Break Even Point Penjualan Sebagai Alat Perencanaan Laba

Skripsi Ekonomi~ Analisis Break Even Point Terhadap Penjualan Sebagai Alat Perencanaan Laba Pada PT. Putri Salju Karanganyar

pendapatan Break Even Point Penjualan Sebagai Alat Perencanaan Laba Break Even Point Penjualan Sebagai Alat Perencanaan Laba pendapatan

Latar Belakang Skripsi

Ukuran yang seringkali untuk menilai sukses tidtesisaknya manajemen perusahaan adalah laba yang diperoleh perusahaan. Laba disamping sebagai akhir proses manajemen, laba juga sebagai alat yang sangat penting bagi kelangsungan perusahaan itu sendiri.   Laba adalah selisih antara pendapatan selama satu periode selama satu periode tertentu dengan jumlah seluruh biaya yang menjadi beban selama waktu yang sama. Laba sebagai tujuan utama sangat dipengaruhi oleh tiga faktor utama yaitu harga jual produk, biaya-biaya dan volume penjualan.

Manajemen di perusahaan yang berorientasi pada laba dituntut untuk mempelajari hubungan antara biaya, volume dan laba. Studi ini biasanya disebut analisis biaya volume laba. Analisis ini dapat menggunakan analisis Break Even Point (BEP), karena analisis BEP menyajikan informasi hubungan biaya, volume, laba kepada manajemen, sehingga memudahkan manajemen dalam menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi yang mempengaruhi pencapaian laba perusahaan di masa depan (Mulyadi, 1990: 468). Menurut

Perumusan Masalah

  1. Bagaimana penerapan analisis Break Even Point terhadap penjualan pada PT. Putri Salju?
  2. Berapakah jumlah penjualan yang harus dicapai perusahaan untuk mendapat laba bersih usaha sebesar 15 % dan 25% dari penjualan?
  3. Berapakah jumlah penjualan yang harus dicapai perusahaan untuk mendapat laba kotor penjualan sebesar 50% dari penjualan?

Simpulan

Berdasar analisis data dan pembahasan pada bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan mengenai hasil penerapan analisis  break even point terhadap penjualan sebagai alat perencanaan laba pada PT. Putri Salju Karanganyar sebagai berikut.

  1. Dari hasil analisis Break Even Point terhadap penjualan es balok dan  ice tube pada tahun 2006, maka dapat diketahui bahwa  break even dapat diraih saat volume penjualan  sebesar Rp2.847.251.367,00. Artinya jika perusahaan merencanakan tingkat  keuntungan tertentu maka perusahaan harus mampu memperoleh pendapatan minimal Rp2.847.251.367,00 atau perusahaan mampu menjual produk (es balok dan  ice tube) sebanyak 364.164 unit. Untuk perincian banyaknya jumlah produk yang dijual tiap jenis produk sebagai berikut:
  • Es Balok jenis harga I sebanyak 110.812 balok.
  • Es Balok jenis harga II sebanyak 18.119 balok.
  • Es Balok jenis harga III sebanyak 16.061 balok.
  • Es Balok jenis harga IV sebanyak 70.641 balok.
  • Es Balok jenis harga V sebanyak 128.298 balok.
  • Es Balok jenis harga VI sebanyak 13.589 balok.
  • Ice Tube sebanyak 6.644 kantong.

Untuk tahun 2006 perusahaan mampu melakukan penjualan produk sebesar Rp3.753.941.400,00, maka pada tahun 2006 perusahaan tidak mengalami rugi atau berada di atas titik impas (break even).

  1. Pada penentuan laba yang direncanakan sebesar 15% dari penjualan, maka didapat bahwa perusahaan harus mampu melakukan penjualan sebesar Rp14.181.175.346,00 dengan perincian produk yang harus terjual yaitu: Es Balok I sebanyak 145.760 balok, Es Balok II sebanyak 23.833 balok, Es Balok III sebanyak 21.127 balok, Es Balok IV sebanyak 92.920  balok, Es Balok V sebanyak 168.761 balok, Es Balok VI sebanyak 17.875  balok, dan  Ice Tube  sebanyak 8.739 kantong. Pada penentuan laba bersih yang ditingkatkan menjadi 25% dari penjualan, maka perusahaan harus mampu menjual Es Balok I sebanyak 184.567 balok, Es Balok II sebanyak 30.178 balok, Es Balok III sebanyak 26.752 balok, Es Balok IV sebanyak 117.658 balok, Es Balok V sebanyak 213.691 balok, Es Balok VI sebanyak 22.634  balok, dan  Ice Tube  sebanyak 11.065 kantong. Jadi dalam hal ini, jika perusahaan ingin meningkatkan laba dari tahun sebelumnya maka perusahaan harus meningkatkan tingkat penjualannya.
  2. Pada penentuan laba kotor yang direncanakan sebesar 50% dari penjualan, maka didapat bahwa perusahaan harus mampu melakukan penjualan sebesar Rp5.553.321.138,00 dengan perincian produk yang harus terjual yaitu: Es Balok I sebanyak 216.129 balok, Es Balok II sebanyak 35.339 balok, Es Balok III sebanyak 31.326 balok, Es Balok IV sebanyak 137.778 balok, Es Balok V sebanyak 250.234 balok, Es Balok VI sebanyak 26.504 balok, dan Ice Tube sebanyak 12.958 kantong.
Incoming search terms:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *