Jasa Makalah

Jasa Makalah Jasa Makalah tesis

Dalam publikasi ilmiah, sebuah makalah adalah sebuah karya akademis yang umumnya diterbitkan dalam suatu jurnal ilmiah. Makalah ini dapat berisi hasil penelitian orisinil atau berupa telaah dari hasil-hasil yang telah ada sebelumnya. Makalah seperti ini baru dapat dianggap validtesis setelah melalui proses peer review oleh satu atau beberapa pemeriksa (yang juga merupakan akademisi di bidang yang sama) dalam rangka untuk memeriksa isi makalah apakah telah sesuai untuk dipublikasikan di jurnal. Sebuah makalah dapat mengalami beberapa kali pemeriksaan dan revisi, sebelum akhirnya dapat diterima untuk publikasi. Hal ini dapat berlangsung hingga beberapa tahun, khususnya untuk jurnal penerbitan yang sangat populer.

Anda membutuhkan jasa pembuatan makalah untuk tugas perkuliahan, silahkan menghubungi kami.

Hubungi kami:

Hubungi 0852.2588.7747 (AS / WhatApp) atau
BBM :5E1D5370
Chat dengan CS 1
[Image] Jasa Makalah Jasa Makalah online u cs idtesis m g t 2 l us
Chat dengan CS 2
[Image] Jasa Makalah Jasa Makalah online u idtesis m g t 2 l us
Jam Kerja IDTESIS 08.00 sd 16.00
Hari Libur & Tanggal Merah :: LIBUR

Verba N-D-AKE Bervalensi Tiga Dalam Bahasa Jawa

Latar Belakang Masalah 

Bangsa Indonesia mengenal setidtesisaknya dua bahasa yakni bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Bahasa Indonesia adalah bahasa nasional yang mampu mempersatukan masyarakat yang berasal dari suku-suku yang berbeda-beda. Namun demikian, bahasa dan sastra daerah pun tak kalah pentingnya sebab bahasa dan sastra daerah  merupakan pendukung bahasa dan kebudayaan nasional.  Bahasa daerah yang hidup di Indonesia ada banyak sekali jumlahnya. Menurut data SIL (Summer Institute of Linguistics) tahun 1992 di Indonesia ada 583-706 bahasa daerah.

Salah satu bahasa daerah yang hingga kini masih digunakan oleh berjuta-juta rakyat Indonesia dalam kehidupan sehari-hari adalah bahasa Jawa (BJ). Menariknya, dalam hal penelitian bahasa, BJ menempati peringkat C artinya diteliti kurang mendalam, baru tata bahasa dalam bentuk sketsa. Inilah alasannya mengapa BJ menarik untuk diteliti. Studi dan penelitian BJ  tidak hanya dilakukan oleh peneliti yang berasal dari dalam negeri saja tetapi tidak sedikit di antaranya yang dilakukan oleh peneliti asing. Diawali oleh Herbert de Jager (1634-1694) yang tertarik pada adanya sejumlah kata dari bahasa Sanskerta dalam BJ dan A. Reland (1677-1718) yang menyusun daftar judul dan spesimen tulisan Jawa (Uhlenbeck dalam Kisyani-Laksono, 2004:1).

Penelitian terhadap BJ terus berlanjut hingga saat ini. Kajian morfologi BJ antara lain dilakukan oleh Soepomo Poedjosoedarmo, dkk (1979) dan E.M Uhlenbeck (1982). Kemudian di tahun 1991 Sudaryanto (peny.) menyusun buku  Tata Bahasa Baku Bahasa Jawa, dan lain-lain. Pembicaraan mengenai verba merupakan masalah yang selalu menarik untuk dikaji. Hal ini salah satunya karena terdapat penanda tertentu untuk menentukan apakah sebuah kata merupakan verba atau bukan (periksa Poedjosoedarmo dkk., 1979:22-25).

Ada dua macam penanda yakni

  • penanda morfologis, dan
  • penanda sintaksis.

Penanda morfologis dan penanda sintaksis mempunyai kelebihan sendiri-sendiri. Penanda morfologis lebih efektif untuk menentukan apakah sebuah kata asal merupakan verba atau bukan, sedangkan penanda sintaksis dapat  lebih efektif untuk menentukan apakah sebuah kata jadian merupakan kata kerja atau bukan.

Rumusan Masalah

  • Argumen-argumen apa yang hadir di belakang V N-D-ake?
  • Bagaimana konstruksi/ urutan argumen di belakang V N-D-ake?
  • Bagaimana peran-peran semantik argumen-argumen pada V N-D-ake?

Metode

Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif deskriptif. Sumber data penelitian ini adalah pemakaian bahasa spontan dalam kehidupan sehari-hari, sumber-sumber tertulis seperti majalah, surat kabar, dan buku pelajaran/ pegangan kuliah BJ,  informan atau narasumber dan peneliti sendiri sebagai pemakai asli BJ.   Data penelitian berwujud ucapan-ucapan dan kalimat-kalimat yang mengandung V  N-D-ake bervalensi tiga dalam BJ yang mempunyai ciri spesifik yakni D adalah V. V N-D-ake yang dijadikan obyek penelitian ini adalah V N-D-ake dengan ciri

  • pasientif-benefaktif,
  • benefaktif-pasientif,
  • pasientif-benefaktif/ direktif, dan
  • pasientif-direktif.

Penyediaan datanya dilakukan dengan teknik pustaka, teknik kerjasama dengan informan, teknik simak dan catat, dan teknik rekam. Analisis datanya menggunakan metode distribusional  yang meliputi teknik perluasan atau ekspansi, teknik pembalikan urutan atau permutasi, dan teknik parafrasis.

Hasil analisis data menunjukkan bahwa terdapat tiga belas kelompok argumen-argumen yang hadir di belakang V  N-D-ake bitransitif yang berarti ‘pasientif-benefaktif’, yaitu:

  • NTB (t) + NB (t),
  • NTB (t) + NB (d),
  • NTB (d) + NB (d),
  • NTB (d) + FNB,
  • NTB (d) + NB (t),
  • NTB (t) + FNB,
  • NB (d) + NB (d),
  • NB (d) + FNB,
  • FNTB + NB (t),
  • FNTB + FNB,
  • FNTB + NB (d),
  • FNB + FNB, dan
  • FNB + NB (d).

Dari ketigabelas kelompok, kelompok (c) mempunyai data terbanyak, lima puluh tiga data, sedangkan kelompok (a), (d), (f), (h), dan (l)  masing-masing hanya mempunyai satu data.

Kesimpulan :

Berdasarkan analisis data, penulis menarik beberapa kesimpulan berkenaan dengan  penelitian mengenai V N-D-ake bervalensi tiga dalam BJ.

  • Argumen-argumen yang Hadir di Belakang V N-D-ake
  • Konstruksi/ Urutan Argumen di Belakang V N-D-ake
  • Peran-peran Semantik Argumen-argumen pada V N-D-ake

Dampak Investasi Sektor Pertanian Terhadap Perekonomian Sumatera Utara (Pendekatan Analisis Input-Output)

Latar Belakang Penelitian

Bila dilihat berdasarkan tingkat pertumbuhan sektoral terhadap PDRB Sumatera Utara dalam kurun waktu tahun 2002 -2006, terlihat bahwa laju pertumbuhan rata-rata yang terjadi pada sektor pertanian adalah 2,90%. Angka ini masih dibawah laju pertumbuhan rata-rata PDRB Sumatera Utara yaitu 5,35%. Laju pertumbuhan sektor pertanian di Sumatera Utara berada pada level terendah selain sektor pertambangan. Hal ini menunjukkan bahwa sektor pertanian berjalan lambat dibandingkan sektor-sektor lainnya. Kondisi ini tidtesisak boleh terus terjadi mengingat bahwa sektor pertanian masih menjadi sektor andalan bagi pembangunan perekonomian Sumatera Utara. Hal ini berarti masih perlu dilakukan pembenahan – pembenahan strategi dalam sektor pertanian. Salah satu aspek y ang perlu diperhatikan adalah investasi.

Investasi dilakukan untuk membentuk faktor produksi kapital, dimana sebagian digunakan untuk pengadaan barang yang menunjang kegiatan usaha. Melalui investasi, kapasitas produksi dapat ditingkatkan yang kemudian akan mampu meningkatkan output, dan akhirnya juga akan meningkatkan pendapatan daerah serta percepatan pertumbuhan perekonomian daerah. Selain itu , investasi dapat menciptakan lapangan kerja baru, yang berarti bahwa tingkat pengangguran berkurang. Investasi di sektor pertanian dalam perekonomian Sumatera Utara merupakan suatu hal yang penting yang harus dilakukan. Hal ini disebabkan bahwa sektor termasuk salah satu program prioritas pembangunan daerah yang telah ditetapkan oleh pemerintahan daerah Sumatera Utara. Selain itu, mengingat bahwa sektor pertanian telah menyediakan lapangan kerja yang besar bagi angkatan kerja yang tersedia di Sumatera Utara.

Rumusan Masalah

  • Bagaimana peranan sektor pertanian di Sumatera Utara terhadap perekonomian daerah dalam pembentukan struktur permintaan dan penawaran, konsumsi, ekspor-impor, investasi, nilai tambah dan output sektoral ?
  • Bagaimana keterkaitan kebelakang dan ke depan (Backward and forward linkage) sektor pertanian dengan sektor ekonomi lainnya ?
  • Apakah seluruh subsektor dalam sektor pertanian termasuk sektor kunci dalam perekonomian Sumatera Utara ?
  • Bagaimana dampak investasi sektor pertanian terhadap pembentukan output , pendapatan dan tenaga kerja ?
  • Bagaimana dampak perubahan investasi sektor pertanian terhadap pembentukan output, pendapatan, dan tenaga kerja ?

Metode Penelitian

Metode analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa input-output dengan menggunakan data Input-Output Sumatera Utara Tahun 2007 atas dasar harga produsen yang telah diagregasi menjadi 25 sektor ekonomi.  Dengan menggunakan Metode RAS (Ricked A Stone), Analisa Kontribusi, Indeks Keterkaitan, Analisis Penentuan Sektor/subsektor Kunci (Prioritas), dan Analisis Simulasi.

 

Kesimpulan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa peranan sektor pertanian dalam perekonomian Sumatera utara dalam pembentukan struktur perekonom ian meliputi pembentukan struktur permintaan dan penawaran (16,15%), struktur konsumsi Rumaha Tangga (15,32%), struktur eksp or (4,94%), struktur Impor (2,11%), struktur Penanaman Modal Tetap Bruto (0,22%), struktur perbahan Stok (12,19%) atau struktur investasi (0.89%), struktur Nilai Tambah (26,69%), dan struktur Output ( 16,15%).

Sektor Coklat, Karet, dan kelapa Sawit meru pakan sektor yang memiliki Keterkaitan Langsung Ke Depan dan Keterkaitan Langsung dan tidak Langsung Ke Depan terbesar diantara sektor lainnya dalam pertanian. Disisi lain, Sektor Unggas, karet, dan sektor Perikanan merupakan sektor yang memiliki keterkaitan langsung Ke Belakang dan keterkaitan langsung dan tidak langsung Ke Belakang terbesar diantara sektor lainnya dalam pertanian.

Seluruh sektor yang terdapat dalam bidang pertanian tidak termasuk ke dalam sektor kunci (Sektor dengan Prioritas I) melainkan masuk dalam Prioritas II yakni sektor karet, Coklat dan Kelapa Sawit .Dampak investasi sektor pertanian terbesar terhadap pembentukan o utput adalah sektor Unggas dan Peternakan Lainnya. Dampak investasi sektor pertanian terbesar terhadap pembentukan pendapatan adalah sektor Karet, serta terhadap pembentukan tenaga kerja terbesar terjadi pada sektor Kelapa Sawit.

Dengan melakukan beberapa simulasi terhadap perubahan investasi sektor pertanian terlihat bahwa simulasi realokasi investasi sebesar 10% dari sektor bangunan ke sektor pertanian mampu menciptakan kontribusi terbesar bagi sektor pertanian terhadap pembentukan output, pendapatan, dan tenaga kerja bagi perekonomian Sumatera Utara.

Max Havelaar Dan Citra Antikolonial Sebuah Tinjauan Postkolonial

Latar Belakang Penelitian

Mengenai  MH,  Faruk (2004)  mengemukan kesimpulan  bahwa baik  secara teoritik maupun praktik,  MH memahami novel bukan sebagai sebuah  dunia otonom melainkan sebuah dunia yang  terbuka, yang dapat diintervensi  oleh kekuatan di luar dirinya. baik kekuatan subjektif novelisnya sendiri maupun  kekuatan objektif yang berupa tuntutan  realitas Artinya, dari segi struktur  naratifnya novel itu percaya pada intervensionisme, baik dalam persoalan sosial,  politik, dan ekonomi kolonial yang  dibahasnya maupun dari segi bangunan  literer dari novel itu sendiri. Dari segi yang kemudian ini  MH menganggap  bahwa bangunan kehidtesisupan yang digambarkan oleh sebuah  novel tidak harus  membentuk keselutuhan yang utuh, lengkap dan penuh dalam dirinya sendiri,  melainkan dalam batas tertentu dapat dimasuki oleh gambaran kehidupan dan  cerita-cerita yang lain yang menyimpang darinya.

Menyambung  masalah sifat intervensionis, novel MH  ini  menghadirkan tiga pencerita yang menjalankan peran dan tindak saling mengintervensi. Pergantian pencerita ditunjukkan dengan pemotongan narasi oleh pencerita yang  satu terhadap yang lain bahkan dalam halaman yang sama. Ketidaksetujuan pada pandangan dan narasi  dari  satu pencerita  dapat menjadi alasan bagi pencerita lain untuk melakukan intervensi. Interaksi antara pencerita dalam saling mengintervensi menjadi sangat menonjol  karena ketiganya disibukkan oleh  pandangan mereka atas kolonialisme di Jawa (Hindia Belanda pada umumnya).

 

Rumusan Masalah :

  • Apakah identifikasi  struktur naratif novel MH ?
  • Apakah  identifikasi pandangan MH mengenai kolonialisme ?
  • Bagaimana mengungkapkan hubungan struktur naratifnya dengan pandangan  MH tentang kolonialisme ?
  • Bagaimana mencari pengaruh struktur naratifnya  dalam pengungkapan pandangan  MH  tentang kolonialisme ?
  • Bagaimana mencari pengaruh orientalisme terhadap pandangan kolonialisme dalam  MH ?

Metode

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif  kualitatif. Metode ini yang dipandang  Bogdan dan Taylor sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan  data deskriptif berupa kata-kata baik  lisan maupun tertulis (Moeloeng, 2003:3)

Penelitian dengan metode deskriptif kualitatif ini juga mengutamakan kedalaman penghayatan terhadap interaksi antarkonsep yang dikaji secara empiris, dan bersifat deskriptif yaitu data terurai dalam bentuk kata-kata yang merupakan sistem tanda yang memberikan pemahaman yang lebih komprehensif  (Semi, 1999: 25).

Kesimpulan

Hubungan antara pandangan MH mengenai kolonialisme dengan  inovasinya di dalam teknik  struktur dapat ditunjukkan oleh sifat pandangan itu  sendiri dan pemilihan teknik  penyampaiannya. Hal ini berarti bahwa  kekhasan  pandangan dan pengungkapannya yang mengambang ditunjukkan dengan  pemilihan struktur naratifnya, yaitu lewat pemakaian tokoh-tokoh cerita sebagai  naratornya atau disebut character-fokalizer. Pemakaian tiga fokalisator dalam novel MH ini  menghasilkan perbedaan  sudut pandang atas suatu masalah: kolonisasi dan kolonialisme di tanah Jawa.  Penyajian narasi  dilaksanakan berselang-seling tergantung pada semacam dialog  atau perbedaan pandangan antara  3 fokalisator ,artinya ketika seorang tokoh  sedang menyajikan narasi dan fokalisasi, tokoh lain menghentikannya dengan menyatakan ketidaksetujuannya.

Tokoh ini kemudian yang bebicara dan juga berfokalisasi. Begitu tokoh  terakhir selesai, tokoh terdahulu mengambil posisi kembali. Peralihan narasi pun terjadi  berulang-ulang dan ini berarti terjadi peralihan ruang . Novel yang terbagi ke dalam 9 narasi membawa pembaca berpindah-pindah dari pemikiran satu tokoh ke pemikiran tokoh yang lain. Novel MH mengajak pembaca bergulat pada permasalahan kolonisasi atau praktik pemerintahan di Hindia  Belanda, seperti sistem  cultuur stelsel,  kelaparan dan penanganan pemerintah, agama Kristen dan non Kristen, pandangan  Barat atas Timur.

Kemampuan Membaca Pemahaman Dan Sikap Bahasa

Skripsi Ekonomi~ Hubungan Antara Kemampuan Membaca Pemahaman Dan Sikap Bahasa Dengan Kemampuan Mengapresiasi Cerita Pendek

Latar Belakang Penelitian

Pelajaran sastra di sekolah tidtesisak untuk membuat siswa menjadi seorang sastrawan atau seorang ahli sastra, melainkan ingin menanamkan apresiasi sastra. Pelajaran sastra mengarahkan agar siswa menjadi orang yang menggemari karya sastra, mau membaca sendiri karya sastra sehingga dapat menyerap nilai-nilai terutama nilai moral yang terkandung dalam karya sastra. Tujuan pengajaran sastra seperti di atas belum tercapai seperti yang diharapkan.  Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut ialah guru, murid, dan lingkungan. Faktor dari guru sebagai penyebab rendahnya kemampuan apresiasi sastra dapat dimungkinkan karena kurangnya pemahaman guru terhadap sastra, kurang optimalnya proses belajar mengajar, dan kurangnya penugasan pada anak untuk membaca karya sastra.

Faktor  siswa merupakan faktor terpenting dalam proses pembelajaran sastra. Siswa merupakan subjek pada proses pembelajaran sastra.  Faktor yang diduga sebagai penyebab rendahnya apresiasi sastra siswa adalah rendahnya kemampuan membaca. Rendahnya kemampuan membaca disebabkan karena kurangnya kebiasaan membaca. Dengan demikian, kemampuan membaca terutama membaca pemahaman diduga mempunyai peranan yang sangat penting dalam peningkatan kemampuan apresiasi sastra siswa. Kemampuan apresiasi sastra selain diperoleh melalui kegiatan membaca pemahaman, juga didasari oleh sikap positif terhadap bahasa yang dimiliki siswa. Sayangnya tidak semua siswa memiliki sikap bahasa yang positif. Berdasarkan pengamatan dan penggunaan bahasa siswa sehari-hari ditemukan kenyataan pemakaian bahasa Indonesia siswa yang campur aduk dengan bahasa Jawa.  Hal tersebut diduga berpengaruh terhadap kemampuan siswa dalam memahami karya sastra Indonesia. Pembelajaran sastra Indonesia di sekolah-sekolah di Indonesia sering dikritik  sebagai pembelajaran yang belum berjalan seperti yang diharapkan. Kritikan tersebut berdasarkan adanya kenyataan bahwa tingkat apresiasi sastra para siswa rendah.

Rumusan Masalah

  1. Adakah hubungan antara kemampuan membaca pemahaman dan kemampuan mengapresiasi cerita pendek?
  2. Adakah  hubungan antara sikap bahasa dan kemampuan mengapresiasi cerita  pendek?
  3. Adakah hubungan kemampuan membaca pemahaman dan sikap bahasa secara bersama-sama dengan kemampuan mengapresiasi cerita pendek?

Metode Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Se-Gugus Yudistira, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, bulan  Januari  sampai dengan Juni 2009. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif korelasional. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas V SD Negeri  Se-Gugus Yudistira, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri.

Sampel berjumlah 120 orang yang diambil dengan cara  simple  random sampling. Instrumen untuk mengumpulkan data adalah tes kemampuan mengapresiasi cerita pendek, tes kemampuan membaca pemahaman, dan kuesioner sikap bahasa. Teknik analisis yang digunakan adalah teknik statistik regresi  dan  korelasi (sederhana, ganda).

Hasil analisis menunjukkan bahwa:

  • Ada hubungan positif antara kemampuan membaca pemahaman  dan  kemampuan   mengapresiasi cerita pendek   (r y.1 = 0,87 pada taraf nyata ? = 0,05 dengan N= 120 di mana r t = 0,18);   15
  • Ada hubungan positif antara sikap bahasa dan kemampuan  mengapresiasi cerita pendek   (r y.2 = 0,78 pada taraf nyata ? = 0,05 dengan N= 120 di mana r t = 0,18); dan
  • Ada hubungan positif antara kemampuan membaca pemahaman  dan sikap bahasa secara bersama-sama dengan kemampuan  mengapresiasi ceita pendek (R   y.12 =0,86 pada taraf nyata ? = 0,05 dengan   N= 120 di mana  r  t  = 0,18).

Kesimpulan

Dari hasil penelitian di atas dapat dinyatakan bahwa secara bersama-sama kemampuan membaca pemahaman dan sikap bahasa memberikan sumbangan yang  berarti kepada kemampuan mengapresiasi cerita pendek. Ini menunjukkan bahwa kedua variabel tersebut dapat menjadi prediktor yang baik bagi kemampuan mengapresiasi cerita pendek.

Dilihat dari kuatnya hubungan tiap variabel prediktor (bebas) dengan variabel respons (terikat), hubungan antara kemampuan membaca pemahaman dan kemampuan  mengapresiasi cerita pendek lebih kuat dibandingkan dengan hubungan antara sikap bahasa dan kemampuan mengapresiasi cerita pendek.

Ini menunjukkan bahwa kemampuan membaca pemahaman dapat menjadi prediktor yang lebih baik daripada sikap bahasa. Kenyataan ini membawa konsekuensi dalam pengajaran kemampuan  mengapresiasi cerita pendek, guru perlu lebih memprioritaskan aspek kemapuan membaca pemahaman dalam mengembangkan kemampuan mengapresiasi cerita pendek daripada aspek sikap bahasa.