Analisis Besarnya Pengambilan Kredit Oleh Masyarakat

Skripsi Ekonomi ~ Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Besarnya Pengambilan Kredit Oleh Masyarakat Pada Perum Pegadaian (Studi Kasus di Perum Pegadaian Cabang Klaten)

lapor-pajak Analisis Besarnya Pengambilan Kredit Oleh Masyarakat Analisis Besarnya Pengambilan Kredit Oleh Masyarakat lapor pajak

Latar Belakang Skripsi 

Pembangunan menurut GBHN tahun 1999­2004 adalah suatu proses perubahan secara terus menerus yang merupakan kemajuan dan perbaikan menuju kearah yang dicita- citakan. Pembangunan nasional yang dilaksanakan mencakup upaya peningkatan disegala bidtesisang kehidupan yaitu pembangunan dibidang ekonomi, politik, sosial, budaya dan hankam.

Pelaksanaan pembangunan membutuhkan dana yang cukup besar, dana tersebut berasal dari APBN dan bantuan luar negeri. Selain itu juga dari sektor lembaga keuangan. Menurut kepemilikannya lembaga keuangan terdiri dari lembaga keuangan milik pemerintah (BUMN) dan lembaga keuangan milik swasta, sedangkan jika dilihat dari jenisnya, sektor lembaga keuangan ini terdiri

Perumusan Masalah

Perumusan masalah penelitian faktorfaktor yang mempengaruhi besarnya pengambilan kredit pada Perum Pegadaian  Klaten sebagai berikut :

1.Bagaimana pengaruh tingkat pendapatan terhadap besarnya pengambilan kredit di Perum Pegadaian?

2.Bagaimana pengaruh rasio nilai taksiran dengan jumlah pinjaman terhadap besarnya pengambilan kredit di Perum Pegadaian?

3.Bagaimana pengaruh jumlah tanggungan keluarga terhadap besarnya pengambilan kredit di Perum Pegadaian?

4.Bagaimana pengaruh jangka waktu pengembalian terhadap besarnya pengambilan kredit di Perum Pegadaian?

5.Bagaimana pengaruh penggunaan kredit untuk konsumsi rumah tangga terhadap besarnya pengambilan kredit di Perum Pegadaian?

Tujuan Penelitian 

Dari kegiatan penelitian yang dilakukan ini penulis bertujuan ingin mengetahui apa saja faktor yang membuat masyarakat mengambil kredit pada perum pegadaian.

Kesimpulan

1.Secara bersamasama menunjukkan bahwa variabel Tingkat Pendapatan, Rasio Nilai Taksiran dengan Jumlah Uang Pinjaman, Tanggungan Keluarga, Jangka Waktu Pengembalian Kredit,Penggunaan Kredit untuk Kosumsi Rumah Tangga dan Tingkat Pendidikan, berpengaruh positif dan signifikan dalam taraf signifikansi 5% terhadap besarnya pengambilan kredit di Perum Pegadaian Cabang Klaten.

2.Secara Individual menunjukkan bahwa variabel Tingkat Pendapatan, Tanggungan KeluargaJangka Waktu Pengembalian Kredit, Penggunaan Kredit untuk Konsumsi Rumah Tangga dan Tingkat Pendidikan, berpengaruh positif dan signifikan dalam taraf signifikansi 5% terhadap besarnya pengambilan kredit di Perum Pegadaian Cabang Klaten.

3.Variabel Rasio Nilai Taksiran dengan Jumlah Pinjaman ternyata berpengaruh negatif terhadap besarnya pengambilan kredit di Perum Pegadaian Cabang Klaten, ini berarti bahwa setiap penambahan rasio justru akan mengurangi besarnya pengambilan kredit.

Incoming search terms:

Analisis Dampak Revitalisasi dan Relokasi Pedagang Kaki Lima

Skripsi Ekonomi~ Analisis Dampak Revitalisasi dan Relokasi  Pedagang Kaki Lima  Di Kawasan Banjarsari ke Pasar Klitikan Notoharjo Surakarta

PKL Analisis Dampak Revitalisasi dan Relokasi  Pedagang Kaki Lima Analisis Dampak Revitalisasi dan Relokasi  Pedagang Kaki Lima PKL

Latar Belakang Skripsi 

Pasar merupakan salah satu tempat terjadinya transaksi atau tempat dimana terjadinya pertemuan antara demand dan suplay. Pasar adalah sekelompok pembeli dan penjual dari suatu barang atau jasa pembeli berperan sebagai suatu kelompok yang menentukan seberapa banyak permintaan barang dan penjual berperan sebagai kelompok yang menentukan seberapa banyak penawaran akan barang tersebut (Mankiw,2004;78). Salah satu bentuk pasar adalah pasar kompetitif yaitu pasar yan didtesisalamnya terdapat banyak pembeli dan penjual sehingga masing-masing pembeli atau penjual memiliki pengaruh yang sangat kecil terhadap harga pasar. (Mankiw, 2004;78).

Di Kota Surakarta sendiri memiliki 44 pasar yang tersebar di Kota Surakarta pasar yang terkenal di Kota Surakarta antara lain Pasar  Legi, Pasar Klewer, Pasar Gede, Pasar Singosaren, Pasar Notoharjo, dan Pasar Ngarsopuro. Pendapatan pasar terbesar  di Pasar Legi sebesar Rp. 1.437.132.840,00 ( Dinas Pengelolaan Pasar Kota Surakarta; desember 2010).

Rumusan Masalah

Dari gambaran umum di atas dapat diambil rumusan masalah sebagai berikut:

  1. Apakah Revitalisasi Pedagang Kaki Lima di kawasan Banjarsari Berpengaruh terhadap Omset Pedagang Kaki Lima tersebut?
  2. Apakah Revitalisasi Pedagang Kaki Lima di kawasan Banjarsari Berpengaruh terhadap Keuntungan Pedagang Kaki Lima tersebut?

Tujuan Penelitian 

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak revitalisasi dan relokasi Pedagang Kaki Lima di Kawasan Banjarsari Surakarta ke Pasar Klitikan Notoharjo terhadap omset penjualan, keuntungan pedagang, jumlah karyawan yang dihitung dalam satuan HOK, kuantitas barang yang dijual, dan reribusi dan pungutan pasar. arti kata dampak disini adalah untuk mengetahui perubahan variabel-variabel yang sudah disebutkan diatas terhadap kondisi pedagang saat ini (di Pasar Klitikan Notoharjo Semanggi) dengan cara membandingkan antara di Notoharjo dan saat masih di Banjarsari.

Kesimpulan

Berdasarkan analisis dengan mengunakan metode uji t (Paired sample t test) menggunakan  software spss 17 dapat disimpulkan dampak revitalisasi Pedagang Kaki Lima di Kawasan Banjarsari dan sekarang direlokasi di Pasar Klitikan Notoharjo Semanggi berpengaruh terhadap omset, keuntungan, jumlah tenaga kerja, kuantitas barang yang dijual dan retribusi dan pungutan pasar. Hasil anailisis sebagai berikut :

  1. Variabel Omset Penjualan Pedagang Variabel omset penjualan pedagang  sebelum dan sesudah revitalisasi dan relokasi Pedagang Kaki Lima di kawasan banjarsari ke Pasar Klitikan Notoharjo menunjukkan perbedaan secara nyata pada tahun pengamatan. Nilai dari t hitung menunjukkan nilai yang negatif hal ini menunjukkan adanya penurunan omset di Pasar Notoharjo jika di bandingkan dengan jumlah omset ketika di Banjarsari.
  2. Variabel Keuntungan Pedagang Variabel keuntungan pedagang sebelum dan sesudah revitalisasi dan relokasi Pedagang Kaki Lima di kawasan banjarsari ke Pasar Klitikan Notoharjo menunjukkan perbedaan secara nyata pada tahun pengamatan. Nilai dari t hitung menunjukkan nilai yang negatif hal ini menunjukkan adanya penurunan keuntungan di Pasar Notoharjo jika di bandingkan dengan jumlah omset ketika di Banjarsari
  3. Variabel Jumlah Tenaga Kerja Variabel jumlah tenaga kerja sebelum dan sesudah revitalisasi dan relokasi yang dihitung dengan satuan HOK (Hari Orang Kerja) tidak menunjukkan perbedaan secara nyata pada tahun pengamatan. Revitalisasi dan relokasi kurang berpengaruh atau  tidak ada perbedaan secara signifikan terhadap jumlah tenaga kerja antara sebelum dan sesudah direvitalisasi dan direlokasi.
  4. Variabel Kuantitas Barang yang dijual Variabel kuantitas barang yang dijual sebelum dan sesudah revitalisasi dan relokasi Pedagang Kaki Lima di kawasan banjarsari ke Pasar Klitikan Notoharjo menunjukkan perbedaan secara nyata pada tahun pengamatan. Nilai dari t hitung menunjukkan nilai yang negatif hal ini menunjukkan adanya penurunan kuantitas penjualan di Pasar Notoharjo jika di bandingkan dengan jumlah omset ketika di Banjarsari.
  5. Variabel Pungutan Pasar dan Retribusi Variabel pungutan pasar dan retribusi secara signifikan mengalami perubahan antara sebelum dan sesudah revitalisasi dan relokasi Pedagang Kaki Lima di kawasan banjarsari ke Pasar Klitikan Notoharjo menunjukkan perbedaan secara nyata pada tahun pengamatan.
Incoming search terms:

Analisis Daya Dukung Lahan Dan Perubahan Struktur Ekonomi

Skripsi Ekonomi~ Analisis Daya Dukung Lahan Dan Perubahan Struktur Ekonomi Kabupaten Pacitan Pada Masa Sebelum Dan Selama Pelaksanaan Otonomi Daerah

struktur ekonomi Analisis Daya Dukung Lahan Dan Perubahan Struktur Ekonomi Analisis Daya Dukung Lahan Dan Perubahan Struktur Ekonomi struktur ekonomi

Latar Belakang Skripsi 

Masalah pokok dalam pembangunan daerah adalah terletak pada penekanan terhadap tekanan-tekanan kebijakan pembangunan yang didtesisasarkan pada kekhasan daerah yang bersangkutan  (endegenous development) dengan menggunakan potensi sumberdaya manusia, kelembagaan, dan sumberdaya fisik lokal (daerah). Orientasi ini mengarahkan kepada pengambilan inisiatif-inisiatif  yang berasal dari daerah tersebut dalam proses pembangunan untuk menciptakan lapangan kerja baru dan merangsang kegiatan ekonomi (Lincolin Arsyad, 1999:108). Masa reformasi merupakan latar belakang dikeluarkannya Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah dan Undang-Undang No. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Pembiayaan Pusat dan Daerah yangdiharapkan mampu membawa nuansa dan paradigma baru dari Undang-Undang sebelumnya.

Daerah tidak lagi sebagai komponen desentralisasi administrasi dan otonomi birokrasi tetapi sudah diberi kewenangan untuk mengatur rumah tangganya sendiri, dimana Undang-Undang ini mampu memberikan warna yang jelas dan menekankan kepada prinsip-prinsip demokrasi, peran-peran masyarakat, pemerataan dan keadilan, serta memperlihatkan potensi keanekaragaman daerah (Suyatno, 2000:145).

Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, dapat dirumuskan beberapa rumusan masalah sebagai berikut :

1.Bagaimana daya dukung lahan di Kabupaten Pacitan, baik pada masa sebelum maupun selama pelaksanaan otonomi daerah?

2.Bagaimana pergeseran struktur ekonomi di Kabupaten Pacitan, baik pada masa sebelum maupun selama pelaksanaan otonomi daerah?

3.Sektor perekonomian manakah yang menjadi sektor basis di Kabupaten Pacitan, baik pada masa sebelum maupun selama pelaksanaan otonomi daerah?

4.Sektor perekonomian manakah yang menjadi sektor unggulan di Kabupaten Pacitan, baik pada masa sebelum maupun selama pelaksanaan otonomi daerah ?

Tujuan Penelitian 

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi daya dukung lahan, pergeseran struktur ekonomi, mengetahui sektor basis dan sektor unggulan baik pada masa sebelum maupun selama pelaksanaan otonomi daerah di Kabupaten Pacitan guna dijadikan acuan dasar dalam pembuatan perencanaan pembangunan yang nantinya akan diterapakan dalam suatu kebijakan pembangunan dan selanjutnya ditindaklanjuti dengan pelaksanaan program-program pembangunan.

Kesimpulan

Bab ini akan menyampaikan secara keseluruhan dari hasil analisis data yang telah dikemukkan pada bab sebelumnya. Berdasarkan serangkaian studi yang telah dipaparkan khususnya di bagian hasil analisis dan pembahasan dapat diberikan suatu kesimpulan sebagai berikut :

1.Tekanan penduduk di wilayah Kabupaten Pacitan baik pada masa sebelum maupun selama pelaksanaan otonomi daerah sudah melebihi ambang batas. Artinya jumlah penduduk di kawasan Kabupaten Pacitan telah melebihi daya tampung lahan atau dengan kata lain dayadukung lahan sudah melebihi ambang batas.

2.Berdasarkan perhitungan analisis  Shift-Share metode klasik, diketahui bahwa nilai komponen keunggulan kompetitif di Kabupaten Pacitan, baik pada masa sebelum maupun selama pelaksanaan otonomi daerah berakibat positif bagi perkembangan PDRB Kabupaten Pacitan. Sektor yang memiliki daya saing paling tinggi di Kabupaten Pacitan adalah sektor Pertanian kemudian diikuti oleh sektor Jasa-Jasa, sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran dan sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan.

3.Hasil perhitungan analisis  Location Quotients pada masa sebelum pelaksanaan otonomi daerah yaitu tahun 1997-2000, dapat diketahui sektor/subsektor ekonomi yang teridentifikasi sebagai sektor/subsektor basis di Kabupaten Pacitan, yaitu sektor Pertanian, subsektor Tanaman Bahan Makanan, subsektor Tanaman Perkebunan, subsektor Peternakan, sektor Pertambangan dan Penggalian, sektor Bangunan, sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan, dan sektor Jasa-Jasa. Sementara selama pelaksanaan otonomi daerah yaitu kurun waktu tahun 2001-2007, sektor/subsektor yang teridentifikasi sebagai sektor/subsektor basis di Kabupaten Pacitan, yaitu sektor Pertanian, subsektor Tanaman Bahan Makanan, subsektor Tanaman Perkebunan, subsektor Peternakan, sektor Pertambangan dan Penggalian, sektor Bangunan, sektor Pengangkutan dan Komunikasi, sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan, dan sektor Jasa-Jasa.

Analisis Daya Dukung Lahan Pertanian Dan Tekanan Penduduk

Skripsi Ekonomi~ Analisis Daya Dukung Lahan Pertanian Dan Tekanan Penduduk  (Studi Kasus Kabupaten Propinsi Jawa Timur Tahun 2003)

pertanian Analisis Daya Dukung Lahan Pertanian Dan Tekanan Penduduk Analisis Daya Dukung Lahan Pertanian Dan Tekanan Penduduk pertanian

Latar Belakang Skripsi 

Sumberdaya tanah merupakan sumberdaya alam yang penting untuk kelangsungan hidtesisup manusia karena sumberdaya tanah merupakan masukan yang diperlukan untuk setiap aktifitas manusia seperti pertanian, industri, pemukiman dan jalan-jalan. Penggunaan tanah yang luas adalah untuk sector pertanian yang  meliputi penggunaan untuk pertanian tanaman pangan, pertanian yang keras, untuk kehutanan maupun untuk ladang pengembalaan dan perikanan.

Tetapi untuk daerah kota khususnya, penggunaan tanah yang utama adalah untuk pemukiman dan industri dan perdagangan. Penggunaan tanah untuk rekreasi juga menempati urutan yang tinggi karena meliputi pantai, pagunungan dan danau. Pendek kata tanah merupakan sumberdaya serbaguna , tanah berguna untuk memenuhi kebutuhan kebendaan, kesehatan dan kejiwaan bahkan tanah penting untuk memelihara sumberdaya lain yaitu vegetasi dan air (Mugi Rahardjo: 1997: 8).

Rumusan Masalah

Memperhatikan kondisi dan perkembangan serta masalah yang dihadapi di propinsi Jawa Timur maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Bagaimana keadaan daya dukung lahan pertanian Kabupaten di Propinsi Jawa Timur 2003 ?
  2. Bagaimana tekanan penduduk atas lahan pertanian yang dialami Kabupaten di Propinsi Jawa Timur 2003 ?

Tujuan Penelitian 

Penelitian ini bertujuan : a) Untuk Mengetahui daya dukung  lahan pertanian pada masing-masing kabupaten di Propinsi Jawa Timur tahun 2003. b) Untuk mengetahui tekanan penduduk atas lahan pertanian semua kabupaten/kota di Propinsi Jawa Timur 2003.

Kesimpulan

Kesimpulan dalam penelitian ini meliputi diskripsi dari variabel-variabel yang diteliti dan hasil estimasi dari analisis data.

  1. Diskripsi variabel yang diteliti
  2. Untuk menghitung Tekanan penduduk variabel-variabelnya adalah :

–  Persentase petani terhadap penduduk

Wilayah Jawa Timur sebagian besar merupakan lahan pertanian, sehingga mata pencaharian sebagian penduduk Jawa Timur di sektor pertanian. Berdasarkan tabel 4.8 terlihat bahwa mata pencaharian penduduk Jawa Timur terbanyak bekerja di sektor pertanian yaitu sebesar 49,06%. –  Jumlah total penduduk tahun 2003 (P0) Berdasarkan tabel 4.6 penduduk Jawa Timur berjumlah total 36 199.000 jiwa pada tahun 2003. perhitungannya dengan menjumlahkan seluruh penduduk yang tinggal di Jawa Timur sampai akhir tahun 2003.

–   Pertumbuhan penduduk di Jawa Timur (r) Perhitungan laju pertumbuhan penduduk didasarkan pada angka rata-rata selama periode tertentu, seperti yang telah dihitung menunjuikkan bahwa laju pertumbuhan penduduk di Jawa Timur sebesar 1.47 % .

–  Luas lahan produktif (L)

Sebagian wilayah Jawa Timur masih berupa area kehutanan (tabel 4.9), sementara itu lahan sawah sebesar 25%. Luas lahan produktif merupakan lahan yang masih menghasilkan panen, dimanan luas lahan produktif ini dihitung dari penjumlahan luas lahan sawah, luas lahan tegalan dan luas lahan pekarangan.

–  Nilai Z  adalah luas lahan untuk hidup layak / ha/ orang, dimana secara keseluruhan luasnya sebesar 0,37 (untuk kriteria beras) dan 0,78 (untuk kriteria UMK)

Incoming search terms:

Pemahaman Sejarah Masa Revolusi Terhadap Sikap Nasionalisme

Skripsi Hubungan Pemahaman Sejarah Masa Revolusi Fisik Di Kalimantan Selatan Dan Persepsi Terhadap Keberagaman Budaya Di Kalimantan Selatan Dengan Sikap Nasionalisme

masa revolusi Pemahaman Sejarah Masa Revolusi Terhadap Sikap Nasionalisme Pemahaman Sejarah Masa Revolusi Terhadap Sikap Nasionalisme masa revolusi

Latar Belakang Skripsi 

Peran budaya pada era reformasi menghadapi tantangan berkaitan dengan fungsinya sebagai penyadaran “sense of belonging  dan nasionalisme” (Wiriatmadja, 2002:viii). Nilai-nilai yang terkandung dalam budaya daerah diharapkan dapat membentuk karakter masyarakat tiap daerah menjadi lebih kuat dan maju dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia, bukan justru menjadi alat perpecahan diantara sesama warga bangsa. Untuk mewujudkan hal tersebut tentunya diperlukan upaya penyadaran yang sistematis melalui dunia pendidtesisikan.

Ditinjau dari segi pendidikan,  pada hakekatnya pendidikan adalah proses pembudayaan secara terus-menerus dan sistematis yang akan membentuk kepribadian peserta didik menjadi manusia dewasa yang seutuhnya, dalam tataran ini pendidikan dan budaya adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Kebudayaan suatu masyarakat  akan mempengaruhi proses pembentukan kepribadianseorang individu dalam  pendidikan, dalam konsep ini pendidikan tidak hanya diidentifikasi sebagai kegiatan persekolahan, akan tetapi juga proses pembudayaan dalam keluarga dan masyarakat.

Rumusan Masalah

Berdasarkan  pembatasan  masalah  di  atas,  maka  penulis  merumuskan masalah sebagai berikut:

  1. Apakah  terdapat  hubungan antara  pemahaman sejarah masa revolusi fisik di Kalimantan Selatan  dengan sikap nasionalisme mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Unlam?
  2. Apakah  terdapat  hubungan  antara  persepsi terhadap keberagaman budaya dengan sikap nasionalisme mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Unlam?
  3. Apakah  terdapat  hubungan  antara  pemahaman sejarah masa revolusi fisik di Kalimantan Selatan dengan  persepsi terhadap keberagaman budaya  dengan  sikap nasionalisme mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Unlam?

Tujuan Penelitian 

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui

1) Ada tidaknya hubungan pemahaman sejarah masa revolusi fisik di Kalimantan Selatan dengan sikap Nasionalisme,

2) Ada tidaknya hubungan persepsi terhadap keberagaman budaya di Kalimantan Selatan dengan sikap Nasionalisme,

3)  Ada tidaknya hubungan pemahaman sejarah masa revolusi fisik di Kalimantan Selatan dan persepsi terhadap keberagaman budaya di Kalimantan Selatan dengan sikap Nasionalisme Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Unlam Banjarmasin.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa:

  1. Terdapat hubungan positif yang signifikan antara pemahaman sejarah masa revolusi fisik di Kalimantan Selatan dengan  sikap Nasionalisme. Mahasiswa yang memiliki pemahaman sejarah masa revolusi fisik di Kalimantan Selatan yang tinggi akan memiliki sikap nasionalisme yang baik apabila dibandingkan dengan mahasiswa yang tidak memiliki pemahaman sejarah masa revolusi fisik.
  2. Terdapat hubungan positif yang signifikan antara persepsi terhadap keberagaman budaya di Kalimantan Selatan dengan sikap nasionalisme. Mahasiswa  yang memiliki persepsi positif terhadap keberagaman budaya akan memiliki sikap nasionalisme apabila bibandingkan dengan mahasiswa yang tidak memiliki persepsi positif terhadap keberagaman budaya.
  3. Terdapat hubungan positif yang signifikan antara pemahaman sejarah masa revolusi fisik di Kalimantan Selatan dan persepsi terhadap keberagaman budaya di Kalimantan Selatan  dengan sikap nasionalisme. Mahasiswa yang memiliki pemahaman sejarah masa revolusi fisik di Kalimantan Selatan yang tinggi dan persepsi positif terhadap keberagaman budaya di Kalimantan Selatan akan memiliki sikap nasionalisme yang baik apabila dibandingkan dengan mahasiswa yang tidak memiliki pemahaman sejarah masa revolusi  fisik dan persepsi positif terhadap keberagaman budaya di Kalimantan Selatan.