Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Dividen Kas Di BEI

Skripsi Ekonomi ~ Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi  Dividtesisen Kas Pada Perusahaan Manufaktur  Di Bursa Efek Indonesia

bursa efek Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi  Dividen Kas Di BEI Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi  Dividen Kas Di BEI bursa efek

Latar Belakang Skripsi 

Pembayaran dalam bentuk tunai lebih banyak diinginkan investor daripada dalam bentuk lain, karena pembayaran dividen tunai membantu mengurangi ketidakpastian dalam melaksanakan aktivitas investasinya pada suatu perusahaan. Demikian pula, stabilitas dividen yang dibayarkan juga akan mengurangi ketidakpastian dari profitabilitas perusahaan, sehingga stabilitas dividen juga merupakan faktor penting yang harus dipertimbangkan oleh manajemen perusahaan (Hidayati, 2006). Investor mengharapkan dalam mendapatkan tingkat kembalian (return) baik berupa dividen maupun capital gain  yang  didasarkan pada hasil atau kinerja yang telah dicapai oleh perusahaan yang tercermin dalam laporan keuangan yang dipublikasikan.  Kebijakan apapun yang ditempuh oleh manajemen perusahaan, bagi investor tidak terlalu dipertimbangkan, karena kebijakan manajemen hanya dapat diketahui oleh pihak intern perusahaan. Bagi investor yang terpenting adalah melihat bagaimana perkembangan perusahaan terutama dari kinerja keuangannya.

Perumusan Masalah

Perumusan masalah  yang akan diuji dalam penelitian  ini adalah sebagai berikut ini.

1.  Apakah ada pengaruh yang signifikan Profitabilitas, Likuiditas, dan Investement  Opportunity  Set  (IOS) baik secara parsial maupun secara simultan terhadap dividen kas pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia (BEI)?

2.  Manakah diantara variabel Profitabilitas, Likuiditas, dan  Investement Opportunity Set  (IOS) yang paling dominan mempengaruhi  dividen  kas pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia (BEI)?

Tujuan Penelitian 

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen kas pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia tahun 2008. Variabel-variabel yang mempengaruhinya yaitu profitabilitas (ROE), likuiditas (QR), dan Investment Opportunity Set (IOS). Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang sahamnya terdaftar  di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2008 sesuai dengan publikasi dari Indonesian Capital Market Directory (ICMD) tahun 2008 sejumlah 141 perusahaan, dengan diperoleh perusahaan yang memenuhi kriteria penelitian sebanyak 50 perusahaan. Metode analisa data dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi linier berganda.

Kesimpulan Berdasarkan pada analisis data dan uji hipotesis penelitian serta pembahasan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:

1.  Secara  parsial variabel profitabilitas (ROE)  dan  likuiditas (QR) berpengaruh positif dan signifikan terhadap kebijakan dividen kas, sedangkan  set kesempatan investasi/IOS (MVEBVE) tidak berpengaruh secara signifikan. Hasil penelitian ini mendukung penelitian  Suharli (2007), Juma’h (2008), serta Vianita dan Amperaningrum (2009) yang menyatakan bahwa profitabilitas dan likuiditas berpengaruh terhadap kebijakan dividen kas. Namun penelitian atas variabel IOS (MVABVE) tidak mendukung penelitian sebelumnya yaitu Tjandra (2005).

2.  Secara simultan variable ROE, QR dan IOS (MVEBVE) berpengaruh terhadap dividen kas. Dari hasil analisis menunjukkan bahwa ROE adalah variable yang paling berpengaruh terhadap dividen tunai. Hasil penelitian ini mendukung penelitian  Tjandra (2005) serta Suharli (2007) dimana kebijakan jumlah pembagian dividen perusahaan dipengaruhi oleh provitabilitas dan diperkuat oleh likuiditas perusahaan.

Incoming search terms:

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Cash Effective Tax Rate

Skripsi Ekonomi ~ Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Cash Effective Tax Rate Sebagai Alat Ukur Dalam Tax Avoidtesisance Pada Perusahaan Manufaktur Di Bursa Efek Indonesia

lapor-pajak Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Cash Effective Tax Rate Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Cash Effective Tax Rate lapor pajak

Latar Belakang Skripsi 

Tax avoidance dapat dibedakan lagi menjadi penghindaran pajak yang diperkenankan (acceptable tax avoidance) dan penghindaran pajak yang tidak diperkenankan (unacceptable tax avoidance). Penghindaran pajak yang diperkenankan dapat dilakukan melalui  defensive tax planning,  sedangkan penghindaran pajak yang tidak diperkenankan dilakukan melalui aggressive tax planning  (Darussalam, 2009).  Tax avoidance  adalah upaya untuk meminimalkan jumlah pajak yang dibayarkan dengan tujuan keuntungan pribadi dengan cara-cara yang tidak melanggar undang-undang (Biron, 2010; Murray, 2010).

Pengindaran pajak   (tax avoidance)  diproksikan dengan  tarif pajak efektif perusahaan (ETRs), banyak perusahaan menggunakan tarif pajak efektif perusahaan (ETRs) sebagai alat ukur dalam  tax avoidance. Tarif pajak efektif perusahaan (ETRs) juga  sering digunakan oleh para pembuat kebijakan dan kelompok kepentingan sebagai alat untuk membuat kesimpulan-kesimpulan tentang sistem pajak perusahaan karena ETRs memberikan sebuah ringkasan statistik yang tepat tentang efek kumulatif dari berbagai perubahan insentif pajak dan tarif pajak perusahaan. ETRs menyediakan ringkasan dasar statistik kinerja pajak yang di gambarkan oleh jumlah pajak yang dibayarkan oleh perusahaan relatif terhadap laba kotor (Harris & Feeny, 2000).

Perumusan Masalah

Masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

1.  Apakah ada pengaruh yang signifikan leverage terhadap cash effective tax rate?

2.  Apakah ada pengaruh yang signifikan firm size terhadap cash effective tax rate?

3.  Apakah ada pengaruh yang signifikan profitability  terhadap cash effective tax rate?

4.  Apakah  ada pengaruh yang signifikan advertising  terhadap cash effective tax rate?

Tujuan Penelitian 

Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh bukti empiris signifikansi pengaruh  leverage, firm size, profitability dan advertising  secara parsial terhadap cash effective tax rate  sebagai alat ukur dalam tax avoidance pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan  ex  post facto  (data masa lalu), yaitu merupakan pencarian empirik yang sistematik, dimana peneliti tidak dapat mengontrol variabel independennya karena peristiwa telah terjadi atau karena sifatnya tidak dapat dimanipulasi. Populasi dalam penelitian ini adalah  semua perusahaan-perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia untuk periode  2010. Sampel dalam penelitian ini sebanyak  53  perusahaan, teknik pengambilan sampel menggunakan  purposive sampling. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi linier berganda yang didukung dengan uji asumsi klasik, uji f, uji t, dan koefisien determinasi.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan pada bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

  1. Leverage pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI mempunyai pengaruh negatif dan signifikan terhadap cash ETR.
  2. Advertising pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI mempunyai pengaruh negatif dan signifikan terhadap cash ETR.
  3. Profitability  pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI mempunyai pengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap cash ETR.
  4. Firm size pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI mempunyai pengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap cash ETR.
  5. Besar variasi variabel cash ETR yang dapat diterangkan oleh variasi variabel  leverage, firm size, profitability  dan  advertising  sebesar 17 persen, sedangkan sisanya sebesar 83 persen dipengaruhi variabel lain yang tidak diteliti.
Incoming search terms:

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Brand Switching Pada Rokok

Skripsi Ekonomi ~ Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Brand Switching Pada Produk Rokok Djarum Black  (Studi Kasus pada Warga Kecamatan Grogol Kabupaten Sukoharjo)

rokok djarum Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Brand Switching Pada Rokok Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Brand Switching Pada Rokok rokok djarum

Latar Belakang Skripsi 

Konsumen  dihadapkan  pada berbagai pilihan merek untuk satu jenis produk  rokok, produk rokok ini sendiri terbagi dalam berbagai merek. Perusahaan-perusahaan besar memperebutkan marketshare atau pangsa pasar produk rokok di Indonesia seperti: Dji Sam Soe, Djarum, Bentoel, Gudang Garam. Mereka berupaya merebut pangsa pasar dengan berbagai strategi pemasarannya termasuk bagaimana membuat merk produk mereka diterima dipasar. Konsumen sendiri dalam menghadapi adanya berbagai pilihan merk produk rokok sekarang ini cenderung untuk tetap loyal pada satu merk produk rokok. Banyaknya konsumsi rokok ini ternyata tidtesisak hanya disebabkan oleh kebutuhan masyarakat tetapi juga disebabkan oleh minat konsumen untuk membeli produk baru untuk memenuhi kebutuhan  akan selera konsumen (Infokom, 2001).

Industri rokok  adalah  industri yang terbukti kuat dalam menahan dampak krisis moneter global dan nasional. Pada saat pertumbuhan ekonomi yang lamban bahkan sempat minus ternyata di masa krisis moneter hal ini tidak berdampak negatif pada  industri rokok di Indonesia. Resesi ekonomi yang dimulai dengan krisis moneter sejak Juli 1997 tidak terlalu berpengaruh dalam kegiatan industri tersebut. Bahkan pada tahun 1997  yang merupakan awal dari krisis ekonomi penerimaan cukai negara dari industri rokok menjadi Rp 4,792 triliun dan tahun 1998 melonjak lagi menjadi Rp 7,391 triliun. Hal ini berulang lagi pada saat krisis global di tahun 2008 lalu. Di saat krisisglobal 2008 yang melibas banyak perusahaan dan berimbas pada banyaknya industri yang melakukan pemutusan hubungan kerja besar-besaran, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai justru melaporkan penerimaan cukai rokok per 30 Desember 2008 menembus angka Rp 50,2 triliun atau 109,9 persen dari target yang ditetapkan pemerintah (Andoyo dalam www. kompas .com).

Rumusan Masalah 

1.  Apakah atribut produk (product atributes) yang termasuk merek, kemasan, jaminan, pelayanan  memiliki pengaruh yang positif terhadap perpindahan (brand switching) pada perokok?

2.  Apakah harga produk memiliki pengaruh yang positif terhadap perpindahan merek (brand switching) pada perokok?

3.  Apakah promosi (promotion) yang dilakukan di televisi serta media cetak  memiliki pengaruh yang positif terhadap perpindahan merek (brand switching) pada perokok?

4.  Apakah persediaan produk (product distribution) yaitu Bath Stock/Lot Size Inventory  memiliki pengaruh yang positif terhadap perpindahan merek  (brand switching) pada perokok?

Tujuan Penelitian 

Kegiatan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Faktor-Faktor apa saja Yang Mempengaruhi Brand Switching Pada Produk Rokok Djarum Black .

Kesimpulan 

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1.  Persamaan regresi yang dihasilkan adalah : Y = 1,090 + 0,537X1 + 1,142X2  + 0,591X3 + 0,616X4

Y :Brand Switching

X1 : Atribut Produk

X2 : Harga

X3 : Promosi

X4 : Persediaan Produk

2.  Variabel  atribut produk  dengan thitung  > ttabel  (3,054  > 1,985) dan nilai probabilitas < 0,05 (taraf signifikansi 5%), maka untuk variabel  atribut produk  hipotesis  H0  ditolak  artinya bahwa  atribut produk  berpengaruh secara signifikan terhadap brand switching.

3.  Variabel harga dengan  thitung > ttabel (4,163 > 1,985) dan nilai probabilitas < 0,05 (taraf signifikansi 5%), maka untuk variabel harga hipotesis  H0 ditolak artinya bahwa harga berpengaruh secara signifikan terhadap brand switching.

4.  Variabel promosi thitung > ttabel (2,162 > 1,985) dan nilai probabilitas < 0,05 (taraf signifikansi 5%), maka untuk variabel promosi hipotesis H0 ditolak  artinya bahwa  promosi  berpengaruh secara signifikan terhadap  brand switching.

5.  Variabel  persediaan produk  thitung  > ttabel  (2,247  > 1,985) dan nilai probabilitas < 0,05 (taraf signifikansi 5%), maka untuk variabel persediaan produk hipotesis H0 ditolak artinya bahwa persediaan produk berpengaruh secara signifikan terhadap brand switching.

6.  Diketahui bahwa Fhitung  > Ftabel  (30,435  >  2,53) dan nilai probabilitas sebesar 0,000 < 0,05 maka variabel  atribut produk, harga, promosi dan persediaan produk secara bersama-sama atau serentak berpengaruh secara signifikan terhadap brand switching.

 

Incoming search terms:

Pengguna e-SPT PPN Sebagai Sarana Pelaporan Pajak

Skripsi Ekonomi ~ Analisis Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Perilaku Pengguna e-SPT PPN Sebagai Sarana  Pelaporan Pajak Pertambahan Nilai (Studi Kasus Di KPP Pratama Surakarta)

lapor-pajak Pengguna e-SPT PPN Sebagai Sarana  Pelaporan Pajak Pengguna e-SPT PPN Sebagai Sarana  Pelaporan Pajak lapor pajak

Latar Belakang Skripsi 

Selama lima tahun terakhir, DJP telah melakukan beberapa reformasi perpajakan dan modernisasi administrasi perpajakan. Disamping pembentukan kantor dan penerapan sistem modern, modernisasi lebih lanjut ditandai dengan penerapan teknologi informasi terkini dalam pelayanan perpajakan. Peningkatan dan mengedepankan pelayanan ini terlihat dengan terus dikembangkannya administrasi perpajakan modern dan teknologi informasi di berbagai aspek kegiatan, mulai dari pendaftaran diri sebagai wajib pajak melalui  e-registration, pembayaran pajak (e-payment), pelaporan pajak (e-reporting, e-SPT), pemberkasan dokumen pajak (e-filing), maupun konsultasi (e-consulting), dan sebagainya.

Seiring dengan itu, DJP juga melakukan kampanye sadar dan peduli pajak, pengembangan bank data dan  Single idtesisentification Number serta langkah-langkah lainnya. Adanya perkembangan teknologi informasi yang semakin canggih yang dalam hal ini ditandai dengan era digital menjadikan peluang sekaligus tantangan bagi DJP untuk senantiasa menyesuaikan diri. Guna Peningkatan Pelayanan kepada Wajib Pajak dalam hal penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT), Direktorat Jendral Pajak (DJP) mensosialisasikan  fasilitas baru untuk pelaporan pajak ppn yang ditetapkan dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER  –  146/PJ./2006 tentang bentuk, isi, dan tata cara penyampaian surat pemberitahuan masa pajak pertambahan nilai (spt masa ppn). Peraturan ini mangalami perubahan dengan dikeluarkan PER – 14/PJ./2010 dan terakhir diubah dengan dikeluarkan PER – 44/PJ./2010 tanggal 6 Oktober 2010.

Perumusan Masalah

Sesuai  dengan latar belakang masalah yang telah diuraikan sebelumnya, maka yang menjadi pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah  mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap perilaku  pengguna  e-SPT  PPN di KPP Pratama Surakarta. Dengan uraian sebagai berikut :

1.  Apakah persepsi kegunaan berpengaruh terhadap perilaku pengguna e-SPT PPN  sebagai sarana pelaporan pajak pertambahan nilai  di KPP Pratama Surakarta?

2.  Apakah   persepsi kemudahan berpengaruh  terhadap perilaku pengguna e-SPT  PPN  sebagai sarana pelaporan pajak pertambahan nilai  di KPP Pratama Surakarta?

3.  Apakah sikap pengguna berpengaruh  terhadap  perilaku pengguna  e-SPT PPN  sebagai sarana pelaporan pajak pertambahan nilai  di KPP Pratama Surakarta?

4.  Apakah minat berperilaku berpengaruh terhadap perilaku pengguna e-SPT PPN  sebagai sarana pelaporan pajak pertambahan nilai  di KPP Pratama Surakarta?

5.  Apakah penggunaan senyatannya berpengaruh terhadap perilaku pengguna e-SPT  PPN  sebagai sarana pelaporan pajak pertambahan nilai  di KPP Pratama Surakarta?

6.  Apakah kerumitan berpengaruh  terhadap  perilaku pengguna  e-SPT  PPN sebagai sarana pelaporan pajak pertambahan nilai  di KPP Pratama Surakarta?

7.  Apakah kesukarelaan berpengaruh terhadap perilaku pengguna e-SPT PPN sebagai sarana pelaporan pajak pertambahan nilai  di KPP Pratama Surakarta?

8.  Apakah jenis kelamin  berpengaruh  terhadap  perilaku pengguna  e-SPT PPN  sebagai sarana pelaporan pajak pertambahan nilai  di KPP Pratama Surakarta?

9.  Apakah tingkat pendidikan berpengaruh  terhadap  perilaku pengguna  e-SPT  PPN  sebagai sarana pelaporan pajak pertambahan nilai  di KPP Pratama Surakarta?

10.  Apakah pengalaman berpengaruh  terhadap perilaku pengguna e-SPT PPN sebagai sarana pelaporan pajak pertambahan nilai  di KPP Pratama Surakarta?

Tujuan Penelitian 

Tujuan yang hendak dicapai dengan adanya penelitian ini adalah mengetahui  faktor-faktor yang berpengaruh  terhadap  perilaku pengguna  e-SPT PPN sebagai sarana pelaporan pajak pertambahan nilai di KPP Pratama Surakarta. Berdasarkan hasil penelitian diharapkan dapat  menambah referensi dan pemahaman tentang e-SPT PPN  dan memberikan informasi kepada pihak-pihak yang terkait seperti Kantor Pelayanan Pajak, masyarakat, serta pihak-pihak lainnya yang memerlukan hasil penelitian ini. Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan alat analisis regresi linear berganda dengan uji t, uji F dan koefisien determinasi (Adj. R2).

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian tentang  faktor-faktor yang berpengaruh dengan  perilaku pengguna e-SPT PPN sebagai sarana pelaporan pajak pertambahan nilai di KPP Pratama Surakarta dapat ditarik kesimpulan:

1.  Persepsi kegunaan (X1) diperoleh nilai thitung lebih besar dari ttabel (5,749 > 1,984) dengan probabilitas 0,000 < 0,05; sehingga berpengaruh signifikan terhadap  perilaku  pengguna e-SPT PPN  sebagai  sarana  pelaporan  pajak pertambahan nilai di KPP Pratama Surakarta.

2.  Persepsi kemudahan kegunaan  (X2) diperoleh nilai thitung  lebih besar dari ttabel  (2,520  > 1,984) dengan probabilitas 0,013  < 0,05;  sehingga berpengaruh signifikan terhadap  perilaku  pengguna e-SPT PPN  sebagai sarana pelaporan pajak pertambahan nilai di KPP Pratama Surakarta.

3.  Sikap pengguna  (X3) diperoleh nilai thitung  lebih besar dari ttabel  (3,626 > 1,984) dengan probabilitas 0,000 < 0,05; sehingga berpengaruh signifikan terhadap  perilaku  pengguna e-SPT PPN  sebagai  sarana  pelaporan  pajak pertambahan nilai di KPP Pratama Surakarta.

4.  Minat berperilaku (X4) diperoleh nilai thitung lebih besar dari ttabel (2,441 > 1,984) dengan probabilitas 0,016 < 0,05; sehingga berpengaruh signifikan terhadap  perilaku  pengguna e-SPT PPN  sebagai  sarana  pelaporan  pajak pertambahan nilai di KPP Pratama Surakarta.

5.  Kerumitan (X6) diperoleh nilai thitung  lebih besar dari ttabel (2,441 > 1,984) dengan probabilitas 0,001  < 0,05;  sehingga  berpengaruh signifikan terhadap  perilaku  pengguna e-SPT PPN  sebagai  sarana  pelaporan  pajak pertambahan nilai di KPP Pratama Surakarta.

6.  Penggunaan senyatanya  (X5) diperoleh nilai thitung  lebih  kecil  dari ttabel (1,961  <  1,984) dengan probabilitas 0,052  >  0,05;  sehingga  tidak berpengaruh signifikan terhadap  perilaku  pengguna e-SPT PPN  sebagai sarana pelaporan pajak pertambahan nilai di KPP Pratama Surakarta.

7.  Kesukarelaan  (X7) diperoleh nilai thitung  lebih  kecil  dari ttabel  (-0,419  < 1,984) dengan probabilitas 0,676  >  0,05;  sehingga  tidak  berpengaruh signifikan terhadap  perilaku  pengguna e-SPT PPN  sebagai  sarana pelaporan pajak pertambahan nilai di KPP Pratama Surakarta.

8.  Jenis kelamin  (X8) diperoleh nilai thitung  lebih  kecil  dari ttabel  (0,790  < 1,984) dengan probabilitas 0,431  >  0,05;  sehingga  tidak  berpengaruh signifikan terhadap  perilaku  pengguna e-SPT PPN  sebagai  sarana pelaporan pajak pertambahan nilai di KPP Pratama Surakarta.

9.  Pendidikan (X9) diperoleh nilai thitung  lebih kecil dari ttabel (0,271 < 1,984) dengan probabilitas 0,787 >  0,05;  sehingga  tidak  berpengaruh signifikan terhadap  perilaku  pengguna e-SPT PPN  sebagai  sarana  pelaporan  pajak pertambahan nilai di KPP Pratama Surakarta.

10. Pengalaman  (X10) diperoleh nilai thitung  lebih  kecil  dari ttabel  (1,298    < 1,984) dengan probabilitas 0,196  >  0,05;  sehingga  tidak  berpengaruh  signifikan terhadap  perilaku  pengguna e-SPT PPN  sebagai  sarana pelaporan pajak pertambahan nilai di KPP Pratama Surakarta.

Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Kapasitas Fiskal Daerah

Skripsi Ekonomi ~ Analisis Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Kapasitas Fiskal Daerah (Studi Kasus: Tiga Puluh Provinsi  Di Indonesiapada Periode 2001-2005)

fiskal Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Kapasitas Fiskal Daerah Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Kapasitas Fiskal Daerah fiskal

Latar Belakang Skripsi 

Pemberian otonomi daerah dan desentralisasi yang luas, nyata dan bertanggungjawab kepada daerah merupakan dua langkah strategis. Pertama, otonomi daerah dan desentralisasi merupakan jawaban atas permasalahan lokal bangsa Indonesia berupa ancaman disintegrasi bangsa, kemiskinan, ketidtesisakmerataan pembangunan, rendahnya kualitas hidup masyarakat, dan masalah pembangunan sumber daya manusia.

Kedua, otonomi daerah dan desentralisasimerupakan langkah strategis bangsa Indonesia untuk menyongsong era globalisasi ekonomi dengan memperkuat basis perekonomian daerah (Mardiasmo, 2002: 59). Esensi dari pemberian otonomi tersebut adalah desentralisasi keuangan yang dibarengi dengan desentralisasi fiskal dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. Era otonomi daerah ditandai dengan keluarnya Undang-Undang No 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan Undang-Undang No. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Kemudian Undang-Undang No 22 Tahun 1999 telah direvisi dengan Undang-Undang No. 32 Tahun 2004tentang Pemerintah Daerah dan Undang-Undang No. 25 Tahun 1999 telah direvisi dengan Undang-Undang No. 33 Tahun 2004tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.

Perumusan Masalah

Dari uraian latar belakang masalah di atas, dapat diambil pokok permasalahan sebagai berikut :

1.Bagaimana pengaruh Pajak Daerah (PD) terhadap kapasitas fiskal daerah di tiga puluh provinsi di Indonesia pada periode 2001-2005?

2.Bagaimana pengaruh Retribusi Daerah (RD) terhadap kapasitas fiskal daerah di tiga puluh provinsi di Indonesia pada periode 2001-2005?

3.Bagaimana pengaruh Bagi Hasil Pajak (BHP) terhadap kapasitas fiskal daerah di tiga puluh provinsi di Indonesia pada periode 2001-2005?

4.Bagaimana pengaruh Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) terhadap kapasitas fiskal daerah di tiga puluh provinsi di Indonesia pada periode 2001-2005?

5.Bagaimana pengaruh Pajak Daerah (PD), Retribusi Daerah (RD), Bagi Hasil Pajak (BHP), dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang diuji secara bersama-sama terhadap Kapasitas Fiskal Daerah (KFD) di tiga puluh provinsi di Indonesia pada periode 2001-2005?

Tujuan Penelitian 

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh Pajak Daerah, Retribusi Daerah, Bagi Hasil Pajak, dan Produk Domestik Regional Bruto terhadap Kapasitas Fiskal Daerah. Sampai dengan tahun 2005 jumlah provinsi di Indonesia sebanyak tiga puluh tiga provinsi. Adapun periode waktu yang digunakan terdiri dari data time series mulai tahun 2001 hingga 2005 yang akan dikombinasikan dengan data cross section  dari tiga puluh provinsi yang dipilih sebagai daerah sampel. Provinsi yang tidak termasuk dalam penelitian adalah Provinsi Irian Jaya Barat, Kepulauan Riau dan Sulawesi Barat. Alat analisis yang dipergunakan adalah uji regresi berganda dengan metode analisis data panel.

Kesimpulan

Selama ini kemandirian daerah yang kuat diukur dari struktur PAD yang antara lain terdiri dari pajak daerah, retribusi daerah dan BUMD. Penetapan target PAD yang dilakukan selama ini bersifat incremental dan belum pada potensi dan kapasitas penerimaan PAD  yang sesungguhnya sehingga PAD belum optimal menjadi sumber utama dana APBD. Potensi dan kapasitas fiskal merupakan pencerminan kemandirian daerah. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dipaparkan sebelumnya, maka beberapa hal yang dapat disimpulkan dari hasil regresi berganda diatas antara lain adalah:

1.Tanda parameter untuk Pajak Daerah adalah positif yaitu 1,176148 yang akan menunjukkan bahwa apabila Pajak Daerah naik 1 Milyar Rupiah, maka akan mengakibatkan naiknya Kapasitas Fiskal Daerah sebesar 1,176148 Milyar Rupiah, hasil regresi dengan asumsi variabel yang lain tetap (Ceteris Paribus). Sedangkan apabila Pajak Daerah turun 1 Milyar Rupiah, maka akan mengakibatkan menurunnya Kapasitas Fiskal Daerah sebesar 1,176148 Milyar Rupiah, hasil regresi dengan asumsi variabel yang lain tetap (Ceteris Paribus).

2.Tanda parameter untuk Retribusi Daerah adalah positif yaitu 0,285468namun terbukti tidak signifikan. Dengan arti lain Retribusi Daerahtidak memiliki pengaruh yang nyata terhadap Kapasitas Fiskal Daerah. Berarti terjadi penyimpangan dengan hipotesis yang ada dalam penelitian. Tetapi sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Joko Tri Haryanto (2006).

3.Tanda parameter untuk Bagi Hasil Pajak adalah positif yaitu 0,435284yang akan menunjukkan bahwa apabila Bagi Hasil Pajak naik 1 Milyar Rupiah, maka akan mengakibatkan naiknya Kapasitas Fiskal Daerah sebesar 0,435284Milyar Rupiah, hasil regresi dengan asumsi variabel yang lain tetap (Ceteris Paribus). Sedangkan apabila Bagi Hasil Pajak turun 1 Milyar Rupiah, maka akan mengakibatkan menurunnya Kapasitas Fiskal Daerah sebesar 0,435284Milyar Rupiah, hasil regresi dengan asumsi variabel yang lain tetap (Ceteris Paribus).

4.Tanda parameter untuk Produk Domestik Reginal Bruto adalah positif yaitu 0,002311 namun terbukti tidak signifikan. Dengan arti lain Produk Domestik Regional Bruto tidak memiliki pengaruh yang nyata terhadap Kapasitas Fiskal Daerah. Produk Domestik Reginal Bruto tidak sesuai dengan hipotesis penelitian. Tetapi sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Joko Tri Haryanto (2006).

5.Uji F menunjukan bahwa model cukup bagus, karena Fhitung (5299,503) > Ftabel (2,45)yang berarti secara bersama-sama variabel independen yaitu Pajak Daerah (PD), Retribusi Daerah (RD), Bagi Hasil Pajak (BHP), dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) berpengaruh terhadap variabel dependen yaitu Kapasitas Fiskal Daerah (KFD). Dengan besarnya nilai R2

sebesar 0,992757berarti 99,28% variasi variabel independen (Pajak Daerah (PD), Retribusi Daerah (RD), Bagi Hasil Pajak (BHP), dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)) mampu menjelaskan variasi dependen (Kapasitas Fiskal Daerah (KFD)) dan sisanya 0,72% dipengaruhi variabel lain diluar model.

Incoming search terms: