Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Brand Switching Pada Rokok

Skripsi Ekonomi ~ Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Brand Switching Pada Produk Rokok Djarum Black  (Studi Kasus pada Warga Kecamatan Grogol Kabupaten Sukoharjo)

rokok djarum Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Brand Switching Pada Rokok Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Brand Switching Pada Rokok rokok djarum

Latar Belakang Skripsi 

Konsumen  dihadapkan  pada berbagai pilihan merek untuk satu jenis produk  rokok, produk rokok ini sendiri terbagi dalam berbagai merek. Perusahaan-perusahaan besar memperebutkan marketshare atau pangsa pasar produk rokok di Indonesia seperti: Dji Sam Soe, Djarum, Bentoel, Gudang Garam. Mereka berupaya merebut pangsa pasar dengan berbagai strategi pemasarannya termasuk bagaimana membuat merk produk mereka diterima dipasar. Konsumen sendiri dalam menghadapi adanya berbagai pilihan merk produk rokok sekarang ini cenderung untuk tetap loyal pada satu merk produk rokok. Banyaknya konsumsi rokok ini ternyata tidtesisak hanya disebabkan oleh kebutuhan masyarakat tetapi juga disebabkan oleh minat konsumen untuk membeli produk baru untuk memenuhi kebutuhan  akan selera konsumen (Infokom, 2001).

Industri rokok  adalah  industri yang terbukti kuat dalam menahan dampak krisis moneter global dan nasional. Pada saat pertumbuhan ekonomi yang lamban bahkan sempat minus ternyata di masa krisis moneter hal ini tidak berdampak negatif pada  industri rokok di Indonesia. Resesi ekonomi yang dimulai dengan krisis moneter sejak Juli 1997 tidak terlalu berpengaruh dalam kegiatan industri tersebut. Bahkan pada tahun 1997  yang merupakan awal dari krisis ekonomi penerimaan cukai negara dari industri rokok menjadi Rp 4,792 triliun dan tahun 1998 melonjak lagi menjadi Rp 7,391 triliun. Hal ini berulang lagi pada saat krisis global di tahun 2008 lalu. Di saat krisisglobal 2008 yang melibas banyak perusahaan dan berimbas pada banyaknya industri yang melakukan pemutusan hubungan kerja besar-besaran, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai justru melaporkan penerimaan cukai rokok per 30 Desember 2008 menembus angka Rp 50,2 triliun atau 109,9 persen dari target yang ditetapkan pemerintah (Andoyo dalam www. kompas .com).

Rumusan Masalah 

1.  Apakah atribut produk (product atributes) yang termasuk merek, kemasan, jaminan, pelayanan  memiliki pengaruh yang positif terhadap perpindahan (brand switching) pada perokok?

2.  Apakah harga produk memiliki pengaruh yang positif terhadap perpindahan merek (brand switching) pada perokok?

3.  Apakah promosi (promotion) yang dilakukan di televisi serta media cetak  memiliki pengaruh yang positif terhadap perpindahan merek (brand switching) pada perokok?

4.  Apakah persediaan produk (product distribution) yaitu Bath Stock/Lot Size Inventory  memiliki pengaruh yang positif terhadap perpindahan merek  (brand switching) pada perokok?

Tujuan Penelitian 

Kegiatan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Faktor-Faktor apa saja Yang Mempengaruhi Brand Switching Pada Produk Rokok Djarum Black .

Kesimpulan 

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1.  Persamaan regresi yang dihasilkan adalah : Y = 1,090 + 0,537X1 + 1,142X2  + 0,591X3 + 0,616X4

Y :Brand Switching

X1 : Atribut Produk

X2 : Harga

X3 : Promosi

X4 : Persediaan Produk

2.  Variabel  atribut produk  dengan thitung  > ttabel  (3,054  > 1,985) dan nilai probabilitas < 0,05 (taraf signifikansi 5%), maka untuk variabel  atribut produk  hipotesis  H0  ditolak  artinya bahwa  atribut produk  berpengaruh secara signifikan terhadap brand switching.

3.  Variabel harga dengan  thitung > ttabel (4,163 > 1,985) dan nilai probabilitas < 0,05 (taraf signifikansi 5%), maka untuk variabel harga hipotesis  H0 ditolak artinya bahwa harga berpengaruh secara signifikan terhadap brand switching.

4.  Variabel promosi thitung > ttabel (2,162 > 1,985) dan nilai probabilitas < 0,05 (taraf signifikansi 5%), maka untuk variabel promosi hipotesis H0 ditolak  artinya bahwa  promosi  berpengaruh secara signifikan terhadap  brand switching.

5.  Variabel  persediaan produk  thitung  > ttabel  (2,247  > 1,985) dan nilai probabilitas < 0,05 (taraf signifikansi 5%), maka untuk variabel persediaan produk hipotesis H0 ditolak artinya bahwa persediaan produk berpengaruh secara signifikan terhadap brand switching.

6.  Diketahui bahwa Fhitung  > Ftabel  (30,435  >  2,53) dan nilai probabilitas sebesar 0,000 < 0,05 maka variabel  atribut produk, harga, promosi dan persediaan produk secara bersama-sama atau serentak berpengaruh secara signifikan terhadap brand switching.

 

Analisis Faktor-Faktor Perpindahan Merek Pada Operator Selular

Skripsi Ekonomi ~ Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Niat Perpindahan Merek Pada Operator Selular Dari Providtesiser Lain Ke Exelcomindo (Studi Pada Mahasiswa Universitas Sebelas Maret)

Logo Operator seluler Indonesia Analisis Faktor-Faktor Perpindahan Merek Pada Operator Selular Analisis Faktor-Faktor Perpindahan Merek Pada Operator Selular Logo Operator seluler Indonesia

Latar Belakang 

Seperti yang terlihat di lapangan bahwa mulai tahun 2007 urusan tarif dan turunannya cukup dilematis dan menarik disimak. Persaingan tarif yang masih tetap panas di industry operator selular berlangsung hingga sekarang (Tahun 2009). Dan hal inilah yang mungkin menyebabkan konsumen untuk melakukan brand switching (perpindahan merek) hanya demi untuk menghemat pengeluaran mereka ataupun untuk mendapatkan kualitas layanan dan kemudahan yang lebih baik.

Konsumen akan membeli produk karena alasan-alasan tertentu, atau paling tidak adanya keyakinan bahwa kemampuan produk dalam memenuhi kebutuhan mempunyai nilai yanglebih besar dibanding biaya yang akan dikeluarkan. Variasi produk yang bermacam ditambah aktivitas promosi yang sangat persuasif dan harga sim card (kartu telepon) untuk telepon selular yang harganya murah dengan bonus yang tinggi, tentu akan mendorong munculnya perilaku perpindahan merek di kalangan konsumen. Bermacam stimulan yang disodorkan di pasar bukan saja mempengaruhi perilaku perpindahan mereka tetapi juga mendorong perilaku mencoba produk baru bagi yang belum pernah mencobanya. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa masih ada sekelompok segmen yang sampai saat ini belum termotivasi untuk mencoba sim card (kartu telepon) merek Exelcomindo.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka penulis merumuskan yang menjadi pokok permasalahan sebagai berikut:

  1. Apakah atribut produk  mempengaruhi  niat  konsumen untuk ingin berpindah merek ke produk Exelcomindo?
  2. Apakah harga  mempengaruhi  niat  konsumen untuk ingin berpindah merek ke produk Exelcomindo?
  3. Apakah promosi mempengaruhi niat konsumen untuk ingin berpindah merek ke produk Exelcomindo?
  4. Apakah persediaan produk mempengaruhi niat konsumen untuk ingin berpindah merek ke produk Exelcomindo?
  5. Apakah tingkat kegagalan service menyebabkan seseorang berniat untuk ingin berpindah merek ke produk Exelcomindo?

Tujuan Penelitian 

Secara umum tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah ingin mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi konsumen untuk berpindah merk pada produk tertentu.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah diteliti, dianalisis dan dibahas mengenai analisis faktor-faktor yang mempengaruhi niat  perpindahan merek pada operator seluler dari provider lain menuju ke Exelcomindo dapat ditarik

kesimpulan:

  1. Faktor atribut produk mempengaruhi niat konsumen dalam perpindahan merek dari provider lain menuju ke Exelcomindo
  2. Faktor Harga mempengaruhi niat konsumen dalam perpindahan merek dari provider lain menuju ke Exelcomindo.
  3. Faktor promosi tidak mempengaruhi niat konsumen dalam perpindahan merek dari provider lain menuju ke Exelcomindo.
  4. Faktor persediaan produk mempengaruhi niat konsumen dalam perpindahan merek dari provider lain menuju ke Exelcomindo.
  5. Faktor Kegagalan Service tidak mempengaruhi niat konsumen dalam perpindahan merek dari provider lain menuju ke Exelcomindo.
  6. Faktor rekomendasi tidak mempengaruhi niat konsumen dalam perpindahan merek dari provider lain menuju ke Exelcomindo.
  7. Faktor atribut produk, harga, promosi, persediaan produk, kegagalan service, dan rekomendasi secara bersama-sama mempengaruhi niat konsumen dalam perpindahan merek dari provider lain menuju ke Exelcomindo.
Incoming search terms:

Analisis Pengaruh Kualitas Pelayanan Terhadap Kepuasan Konsumen

Skripsi Ekonomi ~ Analisis  Pengaruh Kualitas Pelayanan Terhadap Kepuasan Konsumen Pada PT.Nasmoco Bengawan Motor Solo Baru pelayanan pdam Analisis  Pengaruh Kualitas Pelayanan Terhadap Kepuasan Konsumen Analisis  Pengaruh Kualitas Pelayanan Terhadap Kepuasan Konsumen pelayanan pdam

 

Latar Belakang Skripsi 

Bagi  PT.Nasmoco Bengawan Motor Solo Baru, dalam berbinis tidtesisak hanya mementingkan kualitas produknya saja. Layanan purnajual (after-sales service) juga menjadi perhatian untuk menjaga loyalitas para pelanggan. Kualitas pelayanan purna jual layaknya sebuah kendaraan bermotor, maka perawatan rutin adalah keharusan bagi para konsumen.seperti halnya tubuh manusia yang membutuhkan makan dan minum untuk membuat sehat, Dalam melakukan perawatan pihak PT. Nasmoco Bengawan Motor Solo Baru  telah memiliki bengkel  dengan mekanik yang telah terlatih serta sparepart yang terjamin keaslianya. Bengkel  di PT. Nasmoco Bengawan Motor Solo Baru telah mempunyai  SOP (Standart Operation Procedure) untuk kepuasan pelanggan, Sehingga mekanik yang mereka miliki pada umumnya telah dilatih terlebih dahulu untuk menjamin pelayanan serta kualitas pekerjaan  agar dapat memuaskan pelanggan. Pelayanan/Service  ibarat pisau. Pisau yang digunakan dengan baik dan bertanggung jawab akan membantu untuk memotong daging, mengiris sayuran, dan mempercepat pekerjaan. Penggunaan pisau dapat digunakan untuk merampok atau membunuh termasuk membunuh citra perusahaan. Perlu dipahami pula bahwa kualitas tidak boleh dipandang sebagai salah satu ukuran sempit hanya dari kualitas produk dan jasa  semata. Kualitas meliputi keseluruhan aspek organisasi. Zeithaml Parasuraman & Berry (1988) (dalam Tjiptono 2002:69) mengemukakan terdapat lima dimensi yang menentukan kualitas pelayanan ditinjau dari sudut pandang pelanggan, yaitu : Reliability, Responsiveness, Assurance, Emphaty, Tangibles.

Rumusan Masalah

1. Apakah Tangibles mempunyai pengaruh terhadap kepuasan konsumen pada PT.Nasmoco Bengawan Motor Solo Baru?

2. Apakah Reliability mempunyai pengaruh terhadap kepuasan konssumen pada PT.Nasmoco Bengawan Motot Solo Baru?

3. Apakah  Responsiveness  mempunyai pengaruh terhadap kepuasan konsumen pada PT.Nasmoco Bengawan Motor Solo Baru? 4. Apakah  Assurance  mempunyai pengaruh terhadap kepuasan konsumen pada PT.Nasmoco Bengawan Motor Solo Baru?

5. Apakah Empathy mempunyai pengaruh terhadap kepuasan konsumen pada PT.Nasmoco Bengawan Motor Solo Baru?

6. Variabel manakah yang paling dominan pengaruhnya (Reliability, Responsiveness,     Assurance,  Emphaty, Tangibels)  terhadap kepuasan konsumen di PT.Nasmoco Bengawan Motor Solo Baru ?

7. Apakah ada pengaruh yang signifikan dimensi kualitas pelayanan secara bersama-sama terhadap kepuasan konsumen di PT.Nasmoco Bengawan Motor Solo Baru ?

Tujuan Penelitian 

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat kualitas pelayanan terhadap kepuasan konsumen pada PT.Nasmoco Bengawan Motor Solo Baru. Penelitian ini dilakukan terhadap pelanggan servis PT.Nasmoco Bengawan Motor Solo Baru. Untuk menentukan responden peneliti menggunakan adalah teknik purposive sampling.  Didalam penelitian ini peneliti mengambil sample sebanyak 100 responden. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Observasi, wawancara, kuisioner dan studi pustaka. Alat analisis yang digunakan adalah Regresi linier berganda, uji t, uji F dan koofesien determinasi( ), untuk mengetahui pengaruh kualitas pelayanan terhadap kepuasan konsumen.

Kesimpulan

Berdasarkan permasalahan yang ada dan hasil pemecahan pada Bab III, maka kesimpulan yang dapat peneliti kemukakan dalam penyusunan Tugas Akhir adalah sebagai berikut:

a) Dengan membandingkan t hitung dengan  t tabel terhadap variabel  Tangibles  diketahui bahwa t hitung > t tabel (6,772 > 1,985) maka untuk variabel Tangibles hipotesis Ho ditolak artinya bahwa Tangibles berpengaruh secara signifikan positif terhadap kepuasan konsumen.

b) Dengan membandingkan t hitung dengan  t tabel terhadap variabel  Reliability  diketahui bahwa t hitung > t tabel (3,965> 1,985) maka untuk variabel Reliability hipotesis Ho ditolak artinya bahwa Reliability berpengaruh secara signifikan positif terhadap kepuasan konsumen.

c) Dengan membandingkan t hitung dengan t tabel terhadap variabel    Responsiveness  diketahui bahwa t hitung > t tabel (2,515 > 1,985) maka untuk variabel Responsiveness  hipotesis  Ho ditolak artinya bahwa  Responsivenes  berpengaruh secara signifikan positif terhadap kepuasan konsumen.

d) Dengan membandingkan t hitung dengan t tabel terhadap variabel   Assurance diketahui bahwa t hitung > t tabel (4,271 > 1,985) maka untuk variabel  Assurance  hipotesis Ho ditolak artinya bahwa  Assurance  berpengaruh secara signifikan positif terhadap kepuasan konsumen.

e) Dengan membandingkan t hitung dengan t tabel terhadap variabel  Emphaty  diketahui bahwa t hitung > t tabel (2,442 > 1,985) maka untuk variabel Emphaty hipotesis Ho ditolak artinya bahwa Emphaty   berpengaruh secara signifikan positif terhadap kepuasan konsumen.

f)  Dari analisis data yang menggunakan regresi linier berganda yaitu metode yang digunakn untuk mengetahui pengaruh varibel kualitas pelayanan (Tangibles( , Reliability( , Responsiveness( ,   Assurance( , Emphaty( ) terhadap variable kepuasan konsumen (Y) diperoleh persamaan sebagai berikut : Y = 5,512 + 0,468   + 0,328 + 0,201 + 0,258 +0,206 , sehingga dapat dilihat  bahwa varabel yang paling dominan pengaruhnya adalah tangibles.

g)  Berdasarkan pengujian yang dilakukan, maka diperoleh Fhitung sebesar 192,557, sedangkan nilai Ftabel sebesar 2,54. Karena nilai Fhitung > Ftabel, maka Ho ditolak yang berarti bahwa variabel independen yaitu  Tangibles( , Reliability( , Responsiveness( ,    Assurance( ,  Emphaty( ) secara serempak mempunyai pengaruh terhadap variabel dependen atau variabel terikat pada kepuasan konsumen (Y).

Incoming search terms:

Analisis Brand Loyalty Terhadap Produk Hygiene

Skripsi Ekonomi~ Analisis Brand Loyalty Terhadap Produk Hygiene Merek Calmic Di Surakarta

Produk Hygiene Analisis Brand Loyalty Terhadap Produk Hygiene Analisis Brand Loyalty Terhadap Produk Hygiene Produk Hygiene

Latar Belakang Skripsi

Merek adalah nama, istilah, tanda, simbol, rancangan, atau kombinasi dari hal-hal tersebut, yang dimaksudkan untuk mengidtesisentifikasi barang atau jasa dari seorang atau sekelompok penjual dan untuk membedakannya dari produk pesaing. (Kotler, 2001: 575) .Tujuan pemberian merek adalah untuk mengidentifikasi produk atau jasa yang dihasilkan sehingga berbeda dari produk atau jasa yang dihasilkan oleh pesaing.

Sebagai suatu ukuran keterkaitan pelanggan kepada sebuah merek. Ukuran ini mampu memberikan gambaran tentang mungkin tidaknya seorang pelanggan beralih ke merek lain yang ditawarkan oleh kompetitor, terutama jika pada merek tersebut didapati adanya perubahan, baik menyangkut harga ataupun atribut lainnya.

Rumusan Masalah

  1. Bagaimana tingkat loyalitas konsumen terhadap produk hygiene merek Calmic di Surakarta?
  2. Apakah tingkatan loyalitas tersebut membentuk piramida yang menunjukkan “brand loyalty  lemah” atau piramida terbalik yang menunjukkan “brand loyalty kuat” ?

Tujuan Penelitian 

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat loyalitas konsumen   PT. Calmic Cabang Solo terhadap produk  hygiene merek Calmic. Dan juga untuk mengetahui apakah  brand loyalty terhadap produk  hygiene merek Calmic tersebut menunjukkan loyalitas yang kuat ataukah lemah. Metode penelitian yang digunakan adalah diskriptif dimana merupakan jenis riset yang tujuan utamanya adalah menggambarkan sesuatu.

Kesimpulan

Dari hasil analisa yang diolah, dengan membagikan kuesioner kepada 100 konsumen   PT. Calmic Cabang Solo yang menggunakan produk  hygiene merek Calmic maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

  1. Berdasarkan analisis karakteristik responden, dari 100 responden menyatakan pengguna produk  hygiene merek Calmic lebih banyak perempuan yaitu sebesar 62%, dengan rata-rata berusia 27-32 tahun sebanyak 48%, bekerja di swasta 45%, dan berpenghasilan >Rp 2.000.000,00 sebesar 72%.
  2. Sebanyak 7% dari 100 responden bersifat  switcher (berpindah) melakukan pembelian karena faktor harga.
  3. Pada tingkatan  habitual buyer (pembeli yang bersifat kebiasaan) sebanyak 77% responden menyatakan bahwa mereka terbiasa melakukan pembelian pada produk hygiene merek Calmic.
  4. Pada tingkatan  satisfied buyer (pembeli yang puas dengan biaya peralihan) sebanyak 88% responden menyatakan puas melakukan pembelian pada produk hygiene merek Calmic
  5. Pada tingkatan  likes  the brand (menyukai merek) sebanyak 86% responden menyatakan suka pada produk hygiene merek Calmic
  6.  6.  Pada tingkatan committed buyer (pembeli yang komit) sebanyak 23% responden menyatakan sering dan selalu menyarankan untuk melakukan pembelian produk hygiene merek Calmic.

Analisis Produk Private Label Matahari DS

Skripsi Ekonomi~ Analisis Brand Retrieval, Brand Recall, Dan Sikap Konsumen Terhadap Produk Private Label Matahari Department Store (Studi Pada Anggota MCC Matahari Department Store Johar Plaza Jember)

departemen store Analisis Produk Private Label Matahari DS Analisis Produk Private Label Matahari DS departemen store

Latar Belakang Skripsi 

Pengusaha pengecer (retailer) mencari perusahaan yang memiliki kelebihan kapasitas dan belum terpakai secara optimal, yang mau memproduksi produk  private label  dengan biaya rendah.  Itu berarti pemilik  private label bisa menjual produknya dengan harga yang lebih rendah (dibanding produk merek nasional) sehingga dapat menghasilkan keuntungan yang lebih besar.  Pemilik private label bisa mengembangkan merek toko yang kuat yang akan menarik perhatian banyak orang untuk datang ke toko mereka (Philip Kotler, 1994; p.449).

Faktor tersebut diatas didtesisukung dengan fakta di Indonesia bahwa saat ini telah terjadi kecenderungan bahwa sebagian besar konsumen sudah semakin kritis terhadap produk. Dalam tahun-tahun yang lalu, konsumen melihat merek-merek dalam suatu kategori sebagai suatu  tangga merek  (brand ladder), dengan merek favorit berada di puncak dan merek-merek lain di bawahnya sesuai preferensi. Sekarang konsumen cenderung memilih produk yang memiliki harga yang lebih murah dengan kualitas baik. Konsumen sudah tidak lagi mengutamakan produk bermerek yang menunjang gengsi dan prestise mereka, tetapi lebih mementingkan fungsi suatu produk untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka. Gejala tersebut menunjukkan banyak produk yang kekuatannya sudah mapan mulai ditinggalkan pelanggannya dan beralih ke produk dengan merek-merek pengikut yang memiliki kualitas dan tampilan yang tidak jauh berbeda dengan merek-merek terkenal (pioneer brand).

Perumusan Masalah

Untuk mempermudah dalam mengidentifikasi masalah yang akan dibahas, maka perumusan masalah dalam penelitian ini, yaitu:

  1. Seberapa besarkah brand retrieval anggota Matahari Club Card terhadap produk private label Matahari Department Store ( NEVADA )?
  2. Apakah anggota MCC dapat mem-brand recall produk  private label Matahari Department Store?
  3. Bagaimanakah sikap anggota MCC terhadap atribut produk private label Matahari Department Store dibandingkan dengan produk bermerek nasional?

 Kesimpulan

Pada bagian ini akan diuraikan beberapa kesimpulan yang diperoleh dari hasil analisis data, dan juga saran-saran yang dianggap peneliti dapat bermanfaat bagi pihak-pihak tertentu.

  • Brand Retrieval

Dari hasil analisis persentase pada produk pakaian jadi diperoleh hasil yang menunjukkan bahwa merek private label (NEVADA :63%) memiliki  brand retrieval yang lebih tinggi dari pada merek-merek produsen (WALRUS :23% dan OSELLA :14%). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa  brand retrieval untuk  private label masih lebih tinggi dibandingkan produk merek produsen.

  • Brand Recall

Berdasarkan analisis persentase diperoleh hasil yang menunjukkan bahwa tidak semua responden dapat mem-brand recall merek  private label dan merek produsen. Untuk produk pakaian jadi terdapat 38% dari total responden yang dapat mengidentifikasikan produk mana yang merupakan private label, sementara 45% lainnya tidak tahu merek mana yang merupakan  private label. Dan 17% sisanya salah mengidentifikasikan merek lain, terdiri dari 10% memilih Walrus dan 7% memilih Osella. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebagian besar dari responden yang merupakan anggota Matahari Club Card tidak mengetahui merek Nevada merupakan produk private label Matahari Department Store.

  • Sikap

Konsumen Secara Keseluruhan Berdasarkan analisis  Fishbein Attitude Model, dapat disimpulkan bahwa pelanggan (anggota MCC) memiliki sikap yang cukup positif terhadap atribut-atribut produk  private label Matahari Department Store (NEVADA) dan  merek produsen (WALRUS). Hal tersebut menunjukan bahwa pelanggan cukup yakin bahwa secara umum kedua merek tersebut memiliki atribut-atribut seperti :

  1. Penentuan harga yang sesuai dengan kualitas produk.
  2. Cara pengemasan yang cukup menarik.
  3. Pemilihan nama merek yang mudah diingat
  4. Iklan produk yang mudah dijumpai di media masa.
  5. Pemilihan bahan yang sesuai dengan iklim tropis.
  6. Pilihan warna yang cukup bervariasi.
  7. Penempakan bahan yang sesuai dengan standar produk pakaian jadi pada umumnya.
  • Sikap Konsumen per Atribut

Dengan melihat hasil analisis Fishbein Attitude Model maka dapat disimpulkan bahwa untuk atribut yang tergolong intrinsic cues, produk private label (NEVADA) memiliki penilaian sikap yang lebih positif dibandingkan dengan produk merek produsen (WALRUS), sedangkan untuk variabel  extrinsic cues  atribut iklan mendapatkan penilaian cukup negatif dan sebaliknya produk WALRUS mendapatkan sikap positif dari anggota MCC.

Incoming search terms: