Analisis Penanaman Modal Asing

Skripsi Ekonomi~ Analisis Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Penanaman Modal Asing Di Daerah Istimewa Yogyakarta Periode 1986 2011

modal-ventura Analisis Penanaman Modal Asing Analisis Penanaman Modal Asing modal ventura

Latar Belakang Skripsi 

Sumber alam suatu Negara terbelakang disebut kurang terolah dalam arti sumber tersebut tidtesisak atau kurang dimanfaatkan. Suatu Negara mungkin saja kekurangan sumber alam, tetapi tidak dalam arti relatifnya. Meskipun suatu Negara miskin dalam sumber alam  tetapi ada kemungkinan di masa depan Negara itu akan berubah menjadi pemilik sumber alam yang besar sebagai hasil penemuan sumber yang sekarang belum diketahui atau karena penggunaan sumber yang ada dengan cara baru. Negara terbelakang sangat mengemukakan  satu sama lainnya.  Karena posisi demografi dan kecenderungannya. Hal mana disebabkan oleh luas, kepadatan, struktur usia dan laju pertumbuhan pnduduk yang beragam.

Namun demikian ada satu kesamaan ciri yaitu pertambahan penduduk yang cepat. Bersamaan dengan tingkat pendapatan yang rendah dan nihilnya tingkat pemupukan modal, maka kian lengkaplah kesulitan bagi Negara seperti itu menopang pertambahan penduduknya. Dan pada saat yang sama output akan meningkat sebagai hasil perbaikan teknologi dan pemupukan modal yang berakibat pada tak adanya perbaikan taraf hidup yang cukup berarti. Sebagian besar Negara terbelakang mempunyai potensi pertumbuhan penduduk yang tinggi serta memiliki tingkat kematian (mortalitas) yang cenderung menurun. Kepadatan penduduk di daerah pertanian begitu tinggi dibandingkan dengan luas tanah yang dapat ditanami. Kelangkaan tanah dalam kaitannya dengan besar penduduk menyebabkan penanaman berlebihan dan penggarapan tanah tanpa sela dengan demikian berarti justru menghambat kemajuan ekonomi.  Di Negara terbelakang dijumpai pengangguran dan pengangguran tersembunyi dalam jumlah besar.  Pengangguran di kota membengkak seiring dengan urbanisasi dan meningkatnya pendidikan. Akan tetapi sector industri tidak berkembang sejalan dengan pertumbuhan tenaga kerja, sehingga memperbesar pengangguran. Disamping itu ada pula penganggur yang berpendidikan. Mereka gagal mendapatkan pekerjaan karena tegarnya struktur dan tiadanya perencanaan tenaga kerja. Dengan tingkat pertumbuhan rata-rata tahunan penduduk kota sebesar 4,5 %, 20 % adalah penganggur.

Rumusan Masalah Penelitian 

Sejak ditetapkannya Undang-Undang penanaman modal asing tahun 1967 ternyata penanaman modal asing di Indonesia mengalami peningkatan. Oleh karena itu menarik kiranya  bila permasalahan ini dianalisis dan dikaji dengan lebih mendalam, terutama faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan investasi penanaman modal asing di DIY, sehingga untuk masa yang akan datang dapat dikembangkan lagi dengan lebih optimal.  Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perkembangan investasi penanaman modal asing di DIY perlu disusun rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut :

  1. Apakah  Produk  Domestik Regional Bruto (PDRB)  DIY berpengaruh terhadap penanaman modal asing?
  2. Apakah Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) berpengaruh terhadap modal asing?
  3. Apakah tingkat inflasi di Indonesia berpengaruh terhadap penanaman modal asing?
  4. Apakah tingkat suku bunga internasional berpengaruh terhadap penanaman modal asing?

Tujuan Penelitian 

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendapatan domestic regional bruto (PDRB), penanaman  modal dalam negeri (PMDN), inflasi dan suku bunga terhadap penanaman modal asing di Daerah Istimewa Yogyakarta periode 1986-2011.  Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder dari variabel PDRB, PMDN, inflasi, dan suku bunga dari periode 1986-2011 yang penulis peroleh dari berbagai sumber. Model regreasi Ordinary Least Square digunakan untuk pengujian hipotesis, dengan menggunakan metode analisis baik metode kualitatif dan kuantitatif.

Kesimpulan

Berdasarkan uraian yang telah disajikan dalam bab-bab sebelumnya dapat diambil beberapa simpulan sebagai berikut :

  1. PDRB terhadap PMA DIY juga mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan sebesar 3,246. Ini berarti bahwa produk domestik yang berkembang dan dihasilkan oleh DIY cukup mendorong investor asing untuk menanamkan modalnya di DIY.
  2. PMDN sebagai realisasi fisik dari adanya PMA mempunyai pengaruh yang  positif dan signifikan dengan PMA DIY sebesar 3,780. Ini berarti bahwa dengan tersedianya fasilitas PMA, pelaksanaan kegiatan investasi ini dapat berjalan dengan lancar.
  3. Tingkat inflasi tidak berpengaruh signifikan terhadap penanaman modal asing di DIY.
  4. Suku bunga Internasional tidak berpengaruh signifikan terhadap penanaman modal asing di DIY.
  5. Fluktuasi tahunan atas PMA di DIY periode 1986-2011 disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya PDRB, PMDN, inflasi dan tingkat suku bunga internasional.
  6. Dari penelitian yang telah dilakukan diketahui bahwa suku bunga internasional dan tingkat inflasi  di Indonesia tidak mempengaruhi perubahan investasi di DIY.
Incoming search terms:

Analisis Daya Saing Ekspor Dan Produk Tekstil Indonesia

Skripsi Ekonomi~ Analisis Daya Saing Ekspor Tekstil Dan Produk Tekstil Indonesia Dibandingkan Dengan Cina  Di Pasar Amerika Serikat Tahun 2001-2008 (Pendekatan RCA Dan CMS)

pedagang kain Analisis Daya Saing Ekspor Dan Produk Tekstil Indonesia Analisis Daya Saing Ekspor Dan Produk Tekstil Indonesia pedagang kain

Latar Belakang Skripsi 

Dengan adanya pengaruh pertumbuhan ekspor tekstil Cina yang semakin merambah ke seluruh dunia, maka hal tersebut akan menekan pertumbuhan ekspor tekstil Indonesia. Pertumbuhan ekspor produk tekstil Cina itu terlihat dari semakin banyaknya produk-produk tekstil Cina yang membanjiri pasar Amerika Serikat.

Pertumbuhan ekonomi Cina yang tinggi bisa sangat membahayakan bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia. Sebagai pengekspor sumber daya alam, Indonesia bisa menarik banyak keuntungan. Namun, pada saat yang sama, industralisasi akan kian sulit akibat persaingan. Salah satu tindakan nyata yang harus dilakukan oleh industri tekstil Indonesia adalah meningkatkan daya saing.

Perumusan Masalah

  1. Bagaimana kinerja ekspor industri TPT Indonesia dibandingkan dengan Cina di pasar Amerika Serikat berdasarkan variabel efek pertumbuhan impor, efek komposisi komoditi dan efek daya saing?
  2. Bagaimana posisi daya saing industri TPT Indonesia dibandingkan dengan Cina di pasar Amerika Serikat?

Tujuan Penelitian 

Tujuan diadakannya penelitian ini adalah ingin mengetahui kinerja ekspor dan impor yang terjadi industri TPT.

Kesimpulan

Dari hasil analisis Constant Market Share, terlihat bahwa efek daya saing dan efek pertumbuhan impor  adalah efek yang paling menentukan dalam peningkatan/penurunan ekspor pakaian jadi Indonesia dan Cina di pasar Amerika Serikat dibandingkan efek komposisi komoditi. Efek daya saing komoditi pakaian jadi Indonesia lebih rendah dari Cina dalam memberikan kontribusi ekspor.

Berdasarkan hasil analisis CMS, kinerja pertumbuhan ekspor Tekstil dan Produk Tekstil Indonesia masih rendah dibandingkan ekspor Tekstil dan Produk Tekstil Cina. Kondisi tersebut disebabkan karena daya saing TPT Indonesia masih rendah dibandingkan daya saing TPT Cina di pasar Amerika Serikat dalam memberikan kontribusi ekspor. Daya saing secara komparatif untuk komoditi pakaian jadi Indonesia lebih baik dibanding komoditi pakaian jadi Cina, hal ini disebabkan ekspor pakaian Indonesia ke Amerika Serikat memberikan kontribisi yang cukup besar terhadap total ekspor Indonesia ke Amerika  Serikat. Dari perkembangan indeks RCA menunjukkan bahwa pangsa pasar Indonesia di Amerika Serikat untuk komoditi pakaian jadi cenderung berfluktuasi dalam setiap tahunnya, sementara  pangsa pasar Cina di Amerika Serikat cenderung bertambah.

 

Incoming search terms:

Analisis Deskriptif Komponen Penawaran Pariwisata

Skripsi Ekonomi~ Analisis Deskriptif Komponen Penawaran Pariwisata  Di Kabupaten Pati

grojogan sewu Analisis Deskriptif Komponen Penawaran Pariwisata Analisis Deskriptif Komponen Penawaran Pariwisata grojogan sewu

Latar Belakang Skripsi 

Pariwisata merupakan suatu kegiatan yang berkaitan dengan wisata untuk menikmati produk-produk wisata ataupun daya tarik wisata. Tindakan mengelola dan memperkenalkan suatu obyek wisata diperlukan agar wisatawan maupun masyarakat mengetahui dan dapat menikmati obyek pariwisata tersebut, kegiatan itu meliputi pembenahan sarana dan prasarana obyek pariwisata. Baik prasarana maupun sarana kepariwisataan sesungguhnya merupakan “tourism supply” yang perlu dipersiapkan atau disediakan bila kita hendak mengembangkan suatu industri wisata.

Dalam kepariwisataan yang dimaksud “tourism supply” adalah meliputi semua daerah tujuan yang ditawarkan kepada wisatawan. Ada empat aspek (4A) yang harus diperhatikan dalam “tourism supply” atau penawaran pariwisata yaitu semua bentuk daya tarik (Attraction), semua bentuk kemudahan untuk memperlancar perjalanan (Accessibility), semua bentuk fasilitas dan pelayanan (Amenity), dan aktivitas wisata (Activities) yang tersedia pada suatu DTW (Daerah Tujuan Wisata) yang dapat memuasakan kebutuhan dan keinginan wisatawan selama mereka berkunjung di DTW tersebut (PUSPARI UNS, 2006).

Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dibuat permasalahan sebagai berikut :

  1. Bagaimanakah profil/ gambaran umum kepariwisataan di Kabupaten Pati dilihat dari komponen penawaran pariwisata?

Tujuan Penelitian 

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimanakah profil/ gambaran umum kepariwisataan di Kabupaten Pati dilihat dari komponen penawaran pariwisata. Analisis data yang digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian adalah dengan menggunakan metode Deskriptif Kualitatif.

Kesimpulan 

Dari hasil kesimpulan dapat disimpulkan bahwa : penilaian kelengkapan komponen penawaran pariwisata dari 12 obyek wisata di Kabupaten Pati hanya 33% atau 4 obyek wisata yang mempunyai skor di atas 35, sedangkan 67% atau 8 obyek wisata yang lainnya mempunyai skor di bawah 35. Skor 39,96 merupakan nilai skor paling tinggi yang memiliki ketersediaan komponen penawaran yang paling lengkap dari atraksi, aksesbilitas (tersedia kondisi jalan yang cukup bagus, tersedia penunjuk jalan, dan sarana transportasi), amenitas (tersedia toko kelontong, warung makan, MCK, jaringan telekomunikasi (BTS), serta tersedia penerangan pada obyek wisata dan jalan umum menuju obyek wisata) dan aktivitas, sedangkan skor 18,66 merupakan nilai yang paling rendah. Obyek wisata di Kabupaten Pati yang mempunyai skor tertinggi 39,96 adalah OW Sendang Tirta Marta Sani dan OW Religi Makam Syech Jangkung. Skor terendah yaitu 18,66 adalah OW Gua Wareh, OW Kebun Kopi Jollong dan OW Air Terjun Grinjingan Sewu.

 

 

Analisis Deskriptif Pelaporan Keuangan Pengelola Zakat

Skripsi Ekonomi~ Analisis Deskriptif Pengaruh Pemberlakuan UU no. 38 tahun 1999 Terhadap Pelaporan Keuangan  Pada Lembaga Pengelola Zakat (Studi Kasus Di Lembaga Amil Zakat Yayasan Solo Peduli)

akuntansi (1) Analisis Deskriptif Pelaporan Keuangan Pengelola Zakat Analisis Deskriptif Pelaporan Keuangan Pengelola Zakat akuntansi 11

Latar Belakang Skripsi 

Agar pengelolaan dana zakat dapat dipertanggungjawabkan, maka perlu dilaksanakan pencatatan. Tujuan pencatatan pengelolaan dana zakat adalah sebagai sarana pertanggungjawaban kepada para muzakki dan masyarakat umum. Pertanggungjawaban dalam bentuk laporan keuangan, harus dapat dipahami oleh setiap pengguna laporan. Untuk itu, diperlukan standar akuntansi pengelolaan zakat.

Persoalan  penting  yang dihadapi oleh Lembaga Pengelola Zakat bukan saja terletak pada organisasi pengelola zakat, akan tetapi bagaimana organisasi yang mendapat amanah  untuk mengelola ini betul dipercaya muzaki atau orang yang menunaikan zakat bahwa zakatnya dikelola dengan baik sesuai dengan ketentuan syariah dan sampai kepada mustahiq atau orang yang berhak menerimanya. Selain itu institusi pengelola zakat ini diakui keamanahannya oleh umat sehingga institusi/lembaga ini benar-benar berwibawa dan mempunyai arti penting di mata umat.

Perumusan Masalah

  1. Apa pengaruh pemberlakuan UU No. 38 tahun 1999 terhadap pelaporan keuangan suatu lembaga zakat yang telah berbadan hukum di Surakarta ?

Tujuan Penelitian 

Ingin mengetahui pengaruh pemberlakuan UU No. 38 tahun 1999 terhadap pelaporan keuangan suatu lembaga zakat yang telah berbadan hukum di Surakarta.

Kesimpulan

Dari hasil analisis,  setelah adanya penerapan UU No. 38 tahun 1999 khususnya pada sistem pelaporan keuangan Solo Peduli peneliti menemukan beberapa pengaruh dari perubahan tersebut:

  1. adanya kejelasan pada pengelolaan dana, yaitu dari mana saja penerimaan dana, kemana dana disalurkan, seberapa besar dana yang disalurkan dan dana yang disalurkan itu diambilkan dari pos penerimaan mana karena pelaporan yang sekarang tidtesisak hanya memasukkan penerimaan dan penggunaan dana yang diperoleh ke Laporan Sumber dan Penggunaan Dana saja sehingga kita tidak mengetahui penerimaan dana dari zakat (misalnya) dialokasikan seberapa besar dan kemana saja.
  2. pelaporan sekarang mengharuskan lembaga membuat lima bentuk laporan 4 bentuk laporan keuangan dan satu catatan laporan keuangan, hal ini akan berimplikasi pada:
  • pengawas dan muzaki akan dapat lebih detail mengetahui pengelolaan dari dana-dana yang telah diterima lembaga.
  • Bagi pihak pengelola sendiri hal ini merupakan kontrol bagi pengelolaan dana yang telah diterima segala sesuatu harus tercatat dan terlaporkan sesuai dengan pos dan ketentuaannya. Kesalahan yang dibuat pihak pengelola berkaitan dengan pengelolaan yang dapat dideteksi dari sistem pelaporan ini dikenakan sanksi seperti yang telah ditetapkan dalam UU No. 38 tahun 1999.
Incoming search terms:

Analisis Disparitas Pendapatan Antar Daerah Di Provinsi

Skripsi Ekonomi~ Analisis Disparitas Pendapatan Antar Daerah Di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2005-2009

pendapatan Analisis Disparitas Pendapatan Antar Daerah Di Provinsi Analisis Disparitas Pendapatan Antar Daerah Di Provinsi pendapatan

Latar Belakang Skripsi 

Pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses dimana pemerintah daerah dan masyarakat mengelola sumber daya yang ada dan membentuk suatu pola kemitraan antara pemerintah daerah dan sektor swasta untuk menciptakan suatu lapangan pekerjaan dan merangsang perkembangan kegiatan ekonomi di dalam wilayah tersebut (Arsyad, 1999). Akan tetapi, kondisi daerah di Indonesia yang secara geografis dan sumber daya alam yang berbeda menimbulkan daerah yang lebih makmur dan lebih maju dibandingkan daerah yang lainnya.

Kebijakan pembangunan dilakukan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi dengan cara memanfaatkan potensi dan sumber daya yang ada dan berbeda-beda bagi masing-masing daerah. Proses tersebut dilakukan agar pembangunan dapat dirasakan secara lebih merata. Untuk itu, perhatian pemerintah harus tertuju pada semua daerah tanpa ada perlakuan khusus pada daerah tertentu saja. Hasil pembangunan harus dapat dinikmati oleh seluruh rakyat sebagai wujud peningkatan kesejahteraan lahir dan batin secara adil dan merata.

Rumusan Masalah 

Berdasarkan uraian pada latar belakang, maka rumusan masalah penelitian ini adalah:

  1. Bagaimana pertumbuhan ekonomi antar daerah di Provinsi Jawa Tengah tahun 2005-2009?
  2. Bagaimana pola pertumbuhan ekonomi serta klasifikasi antar daerah di Provinsi Jawa Tengah menurut Tipologi Klassen tahun 2005-2009?
  3. Berapa besar tingkat disparitas pendapatan antar daerah di Provinsi Jawa Tengah berdasarkan Indeks Williamson dan Indeks Entropi Theil tahun 2005-2009?

Tujuan Penelitian 

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pertumbuhan ekonomi, pola pertumbuhan ekonomi serta klasifikasi menurut Tipologi Klassen dan besarnya tingkat disparitas pendapatan berdasarkan Indeks Williamson dan Indeks Entropi Thei antar daerah di Provinsi Jawa Tengah.

Kesimpulan

Berdasarkan analisis yang dilakukan pada bab sebelumnya, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

  1. Pertumbuhan ekonomi di Provinsi Jawa Tengah selama periode penelitian tahun 2005-2009 mengalami fluktuasi menyesuaikan situasi perekonomian yang sedang terjadi. Laju pertumbuhan ekonomi di Provinsi Jawa Tengah rata-rata 5,29 persen setiap tahun, jumlah tersebut masih bisa ditingkatkan lagi karena banyak potensi yang dimiliki oleh Provinsi Jawa Tengah yang belum dikelola dengan maksimal.
  2. Pengklasifikasian kabupaten/kota berdasarkan pertumbuhan ekonomi dan PDRB per kapita di Provinsi Jawa Tengah memakai alat analisis Tipologi Klassen dengan pendekatan wilayah ternyata menunjukkan masih banyak kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah selama tahun 2005-2009 yang merupakan daerah relatif tertinggal (termasuk dalam kuadran IV). Sebanyak 8 kabupaten pada kuadran ini merupakan daerah yang relatif tertinggal yaitu: Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Klaten, Kabupaten Demak, Kabupaten Temanggung, Kabupaten Batang, Kabupaten Pekalongan dan Kabupaten Pemalang.
  3. Disparitas pendapatan antar kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah dianalisis menggunkan Indeks Williamson dan Indeks Entropi Theil. Hasilnya bahwa disparitas pendapatan antar kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah selama tahun 2005-2009 tergolong tinggi, karena berada di atas ambang batas 0,5. Indeks Entropi Theil dan Indeks Williamson yang menunjukkan adanya disparitas pendapatan antar kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah tersebut belum menunjukkan kecenderungan menurun karena masih tergolong tinggi.