Pengaruh Coping Strategies Terhadap TAM

SkripsiPengaruh Coping Strategies Terhadap Technology Acceptance Model (TAM) (Studi pada Usaha Kecil dan Menengah Pengguna Facebook di Surakarta)

ukm Pengaruh Coping Strategies Terhadap TAM Pengaruh Coping Strategies Terhadap TAM ukm

Latar Belakang Skripsi

Niat adopsi terjadi didtesisahului dengan adanya sikap konsumen dalam  menanggapi suatu produk,dalam  Technology Acceptance Model  (Davis, 1989) mengemukakan niat seseorang dalam menggunakan teknologi dipengaruhi oleh kegunaan teknologi (usefulness) dan kemudahan teknologi untuk digunakan (easy of use), kedua variabel tersebut merupakan faktor utama yang menentukan seseorang dalam menggunakan teknologi (Lihat Templeton dan Byrd 2003; Adams et al, 1992; Shen et al, 2006). Teknologi baru, karena sifatnya yang diskontinus, tidak bisa diadopsi secara luas begitu saja.  Sifat dan  kebutuhan konsumen yang berbeda-beda membuat adopsi akan berlangsung secara bertahap, berpindah dari satu kelompok konsumen ke kelompok berikutnya.  Ada konsumen yang berani mengambil resiko mencoba teknologi baru tersebut walau sistem yang mendukungnya belum mapan dan fitur-fiturnya masih kurang lengkap.

Konsumen sebelum memutuskan untuk menggunakan produk dengan teknologi baru atau tetap mempertahankan produk teknologi yang masih lama maka diperlukan pembelajaran dan pertimbangan sebelum memutuskan.  Dalam proses memutuskan tersebut, konsumen mengalami sebuah tekanan psikis dalam hal ini bisa mengalami stress ( Lihat Arifin, 2009).

Permasalahan

Permasalahan yang dirumuskan terkait dengan hubungan antar variabel yang membentuk model penelitian antara lain:

1.  Apakah  Coping strategies (refusal, delay, extended decision making, pretes) berpengaruh pada usefulness?

2.  Apakah Coping strategies (refusal, delay, extended decision making, pretes) berpengaruh pada easy of use ?

3. Apakah easy of use berpengaruh pada usefulness?

4.  Apakah  Coping strategies (refusal, delay, extended decision making, pretes) berpengaruh pada attitude to use ?

5.  Apakah  usefulness berpengaruh pada attitude to use ?

6.  Apakah easy of use berpengaruh pada attitude to use ?

7.  Apakah Coping strategies (refusal, delay, extended decision making, pretes) berpengaruh pada intention to use ?

8.  Apakah attitude to use berpengaruh pada intention to use?

Tujuan Penelitian 

Studi ini bertujuan untuk  menjelaskan pengaruh dari  Coping Strategies yang terdiri dari refusal, delay, extended decision making dan pretest terhadap Technology Acceptance Model (TAM) yang terdiri dari usefulness, easy of use, attitude to use dan intention to use.  Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi adopsi pada teknologi baru.  Data diambil melalui survei pada 137 responden yang berniat untuk menggunakan facebook sebagai sarana promosi usaha. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling. Hal ini bertujuan untuk menjamin keakuratan  dari  data  yang dikumpulkan.

Kesimpulan

Hasil pengujian yang diperoleh mengindikasi beberapa variabel yang mempunyai hubungan signifikan dan tidak signifikan. Hubungan antar variabel itu antara lain:

1.  Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara  Coping strategies (refusal, delay, extended decision making, pretes) dengan usefulness.

2.  Hubungan signifikan secara parsial antara Coping strategies (refusal, delay, extended decision making, pretes) dengan easy of use .

3.  Hubungan positif dan signifikan antara easy of use dan usefulness.

4.  Hubungan signifikan yang ditunjukkan hanya parsial antara  Coping strategies (refusal, delay, extended decision making, pretes) dengan attitude to use.

5.  Hubungan positif dan signifikan antara  usefulness dan attitude to use menjelaskan bahwa semakin tinggi penerimaan kegunaan menggunakan facebook maka semakin tinggi sikap menggunakan  facebook oleh pemilik UKM.

6.  Hubungan yang tidak signifikan antara  easy of use dan attitude to use menjelaskan bahwa tingkat kemudahan menggunakan  facebook tidak mempengaruhi sikap menggunakan  facebook oleh pemilik UKM.

7.  Hubungan yang tidak signifikan antara  Coping strategies (refusal, delay, extended

decision making, pretes) dengan intention to use .

