Sehingga kemampuan dalam menghasilkan laba dinyatakan masih rendah.

  •  Secara umum PRIMKOPTAMA mempunyai kinerja yang kurang baik karena  mempunyai rasio likuiditas,  rasio  solvabilitas dan rasio profitabilitas yang rendah.

Penerapan kebijakan penjualan secara tunai dan kredit

Skripsi Ekonomi~ Penerapan kebijakan penjualan secara tunai dan kredit pada PT. Ratna jaya mebel

industri mebel Penerapan kebijakan penjualan secara tunai dan kredit Penerapan kebijakan penjualan secara tunai dan kredit industri mebel

Latar Belakang Skripsi 

Penjualan secara tunai atau  cash  yaitu  penjualan yang cara pembayarannya dilakukan secara langsung atau tunai pada saat transakasi penjualan itu dilakukan. Sedangkan penjualan secara kredit yaitu penjualan yang cara pembayarannya dilakukan secara bertahap atau berangsuran dengan batas waktu yang telah ditentukan oleh perusahaan, dan penbeli juga memperoleh beban bunga yang harus ditanggung pada setiap pembayarannya.

PT RATNA JAYA MEBEL harus dapat memenuhi kebutuhan konsumen serta meningkatkan mutu penjualannya agar memperoleh keuntungan dan menghindari kerugian dari masing–masing penjualan yang dilakukan.  Keuntungan yang diperoleh di bidtesisang penjualan adalah dari selisih harga per unit (harga penjualan per unit dikurangi biaya produksi per unit).

Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang seperti yang telah diuraikan di atas, maka permasalahan yang harus diselesaikan adalah sebagai berikut :

  1. Bagaimana penerapan sistem penjualan secara  tunai, dan penjualan secara kredit pada PT RATNA JAYA MEBEL?
  2. Dengan  system penjualan tunai dan kredit, sistem penjualan mana yang paling menguntungkan bagi PT RATNA JAYA MEBEL?

Tujuan Penelitian 

Tujuan umum dalam penjualan adalah untuk mencapai volume penjualan tertentu,mendapatkan laba tertentu,dan menunjang pertumbuhan perusahaan. Tujuan yang  hendak  dicapai dalam penelitian ini adalah untuk menerapkan atau membandingkan antara penjualan tunai dan kredit. Penelitian ini semoga dapat memberi sumbangan pemikiran bagi perusahaan dalam menentukan kebijakan terbaik untuk para pelanggan dalam melakukan penjualannya dan bagi penulis dapat bermanfaat sebagai sarana untuk menerapkan ilmu yang diperoleh selama masa studi, serta memenuhi persyaratan gelar Ahli Madya.

Kesimpulan 

Berdasarkan analisa data penelitian dan pengumpulan data, maka dapat diambil kesimpulan bahwa pada tahun 2011 hasil prosentase dari masing-masing penjualan menunjukkan, penjualan tunai 62, 17 % dan penjualan kredit 37, 83 %. Maka sistem penjualan  tunai  pada PT RATNA JAYA MEBEL sebaiknya terus ditingkatkan  karena penjualan  tunai  lebih baik dan menguntungkan perusahaan karena perusahaan bisa langgsung menerima kas, memperoleh laba langsung dari penjualan  dan  juga mengurangi kemacetan perputaran uang.

Incoming search terms:

Faktor-faktor Yang Berpengaruh Terhadap Kesempatan Investasi

Skripsi Ekonomi~ Pengaruh Arus Kas Bebas, Profitabilitas, Dan Pertumbuhan Perusahaan Terhadap Kesempatan Investasi (Studi Empiris pada Perusahaan non Keuangan yang Terdaftar di BEI Periode 2008-2010)

akuntansi (1) Faktor-faktor Yang Berpengaruh Terhadap Kesempatan Investasi Faktor-faktor Yang Berpengaruh Terhadap Kesempatan Investasi akuntansi 11

Latar Belakang Skripsi 

Berbagai kondisi perusahaan  dapat  mempengaruhi nilai arus  kas bebas,  misalnya  bila perusahaan memiliki arus  kas bebas tinggidtesisengan tingkat  pertumbuhan rendah maka arus  kas bebas ini seharusnya didistribusikan kepada pemegang saham, tetapi bila perusahaan memiliki arus kas bebas tinggi dan  tingkat pertumbuhan tinggi maka arus  kas bebas ini dapat ditahan sementara dan bisa dimanfaatkan untuk investasi pada periode mendatang.

Karena kondisi tersebut di atas, maka mengindikasikan bahwa adanya arus kas bebas yang besar dalam suatu perusahaan belum tentu menunjukkan bahwa  perusahaan tersebut akan membagikan dividen dengan jumlah yang lebih besar dibandingkan dengan ketika perusahaan memiliki arus kas bebas yang kecil.

Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah yang akan diteliti dapat dirumuskan sebagai berikut ini.

1. Apakah  arus kas bebas  berpengaruh terhadap  kesempatan investasi perusahaan non keuangan yang terdaftar di BEI tahun 2008-2010?

2. Apakah  profitabilitas  berpengaruh terhadap  kesempatan investasi perusahaan non keuangan yang terdaftar di BEI tahun 2008-2010?

3. Apakah  pertumbuhan perusahaan  berpengaruh terhadap  kesempatan investasi  perusahaan non keuangan yang terdaftar di BEI tahun 2008-2010?

Tujuan Penelitian 

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh bukti empiris terkait pengaruh arus kas bebas, profitabilitas  dan pertumbuhan perusahaan  terhadap  kesempatan investasi pada perusahaan non keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Untuk tujuan tersebut penelitian ini menggunakan 70  perusahaan non keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia yang dipilih dengan menggunakan purposive sampling.

Simpulan 

Pengujian data arus kas bebas, profitabilitas, pertumbuhan perusahaan, dan tipe industri  terhadap kesempatan investasi yang dilakukan dengan menggunakan model regresi berganda menunjukkan hasil bahwa  arus kas bebas dan profitabilitas berpengaruh terhadap kesempatan investasi sedangkan pertumbuhan perusahaan  dan tipe industri  tidak berpengaruh terhadap kesempatan investasi. Arus kas bebas berpengaruh  terhadap kesempatan investasi. Dengan peningkatan jumlah  arus kas bebas menyebabkan peningkatan  kesempatan perusahaan untuk melakukan investasi.

Profitabilitas perusahaan juga berpengaruh terhadap kesempatan investasi. Tingkat profitabilitas yang  tinggi pada perusahaan akan meningkatkan kemungkinan perusahaan untuk  membuka link  atau cabang yang baru serta memperbesar investasi untuk membuka investasi baru. Tingkat keuntungan yang tinggi menandakan pertumbuhan perusahaan pada masa mendatang  sehingga mempunyai kemungkinan untuk mempunyai kesempatan investasi yang tinggi. Selanjutnya,  hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa perubahan pertumbuhan perusahaan  tidak  berpengaruh terhadap  kesempatan investasi perusahaan pada masa yang akan datang (IOSt+1). Kesimpulan ini mengindikasikan bahwa tinggi rendahnya variabel tersebut tidak  berpengaruh pada kesempatan perusahaan untuk melakukan investasi.

Break Even Point Penjualan Sebagai Alat Perencanaan Laba

Skripsi Ekonomi~ Analisis Break Even Point Terhadap Penjualan Sebagai Alat Perencanaan Laba Pada PT. Putri Salju Karanganyar

pendapatan Break Even Point Penjualan Sebagai Alat Perencanaan Laba Break Even Point Penjualan Sebagai Alat Perencanaan Laba pendapatan

Latar Belakang Skripsi

Ukuran yang seringkali untuk menilai sukses tidtesisaknya manajemen perusahaan adalah laba yang diperoleh perusahaan. Laba disamping sebagai akhir proses manajemen, laba juga sebagai alat yang sangat penting bagi kelangsungan perusahaan itu sendiri.   Laba adalah selisih antara pendapatan selama satu periode selama satu periode tertentu dengan jumlah seluruh biaya yang menjadi beban selama waktu yang sama. Laba sebagai tujuan utama sangat dipengaruhi oleh tiga faktor utama yaitu harga jual produk, biaya-biaya dan volume penjualan.

Manajemen di perusahaan yang berorientasi pada laba dituntut untuk mempelajari hubungan antara biaya, volume dan laba. Studi ini biasanya disebut analisis biaya volume laba. Analisis ini dapat menggunakan analisis Break Even Point (BEP), karena analisis BEP menyajikan informasi hubungan biaya, volume, laba kepada manajemen, sehingga memudahkan manajemen dalam menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi yang mempengaruhi pencapaian laba perusahaan di masa depan (Mulyadi, 1990: 468). Menurut

Perumusan Masalah

  1. Bagaimana penerapan analisis Break Even Point terhadap penjualan pada PT. Putri Salju?
  2. Berapakah jumlah penjualan yang harus dicapai perusahaan untuk mendapat laba bersih usaha sebesar 15 % dan 25% dari penjualan?
  3. Berapakah jumlah penjualan yang harus dicapai perusahaan untuk mendapat laba kotor penjualan sebesar 50% dari penjualan?

Simpulan

Berdasar analisis data dan pembahasan pada bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan mengenai hasil penerapan analisis  break even point terhadap penjualan sebagai alat perencanaan laba pada PT. Putri Salju Karanganyar sebagai berikut.

  1. Dari hasil analisis Break Even Point terhadap penjualan es balok dan  ice tube pada tahun 2006, maka dapat diketahui bahwa  break even dapat diraih saat volume penjualan  sebesar Rp2.847.251.367,00. Artinya jika perusahaan merencanakan tingkat  keuntungan tertentu maka perusahaan harus mampu memperoleh pendapatan minimal Rp2.847.251.367,00 atau perusahaan mampu menjual produk (es balok dan  ice tube) sebanyak 364.164 unit. Untuk perincian banyaknya jumlah produk yang dijual tiap jenis produk sebagai berikut:
  • Es Balok jenis harga I sebanyak 110.812 balok.
  • Es Balok jenis harga II sebanyak 18.119 balok.
  • Es Balok jenis harga III sebanyak 16.061 balok.
  • Es Balok jenis harga IV sebanyak 70.641 balok.
  • Es Balok jenis harga V sebanyak 128.298 balok.
  • Es Balok jenis harga VI sebanyak 13.589 balok.
  • Ice Tube sebanyak 6.644 kantong.

Untuk tahun 2006 perusahaan mampu melakukan penjualan produk sebesar Rp3.753.941.400,00, maka pada tahun 2006 perusahaan tidak mengalami rugi atau berada di atas titik impas (break even).

  1. Pada penentuan laba yang direncanakan sebesar 15% dari penjualan, maka didapat bahwa perusahaan harus mampu melakukan penjualan sebesar Rp14.181.175.346,00 dengan perincian produk yang harus terjual yaitu: Es Balok I sebanyak 145.760 balok, Es Balok II sebanyak 23.833 balok, Es Balok III sebanyak 21.127 balok, Es Balok IV sebanyak 92.920  balok, Es Balok V sebanyak 168.761 balok, Es Balok VI sebanyak 17.875  balok, dan  Ice Tube  sebanyak 8.739 kantong. Pada penentuan laba bersih yang ditingkatkan menjadi 25% dari penjualan, maka perusahaan harus mampu menjual Es Balok I sebanyak 184.567 balok, Es Balok II sebanyak 30.178 balok, Es Balok III sebanyak 26.752 balok, Es Balok IV sebanyak 117.658 balok, Es Balok V sebanyak 213.691 balok, Es Balok VI sebanyak 22.634  balok, dan  Ice Tube  sebanyak 11.065 kantong. Jadi dalam hal ini, jika perusahaan ingin meningkatkan laba dari tahun sebelumnya maka perusahaan harus meningkatkan tingkat penjualannya.
  2. Pada penentuan laba kotor yang direncanakan sebesar 50% dari penjualan, maka didapat bahwa perusahaan harus mampu melakukan penjualan sebesar Rp5.553.321.138,00 dengan perincian produk yang harus terjual yaitu: Es Balok I sebanyak 216.129 balok, Es Balok II sebanyak 35.339 balok, Es Balok III sebanyak 31.326 balok, Es Balok IV sebanyak 137.778 balok, Es Balok V sebanyak 250.234 balok, Es Balok VI sebanyak 26.504 balok, dan Ice Tube sebanyak 12.958 kantong.
Incoming search terms:

Analisis Pengaruh Informasi Terhadap Laporan Tahunan

Skripsi Ekonomi~ Pengaruh Informasi Keuangan Dan Non Keuangan Terhadap Tingkat Kelengkapan Pengungkapan Sukarela Dalam Laporan Tahunan Perusahaan (Studi Empiris terhadap Perusahaan Property yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2005-2007)

akuntansi (1) Analisis Pengaruh Informasi Terhadap Laporan Tahunan Analisis Pengaruh Informasi Terhadap Laporan Tahunan akuntansi 11

Latar Belakang Skripsi

Besarnya biaya dan manfaat pengungkapan informasi tertentu berbeda antara perusahaan satu dengan perusahaan yang lain. Biaya langsung pengungkapan informasi bagi perusahaan yang besar akan lebih rendah karena terdapatnya unsur biaya tetap. Kerugian persaingan yang diakibatkan oleh pengungkapan informasi mengenai riset dan pengembangan lebih besar untuk perusahaan yang bergerak dalam industri obat dibanding dengan industri lain.

Oleh karena itu,  trade off biaya dan manfaat pengungkapan informasi secara sukarela kemungkinan dipengaruhi oleh karakteristik-karakteristik tertentu. Penelitian tentang kelengkapan pengungkapan dalam laporan tahunan dan faktor-faktor yang mempengaruhinya merupakan hal yang penting dilakukan. Dimana akan memberikan gambaran tentang sifat perbedaan kelengkapan pengungkapan antar perusahaan dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, serta dapat memberikan petunjuk tentang kondisi perusahaan pada suatu masa pelaporan. Dalam pencapaian efisiensi dan sebagai sarana akuntabilitas publik, pengungkapan laporan menjadi faktor yang signifikan.  Pengungkapan laporan keuangan dapat dilakukan dalam bentuk penjelasan mengenai kebijakan akuntansi yang ditempuh, kontinjensi, metode persediaan, dan jumlah saham yang beredar dan ukuran alternatif, misalnya pos-pos yang dicatat dalam historical cost.

Perumusan Masalah

1.  Apakah informasi keuangan (likuidtesisitas, leverage, profitabilitas, ukuran perusahaan) berpengaruh terhadap tingkat kelengkapan pengungkapan sukarela laporan tahunan perusahaan property yang terdaftar di BEI?

2.  Apakah informasi non keuangan (kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional) berpengaruh terhadap tingkat kelengkapan pengungkapan sukarela laporan tahunan perusahaan property yang terdaftar di BEI

Tujuan Penelitian 

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh informasi keuangan dan non keuangan terhadap tingkat kelengkapan pengungkapan sukarela laporan tahunan perusahaan property yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode tahun 2005-2007. Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh perusahaan property yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.  Sampel diambil dengan metode purposive sampling.

Kesimpulan 

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh informasi keuangan dan non keuangan terhadap tingkat kelengkapan pengungkapan sukarela laporan tahunan perusahaan property yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode tahun 2005-2007. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan dua persamaan regresi linier berganda dengan bantuan SPSS 15  For Windows. Dari hasil analisis data yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :

1.  Likuiditas tidak berpengaruh signifikan  terhadap tingkat pengungkapan sukarela pada tingkat signifikansi 5%. Hal ini dapat dibuktikan dengan tingkat signifikansi sebesar 0.490.

2.  leverage  berpengaruh signifikna terhadap tingkat pengungkapan sukarela. Hal ini dapat dibuktikan dengan nilai signifikansi sebesar 0.004.

3.  Profitabilitas berpengaruh signifikan  terhadap tingkat pengungkapan sukarela. Hal ini dapat dibuktikan dengan nilai signifikansi sebesar 0.017.

4.  Ukuran perusahaan  berpengaruh signifikan terhadap tingkat pengungkapan sukarela. Hal ini dapat dibuktikan  dengan nilai signifikansi sebesar 0.004.

5.  kepemilikan manajerial tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat pengungkapan sukarela. Hal ini dapat dibuktikan dengan tingkat signifikansi sebesar 0.580.

6.  kepemilikan institusional  tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat pengungkapan sukarela. Hal  ini dapat dibuktikan  dengan nilai signifikansi sebesar 0.294.