8.  Hubungan positif dan signifikan antara  attitude to use dengan intention to use menjelaskan bahwa semakin tinggi sikap untuk menggunakan  facebook maka semakin tinggi niat untuk menggunakan  facebook oleh pemilik UKM.

Analisis Brand Loyalty Terhadap Produk Hygiene

Skripsi Ekonomi~ Analisis Brand Loyalty Terhadap Produk Hygiene Merek Calmic Di Surakarta

Produk Hygiene Analisis Brand Loyalty Terhadap Produk Hygiene Analisis Brand Loyalty Terhadap Produk Hygiene Produk Hygiene

Latar Belakang Skripsi

Merek adalah nama, istilah, tanda, simbol, rancangan, atau kombinasi dari hal-hal tersebut, yang dimaksudkan untuk mengidtesisentifikasi barang atau jasa dari seorang atau sekelompok penjual dan untuk membedakannya dari produk pesaing. (Kotler, 2001: 575) .Tujuan pemberian merek adalah untuk mengidentifikasi produk atau jasa yang dihasilkan sehingga berbeda dari produk atau jasa yang dihasilkan oleh pesaing.

Sebagai suatu ukuran keterkaitan pelanggan kepada sebuah merek. Ukuran ini mampu memberikan gambaran tentang mungkin tidaknya seorang pelanggan beralih ke merek lain yang ditawarkan oleh kompetitor, terutama jika pada merek tersebut didapati adanya perubahan, baik menyangkut harga ataupun atribut lainnya.

Rumusan Masalah

  1. Bagaimana tingkat loyalitas konsumen terhadap produk hygiene merek Calmic di Surakarta?
  2. Apakah tingkatan loyalitas tersebut membentuk piramida yang menunjukkan “brand loyalty  lemah” atau piramida terbalik yang menunjukkan “brand loyalty kuat” ?

Tujuan Penelitian 

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat loyalitas konsumen   PT. Calmic Cabang Solo terhadap produk  hygiene merek Calmic. Dan juga untuk mengetahui apakah  brand loyalty terhadap produk  hygiene merek Calmic tersebut menunjukkan loyalitas yang kuat ataukah lemah. Metode penelitian yang digunakan adalah diskriptif dimana merupakan jenis riset yang tujuan utamanya adalah menggambarkan sesuatu.

Kesimpulan

Dari hasil analisa yang diolah, dengan membagikan kuesioner kepada 100 konsumen   PT. Calmic Cabang Solo yang menggunakan produk  hygiene merek Calmic maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

  1. Berdasarkan analisis karakteristik responden, dari 100 responden menyatakan pengguna produk  hygiene merek Calmic lebih banyak perempuan yaitu sebesar 62%, dengan rata-rata berusia 27-32 tahun sebanyak 48%, bekerja di swasta 45%, dan berpenghasilan >Rp 2.000.000,00 sebesar 72%.
  2. Sebanyak 7% dari 100 responden bersifat  switcher (berpindah) melakukan pembelian karena faktor harga.
  3. Pada tingkatan  habitual buyer (pembeli yang bersifat kebiasaan) sebanyak 77% responden menyatakan bahwa mereka terbiasa melakukan pembelian pada produk hygiene merek Calmic.
  4. Pada tingkatan  satisfied buyer (pembeli yang puas dengan biaya peralihan) sebanyak 88% responden menyatakan puas melakukan pembelian pada produk hygiene merek Calmic
  5. Pada tingkatan  likes  the brand (menyukai merek) sebanyak 86% responden menyatakan suka pada produk hygiene merek Calmic
  6.  6.  Pada tingkatan committed buyer (pembeli yang komit) sebanyak 23% responden menyatakan sering dan selalu menyarankan untuk melakukan pembelian produk hygiene merek Calmic.

Analisis Produk Private Label Matahari DS

Skripsi Ekonomi~ Analisis Brand Retrieval, Brand Recall, Dan Sikap Konsumen Terhadap Produk Private Label Matahari Department Store (Studi Pada Anggota MCC Matahari Department Store Johar Plaza Jember)

departemen store Analisis Produk Private Label Matahari DS Analisis Produk Private Label Matahari DS departemen store

Latar Belakang Skripsi 

Pengusaha pengecer (retailer) mencari perusahaan yang memiliki kelebihan kapasitas dan belum terpakai secara optimal, yang mau memproduksi produk  private label  dengan biaya rendah.  Itu berarti pemilik  private label bisa menjual produknya dengan harga yang lebih rendah (dibanding produk merek nasional) sehingga dapat menghasilkan keuntungan yang lebih besar.  Pemilik private label bisa mengembangkan merek toko yang kuat yang akan menarik perhatian banyak orang untuk datang ke toko mereka (Philip Kotler, 1994; p.449).

Faktor tersebut diatas didtesisukung dengan fakta di Indonesia bahwa saat ini telah terjadi kecenderungan bahwa sebagian besar konsumen sudah semakin kritis terhadap produk. Dalam tahun-tahun yang lalu, konsumen melihat merek-merek dalam suatu kategori sebagai suatu  tangga merek  (brand ladder), dengan merek favorit berada di puncak dan merek-merek lain di bawahnya sesuai preferensi. Sekarang konsumen cenderung memilih produk yang memiliki harga yang lebih murah dengan kualitas baik. Konsumen sudah tidak lagi mengutamakan produk bermerek yang menunjang gengsi dan prestise mereka, tetapi lebih mementingkan fungsi suatu produk untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka. Gejala tersebut menunjukkan banyak produk yang kekuatannya sudah mapan mulai ditinggalkan pelanggannya dan beralih ke produk dengan merek-merek pengikut yang memiliki kualitas dan tampilan yang tidak jauh berbeda dengan merek-merek terkenal (pioneer brand).

Perumusan Masalah

Untuk mempermudah dalam mengidentifikasi masalah yang akan dibahas, maka perumusan masalah dalam penelitian ini, yaitu:

  1. Seberapa besarkah brand retrieval anggota Matahari Club Card terhadap produk private label Matahari Department Store ( NEVADA )?
  2. Apakah anggota MCC dapat mem-brand recall produk  private label Matahari Department Store?
  3. Bagaimanakah sikap anggota MCC terhadap atribut produk private label Matahari Department Store dibandingkan dengan produk bermerek nasional?

 Kesimpulan

Pada bagian ini akan diuraikan beberapa kesimpulan yang diperoleh dari hasil analisis data, dan juga saran-saran yang dianggap peneliti dapat bermanfaat bagi pihak-pihak tertentu.

  • Brand Retrieval

Dari hasil analisis persentase pada produk pakaian jadi diperoleh hasil yang menunjukkan bahwa merek private label (NEVADA :63%) memiliki  brand retrieval yang lebih tinggi dari pada merek-merek produsen (WALRUS :23% dan OSELLA :14%). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa  brand retrieval untuk  private label masih lebih tinggi dibandingkan produk merek produsen.

  • Brand Recall

Berdasarkan analisis persentase diperoleh hasil yang menunjukkan bahwa tidak semua responden dapat mem-brand recall merek  private label dan merek produsen. Untuk produk pakaian jadi terdapat 38% dari total responden yang dapat mengidentifikasikan produk mana yang merupakan private label, sementara 45% lainnya tidak tahu merek mana yang merupakan  private label. Dan 17% sisanya salah mengidentifikasikan merek lain, terdiri dari 10% memilih Walrus dan 7% memilih Osella. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebagian besar dari responden yang merupakan anggota Matahari Club Card tidak mengetahui merek Nevada merupakan produk private label Matahari Department Store.

  • Sikap

Konsumen Secara Keseluruhan Berdasarkan analisis  Fishbein Attitude Model, dapat disimpulkan bahwa pelanggan (anggota MCC) memiliki sikap yang cukup positif terhadap atribut-atribut produk  private label Matahari Department Store (NEVADA) dan  merek produsen (WALRUS). Hal tersebut menunjukan bahwa pelanggan cukup yakin bahwa secara umum kedua merek tersebut memiliki atribut-atribut seperti :

  1. Penentuan harga yang sesuai dengan kualitas produk.
  2. Cara pengemasan yang cukup menarik.
  3. Pemilihan nama merek yang mudah diingat
  4. Iklan produk yang mudah dijumpai di media masa.
  5. Pemilihan bahan yang sesuai dengan iklim tropis.
  6. Pilihan warna yang cukup bervariasi.
  7. Penempakan bahan yang sesuai dengan standar produk pakaian jadi pada umumnya.
  • Sikap Konsumen per Atribut

Dengan melihat hasil analisis Fishbein Attitude Model maka dapat disimpulkan bahwa untuk atribut yang tergolong intrinsic cues, produk private label (NEVADA) memiliki penilaian sikap yang lebih positif dibandingkan dengan produk merek produsen (WALRUS), sedangkan untuk variabel  extrinsic cues  atribut iklan mendapatkan penilaian cukup negatif dan sebaliknya produk WALRUS mendapatkan sikap positif dari anggota MCC.

Incoming search terms:

Analisis Break Even Point Terhadap Penjualan Jasa Sewa Kamar Hotel

Skripsi Ekonomi~ Analisis Break Even Point Terhadap Penjualan Jasa Sewa Kamar Pada Hotel Surya Indah Salatiga

kamar hotel Analisis Break Even Point Terhadap Penjualan Jasa Sewa Kamar Hotel Analisis Break Even Point Terhadap Penjualan Jasa Sewa Kamar Hotel kamar hotel

Latar Belakang Skripsi

Dengan adanya perencanaan yang baik maka akan memudahkan tugas manajemen karena semua kegiatan perusahaan dapat diarahkan untuk mencapai tujuan yang telah direncanakan, dan perencanaan itu sendiri dapat digunakan sebagai alat pengawasan kegiatan perusahaan. Dengan adanya perencanaan dan pengawasan  yang baik maka akan memungkinkan manajemen untuk bekerja lebih efektif dan efisien.

Perencanaan yang dibuat oleh manajemen untuk kegiatan perusahaan dimasa mendatang umumnya dituangkan dalam anggaran atau program budget (Munawir, 1986:184). Sebagian besar dari program budget berisi taksiran penghasilan yang akan diperoleh dan biaya-biaya yang akan terjadi untuk memperoleh penghasilan tersebut dan akhirnya menujukkan laba yang akan dapat dicapai.

Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut:

1.Berapa jumlah penjualan jasa sewa kamar minimum yang harus dicapai hotel agar tidtesisak menderita kerugian atau mencapai break even point ?

2. Apa pengaruh perubahan harga sewa per jenis kamar terhadap analisis break even point ?

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk menghitung tingkat  break even point pada Hotel Surya Indah terutama pada penjualan jasa sewa kamar pada tahun 2004, yang meliputi penjualan jasa sewa kamar Delux, kamar Moderate, dan kamar Standar. Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat diketahui tingkat penjualan yang diperlukan agar tercapai break even point  pada penjualan jasa sewa kamar di Hotel Surya Indah.

Analisis ini bertujuan untuk menghitung tingkat penjualan agar hasil penjualannya sama dengan jumlah semua biaya variabel maupun biaya tetapnya. Dalam menghitung  breakeven pada hotel Surya Indah penulis menggunakan pendekatan teknik persamaan. Untuk mengalokasikan biaya tetap dan biaya variabel penulis menggunakan metode nilai jual relatif.

Kesimpulan

Berdasarkaan hasil perhitungan break even yang telah dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1.Dari hasil penghitungan analisis  break even tahun 2004, dapat diketahui bahwa  break even untuk tahun 2004 diraih saat volume penjualan mencapai Rp 107.755.138,00 atau sebanyak 672 kamar selama setahun, dengan perincian sebagai berikut:

a.Penjualan kamar Delux sebesar Rp 24.107.549,09 atau sebanyak 112 kamar.

b.Penjualan kamar Moderate sebesar Rp 34.086.953,13 atau sebanyak 179 kamar.

c.Penjualan kamar Standar sebesar Rp 49.560.635,79 atau sebanyak 381 kamar.

2.Perubahan harga sewa per jenis kamar sangat berpengaruh terhadap analisis break even. Break even total akan turun dan laba perusahaan akan naik jika harga salah satu jenis kamar dinaikkan. Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan, maka kenaikan harga sewa kamar dari jenis Standar yang menghasilkan tingkat  break even terendah yaitu sebesar Rp 107.518.290,24, dan pencapaian laba yang tertinggi yaitu sebesar Rp 1.653.001.600,00 atau sebesar  1,05% dari laba sebelum terjadi perubahan tarif sewa kamar

Incoming search terms:

Break Even Point Penjualan Sebagai Alat Perencanaan Laba

Skripsi Ekonomi~ Analisis Break Even Point Terhadap Penjualan Sebagai Alat Perencanaan Laba Pada PT. Putri Salju Karanganyar

pendapatan Break Even Point Penjualan Sebagai Alat Perencanaan Laba Break Even Point Penjualan Sebagai Alat Perencanaan Laba pendapatan

Latar Belakang Skripsi

Ukuran yang seringkali untuk menilai sukses tidtesisaknya manajemen perusahaan adalah laba yang diperoleh perusahaan. Laba disamping sebagai akhir proses manajemen, laba juga sebagai alat yang sangat penting bagi kelangsungan perusahaan itu sendiri.   Laba adalah selisih antara pendapatan selama satu periode selama satu periode tertentu dengan jumlah seluruh biaya yang menjadi beban selama waktu yang sama. Laba sebagai tujuan utama sangat dipengaruhi oleh tiga faktor utama yaitu harga jual produk, biaya-biaya dan volume penjualan.

Manajemen di perusahaan yang berorientasi pada laba dituntut untuk mempelajari hubungan antara biaya, volume dan laba. Studi ini biasanya disebut analisis biaya volume laba. Analisis ini dapat menggunakan analisis Break Even Point (BEP), karena analisis BEP menyajikan informasi hubungan biaya, volume, laba kepada manajemen, sehingga memudahkan manajemen dalam menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi yang mempengaruhi pencapaian laba perusahaan di masa depan (Mulyadi, 1990: 468). Menurut

Perumusan Masalah

  1. Bagaimana penerapan analisis Break Even Point terhadap penjualan pada PT. Putri Salju?
  2. Berapakah jumlah penjualan yang harus dicapai perusahaan untuk mendapat laba bersih usaha sebesar 15 % dan 25% dari penjualan?
  3. Berapakah jumlah penjualan yang harus dicapai perusahaan untuk mendapat laba kotor penjualan sebesar 50% dari penjualan?

Simpulan

Berdasar analisis data dan pembahasan pada bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan mengenai hasil penerapan analisis  break even point terhadap penjualan sebagai alat perencanaan laba pada PT. Putri Salju Karanganyar sebagai berikut.

  1. Dari hasil analisis Break Even Point terhadap penjualan es balok dan  ice tube pada tahun 2006, maka dapat diketahui bahwa  break even dapat diraih saat volume penjualan  sebesar Rp2.847.251.367,00. Artinya jika perusahaan merencanakan tingkat  keuntungan tertentu maka perusahaan harus mampu memperoleh pendapatan minimal Rp2.847.251.367,00 atau perusahaan mampu menjual produk (es balok dan  ice tube) sebanyak 364.164 unit. Untuk perincian banyaknya jumlah produk yang dijual tiap jenis produk sebagai berikut:
  • Es Balok jenis harga I sebanyak 110.812 balok.
  • Es Balok jenis harga II sebanyak 18.119 balok.
  • Es Balok jenis harga III sebanyak 16.061 balok.
  • Es Balok jenis harga IV sebanyak 70.641 balok.
  • Es Balok jenis harga V sebanyak 128.298 balok.
  • Es Balok jenis harga VI sebanyak 13.589 balok.
  • Ice Tube sebanyak 6.644 kantong.

Untuk tahun 2006 perusahaan mampu melakukan penjualan produk sebesar Rp3.753.941.400,00, maka pada tahun 2006 perusahaan tidak mengalami rugi atau berada di atas titik impas (break even).

  1. Pada penentuan laba yang direncanakan sebesar 15% dari penjualan, maka didapat bahwa perusahaan harus mampu melakukan penjualan sebesar Rp14.181.175.346,00 dengan perincian produk yang harus terjual yaitu: Es Balok I sebanyak 145.760 balok, Es Balok II sebanyak 23.833 balok, Es Balok III sebanyak 21.127 balok, Es Balok IV sebanyak 92.920  balok, Es Balok V sebanyak 168.761 balok, Es Balok VI sebanyak 17.875  balok, dan  Ice Tube  sebanyak 8.739 kantong. Pada penentuan laba bersih yang ditingkatkan menjadi 25% dari penjualan, maka perusahaan harus mampu menjual Es Balok I sebanyak 184.567 balok, Es Balok II sebanyak 30.178 balok, Es Balok III sebanyak 26.752 balok, Es Balok IV sebanyak 117.658 balok, Es Balok V sebanyak 213.691 balok, Es Balok VI sebanyak 22.634  balok, dan  Ice Tube  sebanyak 11.065 kantong. Jadi dalam hal ini, jika perusahaan ingin meningkatkan laba dari tahun sebelumnya maka perusahaan harus meningkatkan tingkat penjualannya.
  2. Pada penentuan laba kotor yang direncanakan sebesar 50% dari penjualan, maka didapat bahwa perusahaan harus mampu melakukan penjualan sebesar Rp5.553.321.138,00 dengan perincian produk yang harus terjual yaitu: Es Balok I sebanyak 216.129 balok, Es Balok II sebanyak 35.339 balok, Es Balok III sebanyak 31.326 balok, Es Balok IV sebanyak 137.778 balok, Es Balok V sebanyak 250.234 balok, Es Balok VI sebanyak 26.504 balok, dan Ice Tube sebanyak 12.958 kantong.
Incoming search terms: